Tegar dalam Badai : Jalan terjal warga MTA menemukan Islam

Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA) merupakan gerakan dakwah yang bertujuan mengajak umat Islam memahami dan mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam kehidupan sehari-hari.

Perkembangan gerakan ini di kawasan pedesaan selama kurang lebih 40 tahun tidak pernah lepas dari ketegangan dan konflik. Namun di sisi lain MTA mengalami ekspansi, perkembangan jumlah warga merupakan capaian statistik yang fenomenal dan meluas ke seluruh wilayah NKRI, sehingga banyak pejabat negara maupun tokoh nasional berkunjung ke MTA.

Buku ini mengkaji mengapa MTA bisa mengalami ekspansi, upaya-upaya apa yang dilakukan dalam aktivitas dakwahnya, bagaimana awal mula warga MTA mendapat sentuhan dakwah, konversi (perubahan) apa yang terjadi pada diri mereka, dan resistensi (penolakan)  apa yang terjadi, serta bagaimana MTA memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada warganya yang mengalami masalah terutama yang menuai konflik dengan masyarakat sekitarnya.

Hasil kajian menemukan bahwa upaya yang dilakukan dalam aktivitas dakwahnya adalah melalui berbagai kegiatan pengajian secara rutin. Upaya lainnya adalah dengan memanfaatkan berbagai media untuk berdakwah yaitu media cetak, audio, audio visual dan media seni dan kegiatan sosial. Media cetak melalui brosur, buku-buku, majalah, surat kabar dan buletin Jumah.

Media audio melalui Radio Persada FM, sedang media audio visual melalui MTATV dan internet. Radio Persada FM dan MTATV dipancarkan melalui satelit sehingga bisa diakses ke seluruh wilayah Nusantara bahkan ke luar negeri dengan menggunakan parabola. MTA juga mengembangkan seni sebagai media dakwah yaitu melalui karawitan MTA Laras, pelatihan dalang, pagelaran wayang kulit, teater, pembuatan film, dan lain-lain.

Sedangkan media kegiatan sosial yaitu melalui donor darah, membantu penanganan korban konflik SARA dan politik, penanganan korban bencana alam, kerja bakti bersama Pemda dan TNI, pembagian Paket Kemerdekaan RI, bantuan untuk Umat Islam di Palestina dan lain-lain.

Dengan upaya-upaya tersebut banyak orang merasa mendapat manfaat, mendapat hidayah dan mengalami konversi/perubahan. Perubahan yang terjadi antara lain menemukan kembali Islam, perubahan dari Non Muslim menjadi Muslim, dari harokah Non MTA menjadi MTA, dan dari MTA keluar. Kemudian muncul resistensi/penolakan dari kelompok umat Islam yang lain.

Resistensi berupa resistensi psikis (kecaman, pemboikotan, tuduhan aliran sesat, dicerai suami), resistensi hukum(SK Larangan segala bentuk kegiatan MTA), dan resistensi fisik(pemukulan, pengrusakan, pembakaran, pengusiran). Untuk menangani korban resistensi perlu rehabilitasi melalui Bimbingan dan Konseling.

TEGAR-DALAM-BADAI-MTA

Pimpinan pusat menyediakan waktu kepada warganya yang ingin berkonsultasi langsung secara pribadi maupun kelompok. Terhadap pengikut yang mengalami konflik, MTA selalu memberi perhatian, pengawasan, bimbingan dan konseling serta pendampingan secara intensif. Sebagai contoh warga MTA Blora yang diusir sejumlah 58 orang ditampung di MTA Pusat selama 2,5 tahun. Mereka diberi tempat tinggal yang layak, disediakan makanan, diberi pekerjaan, anak-anak disekolahkan, hampir setiap malam semua warga dibina rohaninya dengan pengajian. Dengan berbagai upaya dakwah dan penyelesaian dengan baik terhadap segala masalah yang muncul menyebabkan MTA mengalami ekspansi.

Judul Buku : Tegar dalam Badai : Jalan terjal warga MTA menemukan Islam
Penulis : Edi Santosa MA
ISBN : 978-602-5963-06-3
Penerbit Arti Bumi Intaran
Pembelian : Kajian Ahad Pagi atau tokomta.com