KOTA SOLO, JAWA TENGAH – Pada hari ketiga menjabat, Wali Kota Solo, Respati Ardi, hadir langsung di gedung MTA Pusat untuk melepas keberangkatan peserta nafar Ramadan periode pertama tahun 1446 H, Rabu (5/3/2025).
Dalam sambutannya, Respati mengapresiasi kegiatan nafar Ramadan ini karena dinilai selain sebagai sarana ibadah juga untuk meningkatkan ukhuwah Islamiyah.
“Ukhuwah Islamiyah menjadi penting di tengah masyarakat kita yang serba komunikasi, serba tantangan. Sekarang, media informasi bisa langsung dibuka di HP. Sementara, hakikat manusia itu selalu mudah menyimpulkan sesuatu. Ini yang bahaya. Nah, pentingnya kita bermajlis itu untuk tempat meng-clear-kan informasi,” kata Respati.

Respati juga mengungkapkan bahwa dakwah itu tidak hanya dilakukan dengan cara konvensional, tetapi bisa juga melalui profesi masing-masing.
“Dakwah itu bisa dilakukan melalui profesi masing-masing. Dakwahnya bisa dilihat dari perilaku pekerjaan masing-masing. Kalau muslim pekerjaannya bagus, jujur, kalau di pemerintahan tidak korupsi dan amanah, ini kita dakwah di posisi masing-masing. Profesi apa pun sama di hadapan Allah, tapi kita punya nilai dakwah di profesi kita masing-masing,” paparnya.
Tafaqquh Fiddin
Menurut Pimpinan Pusat MTA, Al Ustadz Nur Kholid Syaifullah, Lc, M.Hum, tujuan utama nafar adalah untuk tafaqquh fiddin atau memperdalam ilmu agama dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Karena kita meyakini sepenuh hati apa yang menjadi ketetapan Allah dan rasul-Nya, seseorang itu tidak akan bisa bermanfaat untuk diri, keluarga, lingkungan masyarakat dan negaranya kalau tidak paham agamanya dengan baik. Paham saja tidak cukup, tentunya juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga tujuan utama dari nafar ini adalah tafaqquh fiddin, memperdalam agama, kemudian nanti dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga bermanfaat dalam kehidupan,” ungkapnya.

Al Ustadz juga mengatakan, selain memperdalam agama, tujuan dari nafar ini ialah untuk saling bersilaturahim antarwarga MTA dan masyarakat sekitar, saling tukar ilmu, saling tukar pendapat, dan tukar pikiran.
“Tentunya ini tidak bisa diikuti dengan baik kecuali dengan keikhlasan, ikhlas karena Allah. Yang namanya ikhlas itu hatinya harus bening. Hatinya harus bersih dan suci,” tambahnya.
Jumlah nafirin periode pertama tahun 1446 H ini sebanyak 6.587 orang, menempati 328 cabang dan perwakilan di Indonesia, termasuk 19 lokasi di Kalimantan dan Sumatra. (ida/isn)












Tinggalkan Komentar