KOTA SOLO, JAWA TENGAH – Lembaga Dakwah Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA) menggelar Salat Idul Adha 10 Dzulhijjah 1447 H di Lapangan Parkir Stadion Manahan, Jl. Adi Sucipto, Manahan, Kota Solo, Rabu (27/5/2026). Ribuan jamaah dari Kota Solo dan sekitarnya memadati lokasi untuk menunaikan salat Id berjamaah dan mendengarkan khutbah yang disampaikan Pimpinan Pusat MTA, Al-Ustadz Nur Kholid Syaifullah, Lc, M.Hum.
Salat dimulai pukul 06.09 WIB, diawali dengan mengumandangkan takbir, tahlil, dan tahmid. Panitia menyiapkan area terpisah untuk jamaah putra dan putri, serta petugas keamanan, kesehatan, dan parkir untuk kelancaran acara.
Dalam khutbah bertajuk “Islam Adalah Agama Kehidupan”, Ustadz Nur Kholid menegaskan bahwa Islam tidak terbatas pada ritual ibadah, tetapi merupakan sistem yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.
Ustadz Nur Kholid membuka khutbah dengan pujian kepada Allah SWT yang telah memberi nikmat iman, Islam, dan kesempatan untuk berkumpul di hari yang mulia. Ia mengingatkan bahwa Idul Adha mengabadikan kisah ketaatan Nabi Ibrahim AS, Hajar, dan Ismail AS.
“Allah SWT berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan’ [QS. Al-Baqarah: 208]. Islam bukan hanya mengatur mihrab tetapi juga pasar. Bukan hanya mengatur masjid tetapi juga rumah tangga dan kehidupan sosial. Bukan hanya mengajarkan dzikir dan ibadah, tetapi juga amanah, kejujuran, adab bermuamalah, pendidikan, ekonomi, kepemimpinan, serta keadilan dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.
Ia menyoroti kondisi umat saat ini yang kerap mempersempit Islam hanya menjadi “agama sajadah”. Padahal, jika iman benar-benar hidup di hati, ia akan tampak dalam akhlak, kejujuran, dan amanah dalam muamalah sehari-hari.
Mengutip riwayat Ali bin Abi Thalib, ia memperingatkan: “Hampir-hampir datang pada manusia suatu zaman, Islam tinggal namanya, Al-Qur’an tinggal tulisannya, masjid-masjid mereka ramai, tetapi kosong dari petunjuk, ulama mereka seburuk-buruk orang di bawah kolong langit, dari mereka keluar fitnah dan kepada mereka fitnah itu kembali.” HR. Ibnu ‘Adiy]

Iman Butuh Ujian dan Pengorbanan
Ustadz Nur Kholid mengingatkan bahwa iman tidak cukup diucapkan, tetapi harus diuji dan diperjuangkan. Ia mencontohkan perjuangan Bilal bin Rabah, Sumayyah binti Khayyat, Khabbab bin Al-Aratt, Nabi Muhammad SAW, dan Hamzah bin Abdul-Muththalib yang disiksa dan diuji demi mempertahankan tauhid.
“Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan hanya mengatakan: ‘Kami beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji?” [QS. Al-Ankabut: 2]. Iman pasti diuji, kejujuran diuji, kesabaran diuji, istiqamah diuji. Di zaman ini, orang yang menjaga agamanya sering dianggap aneh dan fanatik. Namun Rasulullah SAW bersabda: _‘Islam itu bermula asing, dan akan kembali asing sebagaimana semula asing. Maka berbahagialah bagi orang-orang yang asing,” HR. Muslim],” jelas beliau.
Ketika Hawa Nafsu Menggantikan Agama
Bagian utama khutbah menyoroti kerusakan zaman yang terjadi ketika manusia lebih mengikuti hawa nafsu dari pada petunjuk Allah. Korupsi, keadilan yang diperjualbelikan, judi online, narkoba, pergaulan bebas, fitnah di media sosial, hingga gaya hidup hedonis disebut sebagai bukti matinya rasa takut kepada Allah di hati manusia.
“Tahukah kamu orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan dibiarkan sesat oleh Allah dengan pengetahuan-Nya? Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya.” [QS. Al-Jatsiyah: 23]
Ustadz Nur Kholid menegaskan, hari ini banyak manusia tidak lagi menyembah berhala batu, tetapi tunduk pada hawa nafsunya sendiri. Standar halal-haram diukur dengan selera dan kepentingan, bukan wahyu Allah dan sunnah Rasul-Nya.

Idul Adha Momentum Kembali kepada Allah
Menutup khutbah, ia mengajak jamaah menjadikan Idul Adha sebagai momentum taubat dan perbaikan diri. Islam harus hidup dalam akhlak, ibadah, ilmu, dan perjuangan, bukan sekadar identitas di KTP atau simbol di hari besar.
“Jangan jadikan Islam hanya penghias lisan. Jadikanlah Islam sebagai jalan hidup yang menuntun langkah kita, akhlak yang menghiasi perilaku kita, dan tujuan yang mengarahkan seluruh perjalanan hidup kita menuju ridha Allah SWT. Islam akan hidup dan berdiri kokoh ketika kaum muslimin menjaga kejujuran, menegakkan amanah, memelihara shalat, menjaga keluarga dari kerusakan, mendidik anak dengan iman dan Al-Qur’an, serta berani membela kebenaran.”
Khutbah ditutup dengan doa memohon ampunan, keteguhan iman, dan perlindungan bagi keluarga serta umat Islam dari fitnah yang tampak maupun tersembunyi. (TIM MEDIA MTA)












Tinggalkan Komentar