Suka Berbagi Rezeki

Banyak ahli yang memprediksi perekonomian tahun depan akan cenderung melemah. Boleh jadi mencari  rezeki semakin sulit dan biaya hidup semakin mahal. Sebagai orang beriman kita harus yakin bahwa Allah sebagai Ar-Razaq yang menyempitkan dan melapangkan rezeki untuk hamba-hamba-Nya (QS Al-Baqarah: 245)

Di dalam Alquran Surat AthThalaq ayat 2 dan 3 Allah berjanji kepada orang yang bertakwa untuk memberikan jalan keluar dari kesulitan mereka dan memberi mereka rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.

Umat Islam tidak perlu panik dalam menghadapi kesulitan ekonomi karena solusinya sudah jelas, yakni dengan meningkatkan kualitas ketakwaan kita. Takwa dalam arti menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Dalam hal ini, tentu tidak dibatasi dalam amal-amal yang bersifat individual saja, tetapi juga amal-amal yang bersifat sosial.

Dalam konteks amal yang bersifat sosial, Rasulullah Muhammad SAW memberikan gambaran bahwa hubungan antarsesama orang beriman itu bagaikan satu tubuh. Bila satu bagian tubuh sakit, bagian lain juga akan ikut merasakan dengan tidak bisa tidur dan demam. Artinya solidaritas sesama orang beriman itu sangat tinggi.

Orang beriman bisa merasakan penderitaan orang lain dengan bersimpati dan berempati kepada saudaranya yang sedang mengalami musibah. Dalam hadis yang lain dijelaskan persaudaraan sesama orang beriman itu digambarkan seperti satu bangunan yang masing-masing bagian saling menguatkan.

Artinya, semangat persaudaraan mereka kuat, mereka suka saling membantu, saling menguatkan, saling bekerja sama untuk maju bersama-sama. Tidak saling melemahkan, tidak saling merendahkan, dan tidak saling menjegal. Oleh karena itu, pada saat menghadapi kesulitan ekonomi hendaknya umat Islam bersatu, saling peduli, saling membantu, dan saling berbagi rezeki.

Ada pepatah ”bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Sudah waktunya umat Islam melepaskan sekat-sekat yang menghalangi persatuan umat. Sudah waktunya melepaskan kebanggaan akan golongan dan mengganti dengan kebanggaan atas Islam. Apa pun warna baju yang kita kenakan, kecintaan hati kita tetap satu, yakni Islam.

Meskipun berbeda latar belakang suku, golongan, budaya, pendidikan, dan ekonomi, tetapi semangat kita tetap satu: bersaudara dalam Islam. Tentu saja sesama saudara Islam kita tidak akan menelantarkan, tidak akan membiarkan orang lain berada dalam kesulitan. Allah SWT memerintahkan orang beriman untuk saling tolong menolong dalam berbuat baik dan takwa.

Allah mengajak orang beriman untuk menyatakan nikmat Allah (QS Adl-Dluha: 11). Tentu saja bukan sekadar menceritakan untuk pamer, tetapi dengan berbagi rezeki dalam rangka mensyukuri nikmat Allah. Apalagi Allah SWT juga menyatakan bahwa barang siapa bersyukur maka Allah akan menambah nikmat untuknya, tetapi bila kufur maka Allah mengancamnya dengan azab yang pedih (QS Ibrahim: 7).

Artinya, berbagi rezeki dengan saudara kita yang mengalami kesulitan ekonomi dalam rangka bersyukur kepada Allah merupakan salah satu cara untuk menghadirkan nikmat-nikmat Allah yang lain. Berbagi rezeki dalam arti memberi sedekah kepada orang lain yang membutuhkan termasuk menafkahkan harta fii sabiilillaahyang akan dibalas Allah dengan balasan berlipat ganda (QS Al-Baqarah: 245).

Balasan yang akan diterima bisa mencapai 700 kali lipat (QS Al-Baqarah: 245). Dalam banyak hadis dikisahkan bahwa sedekah juga bisa menghapus dosa. Harta yang kita nafkahkan fii sabiilillaahitulah yang menjadi harta kita yang sebenarnya, yang akan menjadi tabungan sebagai pemberat timbangan kebaikan kita di akhirat.

Rasulullah Muhammad SAW pernah menjelaskan bahwa harta manusia itu ada tiga, yakni yang dimakan hingga habis, yang dipakai hingga usang, dan yang dinafkahkan di jalan Allah. Hanya yang dinafkahkan di jalan Allah itulah yang akan kekal menjadi milik kita, sebagai tabungan di akhirat.

Oleh karena itu, sudah selayaknya setiap orang Islam menumbuhkan semangat bersedekah, semangat untuk berbagi rezeki kepada orang lain. Di satu sisi, secara pribadi akan bermanfaat untuk menumbuhkan sifat-sifat mulia, sehingga Allah akan memberikan balasan kebaikan di akhirat.

Di sisi lain, dengan berbagi rezeki secara sosial kita ikut andil dalam mengatasi kesulitan ekonomi saudara kita yang lain. Di dunia kita menjadi orang yang bermanfaat bagi orang  lain, yang menurut Rasululullah Muhammad SAW,” Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”.

Sedangkan di akhirat kita termasuk manusia yang dimuliakan Allah dengan memperoleh ampunan dan pahala yang besar, yakni surga. Semoga Allah memudahkan kita menempuh jalan untuk menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur dengan menumbuhkan sifat suka berbagi rezeki. Amin.

Al-Ustaz Ahmad Sukina
Pemimpin Pusat Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA)
MIMBAR JUMAT SOLOPOS (Jumat, 18.10.2019)

mimbar-jumat-solopos-mta-ust-ahmad-sukina-18102019-suka-berbagi-rizki