KOTA SOLO, JAWA TENGAH – Ketua Presidium MER-C Indonesia, Dr. dr. Hadiki Habib, Sp.PD, Sp.EM, kembali menghadiri pengajian umum di Gedung MTA Pusat, Jalan Ronggowarsito Nomor 111A Surakarta, Ahad (23/11/2025).
Berbicara di hadapan ribuan peserta pengajian, dr. Hadiki Habib menyampaikan tiga situasi terkini di Jalur Gaza Palestina pascagencatan senjata.
Pada awal paparannya, dr. Hadiki menyampaikan bela sungkawa atas kepergian Pimpinan MTATV, Rudi Herfianto, pada 22 Oktober lalu.
“Kami turut berduka cita atas meninggalnya Pimpinan MTATV yang sangat dekat sekali dengan MER-C, dan sudah melakukan wawancara baik di studio MTATV maupun dengan tim MER-C di Palestina,” paparnya.
Selanjutnya, dr. Hadiki menyampaikan bahwa gencatan senjata adalah suatu kesepakatan yang di dalamnya ada poin-poin tertentu yang perlu dicermati. Saat gencatan senjata, yang terjadi adalah intensitas serangan militer Israel ke jalur Gaza berkurang jauh. Padahal seharusnya serangan-serangan itu berhenti, tetapi pada kenyataannya masih ada.
“Ini dialami oleh tim kita di Gaza, EMT Ke-10 di Gaza City yang merupakan pusat pemerintahan. Di daerah itu kembali terjadi serangan-serangan sporadis dan menimbulkan banyak korban.”
Ia pun menyampaikan bahwa di Indonesia saat ini secara statistik berita-berita terkait Gaza view-nya menurun secara signifikan. Namun begitu ia mengajak semua orang untuk tetap menyuarakan situasi di Gaza, jangan sampai orang berpikir bahwa urusan Gaza selesai.

Poin kedua terkait gencatan senjata bahwa jalur-jalur komersil untuk masuk ke Gaza itu dibuka. Jalur komersil berarti jalur pengiriman makanan berupa buah, sayur, dan gandum, serta pakaian yang dibeli dalam bentuk pesanan.
Kenapa dibuka jalur bisnis? Karena untuk masuk area harus membayar kepada pihak Israel. Dengan dibukanya jalur komersil maka pasar aktif kembali dan harga bahan pokok sudah mulai turun.
Poin ketiga, dr. Hadiki menyampaikan bahwa bulan November, Desember, dan Januari adalah puncaknya musim dingin. Suhu terendah mencapai 4 derajat celcius. Meski tidak ada salju, kecepatan angin cukup kencang membawa awan, dan awan sampai daratan bawa hujan.
“Saat musim dingin yang dikhawatirkan adalah tenda. Karena tenda terkena angin bisa robek, dan terkena hujan bisa rembes. Padahal jumlah masyarakat di pengungsian naik drastis.”
Dari tiga informasi tersebut, masyarakat di Jalur Gaza bertahan dari kelaparan dengan mencari bahan makanan lebih murah di pasar sambil menunggu bantuan.
Pada akhir paparan dr Hadiki menyampaikan bahwa situasi di Palestina merupakan kejahatan kemanusiaan oleh zionis Israel. Kepedulian bangsa di dunia terhadap Palestina, terjadi di semua lini, baik atas dasar sesama bangsa Arab maupun sesama muslim.
Dukungan dari masyarakat muslim sejauh inilah yang paling kuat dan konsisten. Pihaknya berharap dukungan selama ini diubah dalam bentuk yang lebih konkret. “Apa yang dipercayakan oleh MTA kepada MER-C selama ini, maka kami akan terus sampaikan informasi valid.”

Di akhir kesempatan, dilakukan penyerahan bantuan MTA Peduli Palestina untuk rakyat Gaza sebesar Rp 4 miliar. Secara simbolis, bantuan diserahkan oleh Pimpinan Pusat MTA Al Ustadz Nur Kholid Syaifullah, Lc, M.Hum, kepada Ketua Presidium MER-C Indonesia, Dr. dr. Hadiki Habib, Sp.PD, Sp.EM.
Pimpinan Pusat MTA menyampaikan kali ini MTA baru bisa berjuang dengan harta untuk rakyat Palestina, sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.
“Hari ini Allah SWT baru izinkan kita jihad bil amwal, Insya Allah suatu saat Allah akan izinkan kita untuk jihad bil anfus,” papar Al Ustadz. (TIM MEDIA MTA)












Tinggalkan Komentar