KOTA SOLO, JAWA TENGAH – Muhammad Syamsi Ali, Lc., M.A., Ph.D., Imam Besar di Islamic Center of New York, Amerika Serikat, hadir pada pengajian umum di Gedung MTA Pusat, Jalan Ronggowarsito Nomor 111A Timuran, Banjarsari, Kota Solo, pada Ahad (24/5/2026).
Syamsi Al merupakan sosok kelahiran Bulukumba, Sulawesi Selatan tahun 1967, dikenal luas sebagai salah satu tokoh Muslim yang aktif membangun dialog antar-agama setelah peristiwa 9/11. Ia lulus S1 di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi dengan gelar Lc. di bidang Ushuluddin, kemudian melanjutkan S2 di Universitas New York, Amerika Serikat jurusan Studi Timur Tengah dan meraih gelar M.A.
Syamsi Ali juga menjadi jembatan antara komunitas Muslim Indonesia-Amerika dan Pemerintah AS, dikenal dengan gaya dakwah yang tidak konfrontatif, melainkan lebih ke dialog dan pencerahan. Ia juga sering mengangkat tema Islam Rahmatan lil ‘alamin untuk menjawab Islamofobia.
Pasca terpilihnya Zohran Mamdani, Wali Kota Muslim pertama di Kota New York, Imam Syamsi Ali terpilih menjadi anggota Tim Transisi Wali Kota New York untuk urusan imigran 2026. Atas dedikasi di bidang keilmuan dan agama, khususnya dialog antar-agama dan pembangunan harmoni sosial, Imam Syamsi Ali menerima berbagai penghargaan, salah satunya Ellis Island Medal of Honor – penghargaan sipil tertinggi bagi imigran di Amerika Serikat.
Sebagai Presiden Nusantara Foundation, Imam Syamsi Ali kini sedang mengikhtiarkan cita-cita besar, yaitu membangun pesantren pertama di Amerika Serikat. Sebuah ikhtiar untuk membumikan akar ajaran dan tradisi Islam berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah.
Di hadapan ribuan peserta pengajian, Imam Syamsi Ali mengawali isiannya dengan mengajak seluruh hadirin mengucapkan puji bersyukur karena dipilih oleh Allah SWT menjadi hamba-hamba-Nya yang sadar.

“Saya memakai kata ‘sadar’ karena sesungguhnya hidayah yang dihadirkan oleh Allah melalui para Nabi dan kitab-kitab suci adalah membawa penyadaran di dalam bahasa Inggris disebut councessness,” terangnya.
Imam Syamsi Ali mengatakan, banyak manusia yang hidup tetapi tidak sadar bahwa mereka manusia. Ada tiga bentuk kesadaran yang terpenting yang didapatkan melalui hidayah itu. “Yang pertama adalah sadar tentang Tuhan, yang kedua sadar tentang kita sebagai manusia yaitu sadar diri sendiri, dan yang ketiga sadar tentang kehidupan ini. Ketika manusia tidak sadar tentang Tuhan, maka mereka tidak akan sadar tentang dirinya sendiri.”
Al-Qur’an menjelaskan ketika manusia lupa Allah maka mereka lupa diri sendiri. Ketika manusia tidak sadar tentang Tuhan pencipta langit dan bumi segala isinya maka mereka tidak sadar siapa mereka. “Mereka masih berwajah manusia, mereka masih berbentuk manusia, mereka masih berbicara seperti manusia tetapi perilakunya tidak lagi seperti manusia karena mereka tidak sadar sebagai manusia.”
Manusia yang tidak sadar Tuhan tidak sadar manusia maka perilakunya tidak lagi perilaku manusia. Maka Al-Qur’an mengatakan mereka seperti hewan bahkan lebih sesat dari hewan itu. “Maka di Amerika Serikat di dunia Barat, mudah-mudahan tidak terjadi di Indonesia, ada anak gadis, ada ibu-ibu melahirkan, anaknya ditaruh di tempat sampah. Anjing kucing pun tidak melakukan itu. “Tapi ada manusia melakukan itu. Kenapa? Ketika manusia tidak sadar tentang dirinya sebagai manusia, maka mereka akan lupa tentang kehidupan ini. Karena mereka berambisi mereka rakus untuk memenuhi keperluan fisiknya, tetapi lupa bahwa kehidupan kita ini bukan sepiring nasi semata.”
Lebih lanjut, Imam Syamsi Ali mengatakan bahwa kesadaran tentang Tuhan, kesadaran tentang diri kita sendiri, dan kesadaran tentang kehidupan ini, dari mana kita, dimana kita sekarang dan untuk apa, dan pada akhirnya akan kemana, ini sangat esensial sekali dalam kehidupan manusia.
Banyak manusia di luar sana tidak sadar dengan tiga hal tersebut. Maka mereka hidup menjadi sebuah rutinitas, dari pagi sampai malam, malam sampai pagi, tapi tidak paham kemana sesungguhnya berjalan dalam kehidupan ini. “Dan itulah yang terjadi di dunia Barat saat ini. Dengan kemajuan material, kemajuan sains dan teknologi, mereka kehilangan kesadaran itu. Tidak tahu hadir di dunia ini dan kemana pada akhirnya.”

Mengenai perkembangan Islam di Amerika Serikat, Imam Syamsi Ali mengatakan bahwa peristiwa 11 September 2001 atau 9/11 telah menjadikan banyak orang Amerika belajar tentang Islam dan berbondong-bondong masuk Islam.
Jumlah Muslim di Amerika bahkan disebut naik 400%. Perkembangan Islam minimal 20.000 orang masuk Islam setiap tahunnya di Amerika Serikat dan ini berkembang terus menerus. “Alhandulillah Islam ini berkembang unstoppable (tak bisa dihentikan lagi). Challenge, tertantang iya. Terhalangi, iya. Dirintangi, iya. Dihalangi iya. Tetapi tidak bisa lagi disetop. Tidak bisa dihentikan perkembangan Islamnya!”
Bahkan setelah peristiwa genosida di Gaza kemarin, itu lebih naik lagi. Ada sekitar 30.000 orang setiap tahun masuk ke dalam agama ini.
Berbeda dengan sebagian orang yang menginginkan Amerika hancur, Imam Syamsi Ali justru sebaliknya. “Kenapa saya tidak ingin melihat Amerika hancur? Amerika adalah ardhullah, seperti Indonesia, seperti Saudi statusnya. Tinggal bagaimana kita membentuk ardhullah ini menjadi ardhullah yang jahat atau ardhullah yang baik.
“Maka tugas kami menjadikan Amerika sebagai Ardhullah, bumi Allah yang baik. Kalau Donald Trump mengatakan MAGA, Making America Great Again, saya memakai kata mabea-making America beautifull. Menjadikan Amerika lebih cantik, menjadikan America better lebih baik.”
Imam Syamsi Ali menegaskan, dakwah di America bertujuan menjadikan America lebih baik lagi. “Saya mengatakan dakwah di Amerika adalah salvation, penyelamat. Karena Amerika adalah negara yang masih sangat kuat.”
Pada akhir kesempatan, Imam Syamsi Ali memohon doa kepada seluruh jemaah agar tetap bisa bertahan, dijaga, dan dikuatkan oleh Allah dalam berdakwah. Ia mengatakan, saat berdakwah terdapat dua lubang, yaitu lubang tantangan dan rintangan, serta lubang godaan, sedangkan Rasulullah juga menghadapi hal yang sama. (TIM MEDIA MTA)












Tinggalkan Komentar