Apa itu 3M yaitu Mengerti arti, Membuka hati dan Menuju bakti yang artinya bahwa mengaji harus tahu atau mengerti, kemudian sadar dan tunduk dan akhirnya melakukan perubahan yang lebih baik.
Mengerti arti maksudnya mengaji bukan sekadar duduk di majlis ilmu, membaca Al-Qur’an, mendengar hadits, atau mencatat ceramah. Mengaji adalah perjalanan menemukan arah hidup—mengenal siapa Tuhan, untuk apa diciptakan, mana yang benar/salah, dan bagaimana menjalani hidup sebagai hamba Allah.
Allah katakan di dalam QS.3:164 bahwa manusia dahulunya dalam kesesatan yang nyata
لَقَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذۡ بَعَثَ فِيهِمۡ رَسُولًا مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur`ān) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. [QS.3:164]
Sebelum Rasulullah SAW diutus, masyarakat Arab sudah maju dalam bahasa, perdagangan, keberanian, dan syair. Namun mereka kehilangan arah hidup: menyembah berhala buatan sendiri, mengubur bayi perempuan hidup-hidup, fanatisme kesukuan, menindas yang lemah, serta marak perjudian, minuman keras, riba, zina, dan pertumpahan darah.
Kemudian Allah mengutus Rasul dari kalangan mereka sendiri untuk: membacakan ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa, dan mengajarkan Al-Qur’an serta hikmah.
Perubahan yang terjadi bukan sekadar pengetahuan, tapi perubahan manusia secara menyeluruh: dari penyembah berhala menjadi menyembah Allah; dari fanatisme suku menjadi persaudaraan iman; dari menumpahkan darah menjadi menghormati kehidupan; dari menindas menjadi menyayangi.
Dengan demikian mengaji tidak sebatas apa yang diketahui tetapi perubahan apa yang dijalani.
Membuka hati maksudnya dengan mengaji menjadi tahu, kemudian sadar dan tunduk terhadap kebenaran yang telah diketahui, yang akhirnya bisa merubah perilaku seseorang.
Ilmu yang dipelajari harus sampai ke hati, bukan hanya di kepala, sehingga mata hatinya tidak buta sebagaimana Allah sebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Hajj ayat 46 :
أَفَلَمۡ يَسِيرُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ فَتَكُونَ لَهُمۡ قُلُوبٌ يَعۡقِلُونَ بِهَآ أَوۡ ءَاذَانٌ يَسۡمَعُونَ بِهَاۖ فَإِنَّهَا لَا تَعۡمَى ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَلَٰكِن تَعۡمَى ٱلۡقُلُوبُ ٱلَّتِى فِى ٱلصُّدُورِ
Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada. [QS.22:46]
Berdasarkan ayat tersebut bahwa kebutaan yang paling berbahaya adalah kebutaan hati, bukan kebutaan mata. Seseorang bisa memiliki mata dan telinga yang sehat serta ilmu yang luas, tetapi jika hatinya tertutup untuk kebenaran, ia tidak akan mendapat hidayah.
Maka dari itu mengaji adalah mentadabburi ayat-ayat Al-qur’an untuk membuka hati yang terkunci atau hati yang keras, dengan cara merenungkan ayat secara mendalam: apa maksudnya, apa akibatnya bagi hidup, dan apa yang harus dilakukan, sehingga Ayat Al-Qur’an harus dijadikan cermin untuk melihat diri sendiri, bukan untuk mencari kesalahan orang lain.
Menuju Bakti Ilahi maksudnya ilmu yang sudah diketahui dan dipahami harus diamalkan, karena Ilmu tanpa amal diibaratkan pohon tak berbuah. Semakin bertambah ilmu, semestinya semakin bertambah petunjuk dan kerendahan hati (tawadhu’), bukan kesombongan.
Ilmu tidak boleh berhenti di majelis atau catatan. Ilmu harus diwujudkan dalam amal nyata, seperti menegakkan shalat, jujur, menunaikan amanah, serta mewujudkan persaudaraan melalui ta’aaruf (saling mengenal), tafaahum (saling memahami), ta’aawun (saling membantu), dan takaaful (saling peduli).
QS. Al-Baqarah ayat 44 menegaskan bahwa ilmu seharusnya membuat seseorang sibuk mengoreksi diri sendiri untuk berubah yang lebi baik, bukan sibuk menilai kesalahan orang lain.
أَتَأۡمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلۡبِرِّ وَتَنسَوۡنَ أَنفُسَكُمۡ وَأَنتُمۡ تَتۡلُونَ ٱلۡكِتَٰبَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ
Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti? [QS.2:44]
Dengan demikian ayat-ayat Al-qur’an yang dipelajari harus menjadi cermin bagi diri sendiri untuk melihat kekurangan yang ada dan melakukan perubahan atau perbaikan. Setelah mengaji, tanyakan: “Apa yang perlu aku perbaiki hari ini?” — bukan “Apa yang aku dapat hari ini?”







