Kisah Syakir yang Kehilangan Cucunya Saat Tsunami

Kota Palu - Dahsyatnya gempa bumi dan terjangan tsunami di kota Palu telah merusak ribuan bangunan di wilayah ini. Tidak hanya merusak bangunan, ribuan nyawa pun melayang akibat bencana yang terjadi pada tanggal 28 September 2018 lalu ini. Bagi masyarakat setempat, terjangan tsunami diibaratkan sebuah fenomena alam untuk membersihkan dirinya yang sudah mulai kotor.

Kelurahan Lere, kecamatan Palu Barat, kota Palu tepat berada di bibir pantai Palu. Letak yang begitu dekat tersebut seakan menjadi target utama gempuran ombak saat tsunami pertama kali datang.

Foto : Masjid Apung di Palu yang masih berdiri setelah diterjang tsunami

Tsunami datang tidak memandang siapa dan apa saja yang akan diterjangnya. Baik itu anak-anak, remaja, orangtua, pria, wanita, maupun harta benda yang selama ini mereka kumpulkan. Hanya masjid apung di wilayah itu yang masih tegak berdiri, seakan menjadi bukti kekuasaan ilahi.

Bahkan hotel Mercure yang saat itu berdiri megah menghadap pantai, seakan tidak mungkin roboh dengan hantaman apapun, ternyata goyangan gempa dan terjangan tsunami mampu meluluhlantakkan segalanya.

Foto : Syakir saat diwawancara oleh tim MTATV

Banyak yang tidak selamat dalam bencana ini, namun juga masih menyisakan orang selamat yang nantinya bisa bertutur kisah tentang betapa dahsyat gempa dan tsunami yang sedang terjadi. Salah seorang yang selamat dalam bencana itu adalah Syakir, orangtua separuh baya yang  telah kehilangan cucu tercintanya yang tidak sempat ia selamatkan. Gemuruh rasa sedih, haru, kecewa, dan putus asa sempat bercampur menjadi satu di dadanya.

Setiap kejadian pasti ada hikmahnya, demikian orang bijak selalu mengatakan. Begitupun saat tsunami datang menyapu bersih seluruh pemukiman dibibir pantai Palu, seakan-akan datangnya bencana ini untuk membersihkan alam, hati, dan pikiran kita.