Suamiku Tak Dapat Membahagiakan

PAGI-PAGI sekali Mahmudah, istri kang Karno menemui Kang Syukro mengeluhkan perihal suaminya. Ternyata Kang Karno tidak dapat membahagiakan.

Padahal sedari awal dia mendambakan seorang suami yang dapat memberikan kebahagian lahir dan batin. Karenanya, tanpa ba bi bu dia langsung menerima saat Karno melamar dirinya. Apalagi satu point lagi usia dirinya sudah akan menyentuh angka 3. Ia sangat ingin dapat membangun bahtera rumah tangga bahagia bersama suami tercinta. Mahmudah tidak memerinci lebih detail tentang “suaminya tidak dapat membahagiakan”.

Demi mendengar pangaduan istri sahabatnya ini Syukro memulai menjelaskan pengertian bahagia. Syukro tidak “kepo” untuk mendapatkan info lebih detail dan mendalam terkait keluhan pasangan sahabatnya itu. Ia berharap dan memohon pertolongan kepada Allah semoga penjelasannya dapat menjawab persoalan yang diajukan Mahmudah.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan). Contoh bahagia dunia akhirat; hidup penuh bahagia. beruntung; berbahagia. Contoh : saya betul-betul merasa berbahagia karena dapat berada kembali di tengah-tengah keluarga.

Bahagia adalah suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan. Ada yang beranggapan arti bahagia itu relatif. Ia berubah-ubah dan berbeda antara seorang individu dengan yang lain.

Bagi yang sakit, sehat itu dirasakan bahagia. Tetapi apabila sudah sehat, kebahagiaan itu bukan pada kesehatan lagi. Sudah beralih kepada perkara yang lain lagi. Tidak ada seorangpun di dunia yang bertanggungjawab atas kebahagiaan seseorang selain dirinya.

Tidak ada orang lain/sesuatu yang bisa membantu bahagia, baik itu pasangan, sahabat, uang, hobi, jabatan, kekuasaan, ketenaran dan sebagainya. Semua itu tidak bisa membantu bahagia. Pihak yang bisa membuatmu bahagia adalah dirimu sendiri.

Jika kaya bisa bahagia, Adolf Meckle, orang terkaya di Jerman tidak akan menabrakkan badannya ke KA. Jika suami ganteng atau istri cantik bisa bikin bahagia, para seleb tidak ada yang kawin cerai. Jika ketenaran bisa bikin bahagia, Michael Jackson, penyanyi terkenal di USA tidak akan minum obat tidur hingga over dosis.

Jika kekuasaan bisa bikin bahagia, G Vargas, presiden Brazil tidak akan menembak jantungnya. Kasus-kasus ini terjadi karena ada sesuatu yang kurang, ada yang kosong, ada yang belum terpenuhi. Ada sesuatu yang belum dapat mengantarkannya kepada keadaan bahagia. Seseorang akan bahagia yakni dalam keadaan atau perasaan senang dan tenteram bebas dari segala yang menyusahkan jika ia merasa cukup.

Orang yang cukup adalah orang kaya. Merasa cukup meski tidak punya mobil, maka dia bahagia. Merasa cukup meski tidak mempunyai rumah bertingkat, maka ia bahagia. Merasa cukup makan dengan sambal, maka ia bahagia. Cukup itu berada dalam hati. Oleh karena itu kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan jiwa.

Kalau kamu baik kepada semua orang, selalu bersyukur, selalu berfikir positif, tidak mengeluh, tidak punya perasaan minder, tidak fokus mengasihi diri sendiri, tidak marasa selalu benar, tidak merasa paling benar, tidak negatif thinking, tidak punya musuh, tidak cari kambing hitam, maka kamu akan bahagia. Faktor-faktor inilah yang antara lain akan memberikan sumbangan besar sehingga seseorang tidak akan merasa sedih.

Pola pikir kitalah yang menetukan apakah kita bahagia atau tidak. Bukan faktor luar. Bahagia adalah pilihan. Bahagia tidak bisa dibeli tapi bisa dimiliki. Manusia memiliki hak penuh untuk memilih hidup bahagia atau sedih. Bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan).

Bahagia itu letaknya di dalam hati (sikap). Maksudnya bagaimana sikap atau suasana hati ketika menghadapi persoalan. Itulah sebabnya seseorang bisa saja tetap bahagia, baik dalam keadaan menerima musibah maupun menerima nikmat. Bisa saja seseorang merasa bahagia ketika menderita atau sedang ditimpa musibah. Tergantung bagaimana menyikapi atas datangnya musibah.

Dari Shuhaib, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Mengagumkan sekali urusannya orang mukmin itu. Sesungguhnya urusannya, semuanya menjadi kebaikan baginya. Dan tidak ada yang mendapatkan demikian itu seseorangpun kecuali orang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, bersyukur. +Maka yang demikian itu adalah menjadi kebaikan baginya. Dan apabila ditimpa suatu mushibah, bershabar. Maka yang demikian itu menjadi kebaikan pula baginya”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2295]

Ini adalah gambaran pribadi yang memiliki stabilitas jiwa. Tidak pernah goncang dalam situasi seperti apapun. Bersyukur saat mendapat nikmat, bershabar saat mendapatkan mushibah, mengingat Allah, mengikuti petunjuk Allah dan istiqomah adalah mahar yang harus dibayarkan untuk mendapatkan kebahagiaan.

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS Ar Rad 28).

Mengingat Allah maksudnya meninggalkan larangan-larangan Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya, mengingat kasih sayang Allah dan siksa-Nya, menyadari kehidupan di dunia adalah fana dan akherat adalah kehidupan yang sesungguhnya.

