Puasa dan Lebaran, Bulan Pemborosan?

malalah-respon-mta-lebaranBulan puasa dan lebaran Idul Fitri, terutama berlaku di masyarakat Indonesia adalah momentum dimana masyarakat menunjukkan perilaku konsumsi yang meningkat drastis dibandingkan dengan bulan-bulan biasanya. Komoditas paling ’laku’ saat puasa tentu saja adalah bahan makanan, baik bahan baku maupun bahan matang.

Ya, karena sepertinya sebagian besar masyarakat telah memiliki pola pikir bahwa berbuka puasa haruslah menghidangkan makanan-makanan yang wah dan nikmat, karena seharian menahan lapar dan haus. Beberapa saat menjelang lebaran, komoditas makanan akan disaingi oleh komoditas baju, parcel, makanan ringan, dan sebagainya.

Hal ini adalah sebuah fenomena yang terjadi setiap tahun pada bulan puasa dan lebaran. Fenomena yang sudah sangat biasa dan dimaklumi oleh masyarakat Indonesia. Meskipun begitu, perlu ada cara-cara untuk menyikapi keadaan ini, agar masyarakat tidak terjerumus pada pola hidup yang salah karena sifat konsumtivisme yang berlebihan.

Tentu, yang paling bijak menurut tuntunan adalah semaksimal mungkin menghemat konsumsi barang yang ada. Dalam tuntunan bahkan dijelaskan bahwa meskipun barang yang ada sangatlah melimpah, namun sikap berhemat tetaplah harus ditunjukkan.

Ditinjau dari berbagai sudut pandang, perilaku konsumsi masyarakat yang berlebihan adalah sesuatu hal perlu dihindari, karena akan memberi dampak yang buruk baik bagi individu yang bersangkutan maupun orang lain di sekitarnya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Konsumtivisme jika dibiarkan akan menimbulkan sebuah kesenjangan dan kecemburuan sosial. Akan ada jarak antara masyarakat yang mampu dan memiliki tingkat konsumsi yang tinggi dengan masyarakat yang kurang atau tidak mampu melakukan proses konsumsi, bahkan untuk kebutuhan-kebutuhan primer.

Dalam konsep Islam amatlah jelas, bahwa perilaku konsumsi seharusnya didasarkan pada tujuan awal/motif untuk memenuhi kebutuhan yang diarahkan pada sebuah kemanfaatan (maslahah). Islam mengajarkan tujuan konsumsi adalah untuk memenuhi kebutuhan jasmani maupun rohani sehingga mampu memaksimalkan fungsi kemanusiaannya sebagai hamba Allah SWT dan sebagai khalifah di muka bumi agar bahagia dunia dan akhirat (falah). Dengan demikian, tujuan utama konsumsi bukan pemaksimuman kepuasan tetapi pemaksimuman falah.

Hal ini berbanding terbalik dengan pola konsumsi yang didasarkan pada sebuah nafsu. Jauh berbeda dengan kebutuhan yang diarahkan pada kemaslahatan, jika nafsu menjadi motif untuk mengonsumsi, maka akan timbul perilaku manusia untuk memperoleh dengan cepat, dan juga biasanya dengan cepat membuangnya.

Nah, selanjutnya, mari kita kembalikan pada diri kita sendiri. Yang mampu mengukur tingkat kebutuhan kita adalah diri kita sendiri. Maka, yang mampu membedakan antara kebutuhan dan nafsu dalam melakukan kegiatan konsumsi adalah diri kita sendiri.

Atau mudahnya, ketika kita hendak membeli sebuah barang, kita sendiri yang tahu, apakah hal ini sebagai kebutuhan yang membawa manfaat atau hanya sebuah keinginan nafsu yang jika dituruti tidak memberi manfaat yang sesuai dengan nilai barang itu. Maka, diri kita sendiri yang mampu menciptakan hidup hemat sesuai dengan ajaran dan tuntunan Islam.
iklan-majalah-responSelengkapnya baca Majalah RESPON edisi 243 / XXIV 20 Agustus – 20 September 2010.
Info pemasaran : (0271) 2068062 / 085228715459.
Jazakumullah khairan katsiran.

Sumber : FB Group "Majalah Respon MTA"


7 komentar pada “Puasa dan Lebaran, Bulan Pemborosan?

  1. Tidak masalah kita makan yang enak2, asalkan tidak hutang. . . dan yang terpenting jangan lupa bershodakoh, kita udah hemat tapi shodakoh tidak dijalankan. itu hanya alasan menutupi diri kita dari kata pelit. kalo kita punya tidak masalah bulan ramadhan dan idul fitri menjadi hari dimana kita merayakan hari kemenangan orang islam. allahuakbar.

  2. dengan segala hormat, tanpa bermaksud merendahkan orang lain,saya pikir judulnya kurang pas dibaca bagi masyarakat yang berpola-pikir rendah yang hanya membaca judul tapi tidak membaca isi dari tulisan, jadinya malah ajakan kebaikan tidak sampai, atau mungkin juga yang baca sudah begitu laparnya seharian,jadi tidak suka di ganggu kalo lagi makan enak :))

    Isi tulisannya bagus, mengajak kita introspeksi ibadah kita selama ini, dan bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu adalah jelek, dan Allah tidak suka dengan yang berlebihan, termasuk dalam hal menu sahur dan buka puasa yang umumnya kelewat banyak, puasa seharusnya menjadikan kita lebih berempati pada sesama, dan menerapkan nilai2 puasa di bulan selain puasa.

  3. pandangan sperti itu adalah pandangan subyektif. penulis tidak mengadakan surve secara objektif, mungkin data yang didapat hanya data dari sebagian golongan. banyak yang juga “membuang” hartanya di jalan Allah. jadi,  kaji lebih dalam, jangan sampai salah kaji

  4. hanya orang2 yang tdk memahami nilai dan tujuan dari perintah puasa yang akan berbuat spt itu, u/ itu mari mulai sekarang mulailah belajar berpuasa dengan benar melalui puasa2 sunah (jangan hanya yang wajib saja), pasti sifat2 konsumtive spt itu akan hilang.

Beri Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.