Seni Bertahan Hidup di Negeri Barat

toiletCara Beristinjak dengan Tissue. Ditengarai bahwa jutaan warga negara Indonesia yang sebagian besar diantaranya adalah muslim tinggal di luar negeri, baik di Asia Tenggara, Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Timur, Eropa, Amerika, atau bahkan di Afrika, baik untuk belajar ataupun bekerja. Sebagaimana yang kita ketahui juga, bahwa banyak warga MTA yang kini juga sedang di luar negeri. Tidak menutup kemungkinan bahwa populasi warga muslim Indonesia yang akan ke luar negeri akan semakin meningkat di waktu yang akan datang. Hal tersebut menjadikan topik yang sedang kita bahas saat ini menjadi semakin relevan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa cara hidup antara satu bangsa/negara dengan bangsa/negara lain tentu berbeda, mulai dari cara berbicara dan bersikap, cara makan-minum, cara berpakaian, hingga cara buang air. Khusus untuk yang terakhir, yakni cara buang air; kita di Indonesia terbiasa dengan kamar mandi (KM) basah, yakni air sebagai dzat pensuci. Kamar mandi tipe basah ini dicirikan dengan adanya bak air, gayung, toilet, dan tentu saja lantai yang selalu basah. Mulai dari KM di rumah pribadi, KM di terminal/stasiun, bahkan hingga KM di kapal Pelni (Pelayaran Nasional Indonesia), semuanya bertipe basah. Terkecuali mungkin gedung-gedung perkantoran mewah di Jakarta dan hotel-hotel bertaraf internasional. Sedangkan kamar mandi di kebanyakan negara di luar negeri adalah bertipe kering, yakni tissue sebagai dzat pensuci. Di dalamnya ada shower, toilet dan wastafel.

Untuk mandi, tidak ada perbedaan yang signifikan. Namun, untuk buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) terdapat perbedaan yang mencolok. Perbedaan fasilitas dan cara BAK dan BAB antara di Indonesia dan di luar negeri ini, tentu akan menjadi masalah tersendiri. Seiring dengan waktu, bisa dipastikan seseorang akan terbiasa dan tidak akan memikirkannya terlalu dalam. Namun, apakah proses pembiasaan istinjak model baru tadi sudah benar? Apakah cara-cara beristinjak yang dilakukannya dengan tissue itu sudah benar? Kenapa kita mesti peduli dengan hal sepele ini? Wow… benarkah hal ini sepele?

Rasulullah SAW dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra., ia berkata: ”Rasulullah saw. pernah melewati dua buah kuburan, lalu beliau bersabda: Ingat, sesungguhnya dua mayit ini sedang disiksa, namun bukan karena dosa besar. Yang satu disiksa karena ia dahulu suka mengadu domba, sedang yang lainnya disiksa karena tidak membersihkan dirinya dari air kencingnya….” (Shahih Muslim)

Dari hadits di atas kita bisa mengambil pelajaran bahwa berbicara tentang kesempurnaan istinjak ternyata bukanlah hal yang sepele sama sekali. Hal ini berkaitan erat dengan nasib kita di alam kubur. Salah satu faktor apakah kita akan diazab di dalam kubur ataukah akan mendapat rahmat ternyata ditentukan oleh kesempurnaan beristinjak.

Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa:“Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci dan sedekah dari penggelapan harta rampasan perang.” (HR. Jama’ah selain al-Bukhari).

Dan juga sabda Rasulullah SAW kepada Asma` tentang darah haid: “Keriklah kemudian kuceklah kemudian cucilah dengan air dan gunakanlah shalat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dari hadits di atas kita bisa mengambil pelajaran bahwa ternyata jika badan atau pakaian yang kita gunakan saat sholat tidak suci, maka sholat kita tidak sah. Jika saat beristinjak dengan tissue, ternyata tidak bersih dengan sempurna sehingga kemudian sisa air kencing menetes di celana atau sisa kotoran membekas di celana; kemudian kita wudhu dan sholat, maka sholat kita bisa dipastikan tidak sah karena pakaian kita tidak suci dari najis. Kalau setiap sholat tidak sah, lantas bagaimana kira-kira nasib kita di akhirat?

Oleh karenanya, kita perlu memberikan perhatian khusus terhadap masalah ini. Karena ternyata, hal ini sama sekali bukan hal yang sepele, namun justru sebaliknya, yakni amat penting bagi keselamatan kita di dalam kubur dan di alam akhirat kelak.

