Tantangan Menjalankan Kebenaran Islam

Solopos (Selasa, 31 Juli 2012). Bangsa Indonesia yang sebentar lagi akan memperingati hari kemerdekaannya yang ke-67 perlu meningkatkan rasa syukur kepada Allah. Allah menolong para pejuang mereka yang berjihad di jalan-Nya untuk merebut kemerdekaan meskipun harus menghadapi tantangan dari para penjajah. Demi menyelamatkan aqidah umat dari syirik, Rasulullah SAW dan para shahabat harus berhadapan dengan tantangan yang datang dari suku Quraisy dan sekutunya.

Nabi Ibrahim AS harus berhadapan dengan raja Namrud, ayahandanya sendiri, dan masyarakat sekitarnya. Nabi Musa AS harus berhadapan dengan Fir'aun dan bala tentaranya. Sejarah mencatat semua orang yang memperjuangkan cita-cita luhur bagi bangsa, umat, atau masyarakatnya selalu menghadapi tantangan.

Tantangan dalam memperjuangkan kebenaran Islam merupakan satu keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Tetapi harus dihadapi dengan tegar, karena di balik tantangan ada kemenangan. Allah SWT berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ (٢)وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta". [QS Al-Ankabuut : 2-3]

Tantangan adalah bagian dari ujian keimanan yang akan membuka mata hatinya akan kualitas keimanannya sendiri. Apakah keimanannya sudah benar (shadiq) atau masih dusta (kadzib).

Kalau keimanannya benar, maka dia tidak akan takut sedikitpun menghadapi tantangan dalam bentuk apapun, Di dalam hatinya ada kesadaran penuh bahwa semua makhluk yang dihadapinya itu kecil, lemah dan nista, sedangkan yang besar, kuat dan mulia itu hanya Allah yang akan menolongnya menghadapi musuh-musuh Allah.[QS Muhammad : 7]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW memberitakan bahwa bila Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberinya cobaan. Untuk itu mestinya dia merasa bahagia dan bersyukur, karena menurut berita dari Rasulullah SAW itu, Allah mencintainya. Tidak ada orang yang lebih bahagia dari orang yang dicintai Allah.

Di sisi lain, ketika harus bershabar dalam menghadapi cobaan, Rasulullah SAW memberitakan bahwa dosa-dosanya akan diampuni. Tidak ada orang yang lebih beruntung dari orang yang diampuni dosa-dosanya. Tidak hanya itu saja, bahkan Allah berjanji untuk memberikan balasan tanpa batas kepada orang-orang yang shabar.[QS Az-Zumar : 10]

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Saudaraku, jadikanlah cobaan, ujian, dan tantangan sebagai pupuk penyubur semangat juang dalam menegakkan kebenaran Islam. Allah akan memberikan kemenangan dan kemuliaan.[QS An-Nuur : 55]

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.

Di masa damai seperti sekarang ini Islam hanya bisa ditegakkan dan disebarkan melalui jalan da'wah. Oleh karena itu semua potensi umat Islam (ilmu, harta, dan kekuatan) perlu disatukan untuk menunjang keberhasilan da'wah. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Al-jamaa'atu rahmah wal firqatu adzaab. Kebersamaan itu menghadirkan kasih sayang Allah, sedang perpecahan mengundang adzab. Mari kita adopsi prinsip "maju tak gentar membela yang benar". Siapa lagi yang akan menegakkan kebenaran Islam kalau bukan kita ummat islam ? Dengan mengharap ridla Allah, mari kita berda'wah untuk membangun al-akhlaaqul kariimah. Dengan memohon pertolongan Allah mari bersama-sama membangun khairu ummah. Semoga Allah memudahkan umat Islam untuk membangun baldatun thayyiibatun wa rabbun ghafuur, aamiin.

Al-Ustadz Drs. Ahmad Sukina
Pimpinan Pusat Majlis Tafsir Al-Qur'an (MTA)

~oO[ @ ]Oo~


Satu komentar pada “Tantangan Menjalankan Kebenaran Islam

Beri Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.