SKB 3 Menteri dan 12 Pernyataan Ahmadiyah

poster-ahmadiyah1Sejak Surat Keputusan Bersama (SKB) dikeluarkan pada bulan Juni tahun 2008. Masih tetap muncul penentangan, kekerasan dan kerusuhan seperti kasus kerusuhan Monas, penyerangan dan sebagainya di lokasi-lakasi ahmadiyah. Yang terparah adalah di Pandeglang di awal tahun 2011 ini.

Sebenarnya muara dari persoalan ini adalah ketidaktegasan aturan dalam SKB itu. Jika di Pakistan, Ahmadiyah dengan tegas disebut non-muslim. Wallahu A'alam, mari berdoa semoga pemerintah sebagai pengatur negara mampu memberikan solusi terbaik sehingga tidak muncul kasus kekerasan kembali. Dan para penganut Ahmadiyah bertobat kembali ke agama yang benar.

Berikut ini adalah dokumen SKB 3 Menteri dan 12 butir Pernyataan Jemaat Ahmadiyah.

Ketegasan pemerintah dalam soal Jemaat Ahmadiyah Indoneisa (JAI) di teken 3 menteri, disebut SKB (Surat Keputusan Bersama) yang ditetapkan pada Hari Senin, Tanggal 9 Juni 2008.

Keputusan Bersama Menag, Mendagri, Jaksa Agung tentang Peringatan dan Perintah kepada Penganut, Anggota dan/atau anggota pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Warga Masyarakat (nomor: 3 Tahun 2008, nomor: KEP-033/A/JA/6/2008, nomor: 199 Tahun 2008)

Kesatu:
Memberi peringatan dan memerintahkan kepada warga masyarakat untuk tidak menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum melakukan penafsiran tentang suatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan keagamaan dari agama itu yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran itu.

Kedua:
Memberi peringatan dan memerintahkan kepada penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus JAI sepanjang mengaku beragama Islam untuk menghentikan penyebaran penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran Islam, yaitu penyebaran paham yang mengakui adanya nabi dengan segala ajarannya setelah Nabi Muhammad SAW.

Ketiga:
Penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus JAI yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah sebagaimana dimaksud pada diktum kesatu dan diktum kedua dapat dikenai sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, termasuk organisasi dan badan hukumnya.

Keempat:
Memberi peringatan dan memerintahkan warga masyarakat untuk menjaga dan memelihara kerukunan umat beragama serta ketenteraman dan ketertiban kehidupan bermasyarakat dengan tidak melakukan perbuatan dan/atau tindakan melawan hukum terhadap penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus JAI.

Kelima:
Warga masyarakat yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah sebagaimana dimaksud pada diktum kesatu dan diktum keempat dapat dikenai sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Keenam:
Memerintahkan aparat pemerintah dan pemerintah daerah melakukan langkah-langkah pembinaan dalam rangka pengamanan dan pengawasan pelaksanaan Keputusan Bersama ini.

Keputusan Bersama ini berlaku sejak tanggal ditetapkan di Jakarta pada 9 Juni 2008. Menteri Agama, Jaksa Agung, Menteri Dalam Negeri

12 butir Pernyataan Jemaat Ahmadiyah

Tertanggal 14 Januari 2008, Jemaat Ahmadiyah mengeluarkan 12 butir pernyataan setelah melalui rentetan dialog dengan Departemen Agama. Pernyataan itu terkait dengan rapat Pakem yang akhirnya menetapkan bahwa negara tak melarang Jemaat Ahmadiyah.

Berikut ini 12 pernyataan itu:

  1. Kami warga Jemaat Ahmadiyah sejak semula meyakini dan mengucapkan dua kalimah syahadat sebagaimana yang diajarkan oleh Yang Mulia Nabi Muhammad Rasulullah SAW, yaitu Asyhaduanlaa-ilaaha illallahu wa asyhadu anna Muhammadar Rasullulah, artinya: aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah.
  2. Sejak semula kami warga jemaat Ahmadiyah meyakini bahwa Muhammad Rasulullah adalah Khatamun Nabiyyin (nabi penutup).
  3. Di antara keyakinan kami bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang guru, mursyid, pembawa berita dan peringatan serta pengemban mubasysyirat, pendiri dan pemimpin jemaat Ahmadiyah yang bertugas memperkuat dakwah dan syiar Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW.
  4. Untuk memperjelas bahwa kata Rasulullah dalam 10 syarat bai’at yang harus dibaca oleh setiap calon anggota jemaat Ahmadiyah bahwa yang dimaksud adalah nabi Muhammad SAW, maka kami mencantumkan kata Muhammad di depan kata Rasulullah
  5. Kami warga Ahmadiyah meyakini bahwa :
    1. tidak ada wahyu syariat setelah Al-Quranul Karim yang diturunkan kepada nabi Muhammad.
    2. Al-Quran dan sunnah nabi Muhammad SAW adalah sumber ajaran Islam yang kami pedomani.
  6. Buku Tadzkirah bukan lah kitab suci Ahmadiyah, melainkan catatan pengalaman rohami Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang dikumpulkan dan dibukukan serta diberi nama Tadzkirah oleh pengikutnya pada 1935, yakni 27 tahun setelah beliau wafat (1908).
  7. Kami warga jemaat Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan mengkafirkan orang Islam di luar Ahmadiyah, baik dengan kata maupun perbuatan.
  8. Kami warga jemaat Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan menyebut Masjid yang kami bangun dengan nama Masjid Ahmadiyah.
  9. Kami menyatakan bahwa setiap masjid yang dibangun dan dikelola oleh jemaat Ahmadiyah selalu terbuka untuk seluruh umat Islam dari golongan manapun.
  10. Kami warga jemaat Ahmadiyah sebagai muslim melakukan pencatatan perkawinan di Kantor Urusan Agama dan mendaftarkan perkara perceraian dan perkara lainnya berkenaan dengan itu ke kantor Pengadilan Agama sesuai dengan perundang-undangan.
  11. Kami warga jemaat Ahmadiyah akan terus meningkatkan silaturahim dan bekerja sama dengan seluruh kelompok/golongan umat Islam dan masyarakat dalam perkhidmatan sosial kemasyarakat untuk kemajuan Islam, bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
  12. Dengan penjelasan ini, kami pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia mengharapkan agar warga Jemaat Ahmadiyah khususnya dan umat Islam umumnya serta masyarakat Indonesia dapat memahaminya dengan semangat ukhuwah Islamiyah, serta persatuan dan kesatuan bangsa.

Jakarta, 14 Januari 2008 PB Jemaat Ahmadiyah Indonesia

Sumber : http://kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=lintas


13 komentar pada “SKB 3 Menteri dan 12 Pernyataan Ahmadiyah

  1. Memang kita harus hati hati. Saya khawatir (kalau benar Pernyataan JAI tersebut dilaksanakan di Indonesia), Jama’ah MTA dan simpatisannya akan dibuat seperti JAI (semoga hal ini tidak terjadi). Saya secara pribadi lebih cenderung pada ungkapan bahwa Nabi SAW pembawa khabar (bukan penebus dosa), bagiku agamaku bagimu agamu. Marilah kita hormati mereka sebagai manusia yang bebas berkehendak (beragama)

  2. Setahu saya ada 2 jenis Ahmadiyah, Lahore Jamaat dan Qadiani Jamaat. 12 butir statemen yg ditulis oleh PB Jamaat Ahmadiyah adalah ciri Ahmadiyah Lahore. Jemaat Qadiani mengimani Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai rasulnya.
    Kedua aliran Ahmadiyah tersebut lahir di Pakistan, Jamaat Lahore di Lahore dan Jamaat Qadiani di Rabwah. Jamaat Lahore dalam perjalanannya banyak melakukan dakwah Islam di Barat, dengan pusat terbesarnya di Inggris. Jemaat Qadiani tetap di Perancis dan terjebak pada ritus memuliakan gurunya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, cenderung mengabaikan sumber aslinya Al Quran dan Muhammad SAW.
    Kebanyakan penganut Islam di Barat belajar Islam dari Holy Quran (terjemahan Al Quran dalam Bahasa Inggris) yang ditulis leh Maulana Muhammad Ali, yang murid dari Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (penganut Ahmadiyah).
    Bisa jadi kasus Ahmadiyah adalah upaya Barat memecahbelah Islam agar tidak menjadi kekuatan yang membahayakan bagi eksistensi arogansi negara barat.
    Berhubung referensi yang saya baca ditulis tahun 1983 di California, belum ada informasi bagaimana ajaran Ahmadiyah dibawa masuk Indonesia. Mungkin ada jamaah lain yang bisa sharing di sini.
    Wallohu alam bisawab (Hasil bacaan buku N.A. Faruqui, 1983, Ahmadiyyat In The Service of Islam, USA: California)

Beri Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.