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam brosur tentang Thaharah (misalnya: brosur tanggal 01 Juni 2003), bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW telah menjelaskan tentang macam-macam alat yang bisa digunakan untuk istinjak. Dari berbagai hadits yang ada tersebut, bisa disimpulkan bahwa (selain air) syarat alat untuk beristinjak adalah kesat dan tidak licin, seperti : batu, kertas, tembikar, kayu, kain dan lain sebagainya. Dengan demikian, tissue yang memiliki sifat demikian pun memenuhi syarat untuk digunakan sebagai alat pensuci.

Nah, konsen berikutnya adalah tentang aplikasi tissue dalam beristinjak. Bagi kita yang sudah bertahun-tahun beristinjak dengan air (dan memang itu yang terbaik), kita tidak akan ”sreg” walau sebanyak apapun tissue yang dihabiskan dalam beristinjak. Dan kenyataannya, sesuai pengalaman pribadi penulis dan saudara-saudara lainnya di luar negeri, bahwa setelah beristinjak dengan tissue tersebut (katakan: setengah jam), terkadang masih ditemukan bekas air kencing di celana. Atau ketika pulang dari kantor/kampus, kemudian kita lakukan investigasi mendetil di celana bagian belakang, maka terkadang ditemukan (walaupun sedikit) bahwa celana kita telah berubah warna dan baunya. Sebagian pembaca mungkin akan berujar, ”Itu pasti nggak bersih istinjaknya…”. Well, yang jelas lebih dari tiga meter tissue telah dihabiskan untuk ini. Nah, jika kita melaksanakan sholat dengan kondisi celana seperti ini, tentu saja menjadi penyebab sholat kita tidak sah.

Setelah melalui trial and error (coba dan salah), akhirnya didapatkan suatu SOP-beristinjak, demikian kata orang teknik. SOP-beristinjak ini alias standard operating procedure beristinjak ini adalah langkah-langkah bagaimana beristinjak dengan tissue sedemikian rupa sehingga kita yakin 100% bahwa badan dan pakaian kita akhirnya suci dari najis setelah melakukan BAK atau BAB. SOP-beristinjak ini adalah sebagai berikut.

  1. Jika hendak melakukan BAK, sangat disarankan untuk menggunakan toilet (jongkok atau duduk, Gambar 1) dan bukan toliet khusus laki-laki (berdiri, Gambar 2). Hal ini karena jika menggunakan toilet khusus laki-laki, maka sangat besar peluang air kencing terciprat tak terkendali hingga mengenai celana/badan kita.

  1. Luangkan waktu yang cukup untuk BAK atau BAB. Jangan melakukannya dengan tergesa-gesa. Disarankan juga untuk melakukan BAK dan BAB paling tidak setengah jam sebelum melakukan sholat. Kenapa demikian? Nanti pembaca akan menemukan alasannya.
  2. Jika ada ruangan toilet yang sekaligus didalamnya terdapat wastafel (Gambar 3), maka pilih toilet yang demikian. Namun jika wastafel tidak menjadi satu dengan toilet, maka siapkan air secukupnya dalam wadah botol (Gambar 4) atau gelas plastik sekali pakai (Gambar 5). Orang Barat biasanya suka minum kopi saat break pagi atau sore hari. Di kantor atau di kampus, mereka biasanya menyediakan gelas plastik sekaligus kopinya secara gratis. Kita bisa gunakan gelas plastik tersebut.

wc

  1. Setelah masuk ke dalam toilet (jangan lupa doa masuk ke KM), tanggalkan semua pakaian bagian bawah dan gantungkan. Ini penting untuk menjaga agar tidak ada satu percik najis (kencing ataupun cipratan air toilet) yang mengenai pakaian kita.
  2. Silakan BAK atau BAB sampai dirasa cukup. Kalau perlu berdehem untuk mengeluarkan sisa-sisa air kencing.
  3. Setelah selesai, dengan tissue kering kita buang kotoran yang masih melekat. Lakukan beberapa kali. Tidak masalah meskipun banyak tissue yang dipakai.
  4. Setelah dirasa cukup, kita gunakan tissue yang dibasahi dengan air yang sudah kita siapkan sebelumnya (langkah 3) untuk membersihkan qubul dan dubur. Lakukan beberapa kali.
  5. Setelah dirasa cukup, kita siapkan tissue yang lumayan panjang untuk kemudian dilipat-lipat; satu ditaruh di bagian qubul dan satu lagi di bagian dubur. Lalu kita kenakan semua pakaian bagian bawah yang kita tanggalkan tadi. Selesai! Kemudian kita bisa beraktifitas seperti biasa.
  6. Paling tidak dibutuhkan waktu setengah jam agar sisa-sisa kencing yang mungkin tersendat di qubul dan juga kotoran yang masih menempel di celah-celah dubur untuk diserap secara sempurna oleh lipatan tissue tadi. Nah, sekarang pembaca telah menemukan jawaban pertanyaan pada langkah ke-2, kan?
  7. Ketika kita akan sholat, maka kita kembali ke toilet untuk melepas semua lipatan tissue yang tadi kita pasang untuk kemudian berwudhu. Biasanya, walaupun dalam jumlah sedikit, akan kita temui najis di sana. Dengan prosedur ini, kita bisa menjaga betul-betul kesucian badan dan pakaian kita dari najis.

