KOTA SOLO, JAWA TENGAH – Puluhan ribu jemaah melaksanakan salat Idul Fitri 1 Syawal 1447 H di lapangan parkir Stadion Manahan, Kota Solo, Jawa Tengah, pada Sabtu (21/3/2026) pagi. Salat Id mulai didirikan sekitar pukul 06.00 WIB, dengan imam dan khatib Pimpinan Pusat Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA), Al Ustadz Nur Kholid Syaifullah, Lc, M.Hum.
Melalui khutbah berjudul “Saatnya Kembali kepada Allah dan Rasul-Nya,” Pimpinan Pusat MTA antara lain menyampaikan, dalam perjalanan kehidupan, manusia tidak pernah lepas dari berbagai peristiwa yang menguji iman dan kesabaran. Musibah, bencana, dan kesulitan yang datang silih berganti bukanlah sekadar peristiwa alam atau kejadian tanpa makna, melainkan bagian dari sunatullah yang sarat dengan pelajaran.

“Di balik setiap musibah, Allah SWT mengingatkan manusia agar berhenti sejenak, melakukan muhasanah, dan menilai kembali arah hidup serta perbuatan yang telah dilakukan,” jelas Pimpinan Pusat MTA.
Selain itu Al Ustadz juga mengingkatkan kepada kaum muslimin dan muslimat bahwa hari raya bukan untuk bermegah-megah, bukan untuk mempertontonkan kemewahan, dan bukan untuk melampiaskan nafsu.
“Idul Fitri hanya menjadi kemenangan jika kita keluar dari Ramadan dengan hati yang lebih takut kepada Allah, lebih juju, lebih bersih, dan lebih peduli terhadap sesama.”
Sedangkan dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa yang semakin kompleks- seperti krisis moral, ketidakadilan, korupsi, serta tekanan krisis ekonomi yang dirasakan oleh banyaknya lapisan masyarakat-seorang mukmin tidak sepantasnya menggantungkan harapan sepenuhnya kepada manusia.

Al-Quran menggambarkan lemahnya perlindungan selain Allah, seperti sarang laba-laba yang tampak ada namun sebenarnya sangat rapuh. Hal itu seperti firman Allah SWT dalam surat Al-‘Ankabut ayat 41.
“Oleh karena itu dalam menghadapi krisis apapun, termasuk krisis ekonomi, seorang mukmin harus memperkuat iman dan takwa, memperbanyak doa, dan meneguhkan tawakal kepada Allah, karena hanya kepadanya perlindungan yang paling kuat dan pertolongan yang sejati.”
Pada akhir khutbah, Pimpinan Pusat MTA mengajak seluruh jemaah menundukkan pandangan dan hati, memohon kepada Allah Yang Maha Mengabulkan doa-doa, dengan penuh kerendahan jiwa dan keikhlasan, seraya mengakui segala kelemahan dan kekhilafan diri. (TIM MEDIA MTA)












Tinggalkan Komentar