Tiada Hari Tanpa Makan

freshfood-mtaMengapa kita nggak pernah bosan dengan namanya ’makan’?. Sebab perut ini selalu saja lapar. Tanpa makanan, kita akan sulit melakukan aktivitas sehari-hari, karena makanan adalah sumber energi yang dapat membantu pertumbuhan badan dan otak. Setiap makanan menpunyai gizi yang berbeda-beda dalam kandungan protein, karbohidrat, lemak, dan lain-lain. Karena makanan mempunyai peranan strategis dalam perjalanan hidup ini, maka agama mengatur batas halal-haramnya supaya bermakna ibadah sehingga bernilai dalam kehidupan akherat nanti.

Setiap makanan pasti berasal dari hewan dan tumbuhan, kecuali Sumanto....kaliiiii. Untuk makanan yang berasal dari hewan disebut makanan hewani. Sedangkan yang berasal dari tumbuhan disebut makanan nabati. Asal mulanya setiap makanan itu halal, kecuali yang dilarang. Silahkan saja mau makanan apapun prinsipnya Allah menyediakan untuk manusia, ”Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu .....” (QS Al-Baqarah: 29). Tapi kalau hidup ini hanya untuk beribadah kepada Allah jangan sekali-kali makan beberapa makanan yang dilarang oleh Allah.

Allah berfirman: ” Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah. Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ” (QS Al-Baqarah: 172-173).

Hamba Allah dimana-pun dan siapa-pun juga di dunia ini, secara prinsip sejak Nabi Adam ’alaihissalam sampai akhir jaman nanti, tetap saja tiada hari tanpa makan, hanya kebutuhannya setiap orang di dunia ini berbeda. Orang yang tinggal di daerah dingin seperti Norwegia dan Swedia memerlukan banyak makanan untuk membantu menghangatkan dirinya agar suhu tubuhnya tetap normal. Sedangkan bagi orang yang tinggal di daerah tropis, seperti Indonesia dan Malaysia, mereka justru membutuhkan sedikit makanan bila dibandingkan dengan minuman. Demikian juga perbedaan dalam selera makanan dan cara makan orang di setiap negara. Persoalannya, coba amati bagaimana selera dan cara makan penduduk negeri-negeri yang mayoritas penduduknya orang kafir. Barangkali yang mengherankan justru makanan dan minuman yang dilarang oleh Allah malah dimakan dan diminum. Sudah jadi ketetapan Allah, bahwa orang kafir itu senantiasa mengingkari ayat-ayat-Nya.

Apapun makanannya, Allah berfirman ”Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu”. (QS Al-Baqarah: 168). Dan apapun minumanya Rasulullah Sallahu’alaihi wasalam bersabda : ”Segala macam minuman yang memabukan (sedikit atau banyak), maka hal itu hukumnya haram (terlarang)”. (HR Bukhari – Muslim).

Tiada hari tanpa makan, maka jadikanlah makan itu sebagai sarana menuju hidup sehat di dunia maupun di akherat nanti. ”Jauhilah kamu makan dan minum yang berlebihan, karena yang demikian dapat merusak kesehatan tubuh, menimbulkan penyakit dan memberi kemalasan (kesulitan) ketika sholat. Dan hendaklah bagimu bersikap sedang (cukupan) karena yang demikian akan membawa kebaikan pada tubuh, dan menjauhkan dir dari sikap berlebihan”. (HR. Bukhari).

Semoga Bermanfaat

from  :  warga bandung


4 komentar pada “Tiada Hari Tanpa Makan

  1. makanlah untuk’hidup’jgn dibalik ya,bisa jadi sarang penyakit.apalagi nabi saw mengajarkan agar kita makan ketika kita lapar dan berhenti sebelum kenyang.yang gendhut”ni perlu introspeksi ya.juga sedikitlah tidur dan perbanyaklah sholat malam.sedikit makan dan perbanyak puasa(lapar).jadi langsing tu pasti menyehatkan disamping lincah dan ringan dalam bergerak.bagi yang makan berlebih…sisihkan sebagian untuk saudaramu.okey???

  2. Jadi mana yang benar antara “makan untuk hidup” atau “hidup untuk makan” … kalo saya sih, dua-duanya benar..asalkan ! dilandasi bahwa kita sedang menuju hari akhir alias dunia itu hanya maya saja 🙂

Beri Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.