Dengan kesadaran bahwa kesempurnaan beristinjak adalah suatu pra-syarat agar saat sholat, badan dan pakaian kita benar-benar telah suci dari najis, maka langkah-langkah di atas akan menjadi perhatian penting bagi kita. Ini bukan hal yang sepele! Ini adalah masalah yang terkait dengan siksa kubur. Ini adalah penentu sah dan tidaknya sholat kita. Namun, tentu saja artikel ini hanyalah suatu saran. Mohon maaf bila ada kekurangan, mohon diluruskan bila ada kesalahan. Wallahu’alam bi ash-showwab…

Trondheim, 5 Mei 2009

Oleh :

Abdillah Suyuthi

MTA Perwakilan Surabaya



9 komentar pada “Seni Bertahan Hidup di Negeri Barat

  1. Assalamualaikum..

    sungguh sebuah usaha yang baik dalam menjaga kebersihan diri kita sebagai umat islam.
    Namun jangan pula berlebih, karena akan mudah membawa anda kepada rasa was-was yang menyulitkan diri kita saat ingin beribadah.

    Allah swt menyampaikan melalui rasulNya saw berbagai keringanan dalam beribadah. Termasuk bersuci (thaharah), khususnya dalam hal ini istinja.

    Rasulullah saw mengajarkan untuk bersuci dengan (sedikitnya) 3 buah batu.
    Bayangkan saja kemungkinan kurang sempurnanya istinja hanya dengan 3 buah batu, baik untuk qubul maupun dubur. Tapi itulah yang disyariatkan..

    Berbagai kemudahan dalam bersuci dari najis pun dapat kita temui dari hadits-hadits nabawi, seperti cukup dengan tanah untuk mensucikan pakaian wanita yang terseret terkena najis, air setapak tangan untuk mazi yang terkena pada pakaian dan banyak lagi.

    Namun bukan berarti kita boleh berlengah-lengah dalam hal ini (istinja). karena jelas hukumannya adalah siksa kubur. Lakukan sebisanya, semampu kita. Sesuai dengan tuntunan Rasul saw yang tidak menyulitkan kita.

    Semoga ada manfaat bagi kita semua.

    Wass

  2. Ass….
    wah2…
    prtnyaan yg smpt mLekat skrg trJwb sudah…
    mang skrg udh brLaku rest room yg brFasilitasKn tisu!
    ngk cumn dNegeri orang aja,tp dKota2 besar dIndonesia juga mnGgunKn fungsi yg sama..
    tp kLau ngk nrpaksa mNdigan kita tahan2 aj…
    pasti kita akn risih juga!
    tp ini mmang jwbn yg prlu kita simpulKn…
    biasakn hidup suci!
    heeeee….
    thnks,
    http://www….

  3. siip… tidak ada yang sepele dalam agama, setuja?
    bagi pengusaha yang berminat ke luar negeri / pengen punya usaha sambingan bagi yg d luar negeri, ada peluang dong 🙂 ” jadi pengusaha toilet ‘ala indonesia ” heh ee he…

  4. usah risau dengan kehidupan yang baru karena hal yang aneh ada di depan mata,bentengi diri dengan ilmu yang mantap..insya ALLAH kita selamat.bersyukurlah karena kita muslim yang diwajibkan belajar sampai akhir nafas kita juga dalam hal thaharah.betapa dahsyatnya ilmu islam ini salah dalam berthaharah bisa membawa kita kepada siksa kubur..jadi mari luangkan waktu untuk mengaji dan jangan pernah merasa lelah,apalagi merasa pandai dan cukup ilmu.

  5. Saya agak risih kalo istinjak dengan tisu atau benda lain…mungkin belum terbiasa..dan kebetulan disini masih banyak air……tapi bukan berarti saya tidak cocok kerja di air hi3..dimanapun every where-lah 🙂

  6. Saya setuju banget dengan kang Abdillah…kita harus mau dan wajib teliti dengan masalah najis tralala ini..thanks SOP-nya..nggak harus nunggu ke luar negeri khan ??

    Ditunggu tentang milih makanan halal-haram di negeri orang 🙂

Beri Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.