Aplikasinya dalam kehidupan adalah saat sedang sedih, tak dirasakan begitu mendalam. Karena sesedih apapun, hanya sementara. Tidak lama lagi akan berganti senang. Karena sedih hanya sementara.

Demikian juga kesenangan yang menyapanya, ditanggapi secara wajar. Ia sadar, kesenangan yang sedang bermesra dengannya tidak akan langgeng. Ia juga akan enjoy saat harus memerangi nafsu untuk bertaat — melaksanakan perintah Allah, memerangi nafsu untuk menghindari larangan-Nya demi kebahagiaan dunia akherat.

Suatu pelanggaran terhadap larangan Allah, bukan saja harus menderita di akherat. Di dunia, terkadang harus menerima akibat. Seorang pencuri/jambret, bisa dihajar massa atau nyawa melayang. Inilah balasan bagi pencuri di dunia sebelum akherat.

Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjukKu kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al Baqarah 38) Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS.Fushilat : 30)

Bahagia - tidak takut, tidak khawatir- itu ketika seseorang mengikuti petunjuk Allah. Petunjuk Allah ketika menghadapi musibah, petunjuk Allah ketika menerima nikmat, petunjuk Allah ketika berpakaian, petunjuk Allah ketika mengadakan perikatan perjanjian, petunjuk Allah ketika menerima titipan, ketika berdagang dan sebagainya. Singkatnya kalau seseorang menjalani hidup dengan mengikuti petunjuk Allah, maka dia akan bahagia. AlQuran banyak sekali membahas mengenai kebahagiaan hidup manusia.

“Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.“ (QS Az Zukruf : 35)

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan mainmain. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS Al Ankabut : 64)

Kehidupan dunia sejatinya adalah kehidupan yang sementara. Adapun perhiasan duniawi (kepemilikan perhiasan berupa emas, berlian, rumah, pakaian dll) dan kebahagiaan dunia lainnya tentu tidak ada bandingannya dengan akhirat. Kebahagiaan akherat jauh lebih baik dan lebih bagus daripada apa yang ada di dunia.

Untuk itu, Islam mendudukkan kebahagiaan duniawi bukan sebagai puncak atau tujuan tertinggi dari kehidupan manusia. Hal tersebut hanyalah sebagai perantara, sarana, alat, kendaraan agar manusia dapat optimal melaksanakan ibadah dan berbuat kebaikan di muka bumi.

Kepemilikan kendaraan merupakan sarana agar dapat lebih nyaman melaksanakan kegiatan ibadah (ngaji, dakwah dll). Kepemilikan HP agar dapat dipakai membangunkan shalat malam. IMAN adalah kekayaan yang tidak dapat dinilai dengan materi. Memang IMAN bukan segalanya. Tetapi tanpa Iman segalanya tidak berarti. Justru segalanya (kendaraan, HP, perhiasan, rumah dll) akan menjadi berarti kalau ada iman.

Dengan iman,maka segalanya akan bermakna, baik di dunia maupun akherat..
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong. (QS.Ali Imran : 91)

Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Tuhannya, (disediakan) pembalasan yang baik. Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Tuhan, sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan kekayaan itu. Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman. (QS.Ar Arad : 18)

Orang mempunyai kekayaan emas sebesar bumi, bahkan mempunyai kekayaan sebanyak dua bumi, tetapi dia tidak mempunyai iman, maka dia akan masuk neraka. Sebaliknya orang yang tidak mempunyai apa-apa dan satu satunya kekayaan yang dimiliki hanyalah iman, maka dia akan selamat.

Rasanya sulit untuk dapat dipenuhi guna mencapai kekayaan berupa emas sepenuh bumi atau yang setara dengannya. Bahkan tidak mungkin. Sebab untuk memiliki kekayaan seperti itu membutuhkan kerja sama dan bantuan orang lain. Mitra kerjasama juga membutuhkan harta. Maka tidak mungkin harta hanya dimiliki seorang guna memenuhi satu atau dua bumi.

Itu artinya, harta tidak berarti untuk menghadapi siksa Allah. Harta yang dibalut iman, walau sedikit, inilah yang bermakna dan berarti. Jangankan di akherat, di dunia saja harta itu tidak serba bisa. Seorang kaya raya tidak bisa membayar orang lain untuk mewakili dia saat sedang sakit.

Di antara trik untuk bahagia adalah menerima atau mensyukuri apa yang diberikan Allah. Atau bisa diungkapkan dengan sikap Qonaah. Qonaah terjadi ketika seseorang menyamakan keinginan (WANT) dengan perolehan (GET). Apa yang diperoleh sama dengan apa yang diinginkan. Ingin 100 mendapat 100, maka puaslah. Yang sering terjadi dalam kehidupan adalah bahwa apa yang diinginkan tidak sama dengan apa yang diperoleh.

Ingin 100, hanya mendapat 50. Maka terjadilah stress. Stress terjadi karena dia menangisi, mempersoalkan keinginannya yang tidak menjadi kenyataan. Maka turunkanlah keinginan sesuai dengan realita. Sesuai dengan kenyataan yang ada. Terimalah yang apa yang telah diberikan oleh Yang Maha Pemberi dengan penuh rasa syukur niscaya kalian akan bahagia. Bahagialah secara mandiri tanpa melibatkan dan tergantung orang lain.
(*) Penulis  :
AA Gim (Guru SMA MTA Surakarta)
Jateng POS 25/03/2018
Rubrik Syiar Islam