Puasa dan Dimensi Kesehatan Rohani dan Jasmani

" alt="" width="285" height="212" />Harian SOLOPOS (Selasa, 24 Juli 2012), Ramadlan adalah bulan tarbiyah bagi umat Islam yang penuh mau'idhoh hasanah dan hikmah. Samudera mau'idhoh hasanah dan hikmah yang tidak akan kering meskipun dikuras oleh umat Islam sepanjang jaman.

Betapa beruntungnya umat Islam yang mengarungi samudera Ramadlan dengan iman dan ihtisab kemudian berhasil mendarat di pelabuhan taqwa. Karena Allah sendiri berfirman dalam QS Al-Hujuraat : 13, Innaa akramakum 'indallaahi atqaakum" (Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang bertaqwa).

Adalah hati yang ada di dalam dada inilah yang mendapatkan tarbiyah selama sebulan penuh agar menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang hamba yang mestinya amat sangat merasa bahagia ketika Tuhannya menawarkan posisi tertinggi bagi dirinya untuk menjadi orang yang bertaqwa dengan melaksanakan ibadah puasa selama bulan Ramadlan yang pada saatnya kelak dibalas dengan surga.

Di dunia menjadi orang yang bertaqwa dan di akhirat mendapatkan surga. Satu keuntungan yang luar biasa, tidak bisa dibandingkan dengan keuntungan duniawi dalam bentuk apapun.

Ada orang yang mengatakan bahwa puasa dapat mengurangi kadar gula darah. Puasa dapat mengurangi kandungan kolesterol. Puasa mengistirahatkan indera pencernaan. Maka berpuasalah kalian agar kalian sehat.

Saudaraku, kalimat tersebut perlu ditanggapi dengan bijak, karena bisa membelokkan arah puasa kita dari menjadi "orang yang bertaqwa" menjadi "orang yang sehat (jasmani)". Memang ada hadits yang berbunyi, "Shuumuu tashihhuu" yang diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitab Al-Ausath dan Abu Na'im dalam Aththibb Annabawiy dari Abu Hurairah, tetapi ternyata menurut Al-Albani sanadnya dla'if, bahkan menurut Ashshaghani maudlu'.

Namun tidak berarti bahwa orang yang berpuasa tidak akan sehat. Bahkan sebaliknya, sehatnya jasmani itu tergantung pada sehatnya rohani. Dalam rohani yang sehat ada dorongan untuk makan minum yang halal dan thayyib dan menghindari makanan dan minuman yang merusak kesehatannya.

Dalam rohani yang sehat ada dorongan untuk menjaga stamina dan vitalitas untuk mendukungnya beraktivitas baik ibadah maupun muamalah. Maka orang yang sehat rohaninya tidak akan malas berolah raga untuk menjaga kebugaran dan kesehatannya. Dalam rohani yang sehat ada kekuatan penyeimbang yang mencegah dirinya untuk beraktivitas di luar kemampuan. Kekuatan penyeimbang untuk beristirahat manakala diperlukan. Orang-orang yang berpuasa dan puasanya berbuah taqwa, insya Allah jasmani dan rohaninya akan sehat.

Saudaraku, senantiasalah fokus dalam menanggapi seluruh amal ibadah Ramadlan untuk menjadikan diri kita orang yang bertaqwa. Teladan Rasulullah SAW dalam memanfaatkan waktu untuk beribadah sejak bangun tidur sampai tidur lagi mendidik umat untuk selalu merasa dekat dengan Allah dan menumbuhkan kedisiplinan.

Ketulusan untuk tidak makan minum meski dalam keadaan sendiri mendidik diri agar selalu merasa diawasi Allah dan menumbuhkan kejujuran. Kedermawanan Rasulullah SAW yang seperti angin yang berhembus, mendidik ummat menjadi insan yang dermawan, peduli terhadap sesama dan tidak mementingkan dirinya sendiri.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رض قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ص اَجْوَدَ النَّاسِ بِاْلخَيْرِ وَ كَانَ اَجْوَدُ مَا يَكُوْنُ فِى رَمَضَانَ حِيْنَ يِلْقَاهُ جِبْرِيْلُ وَ كَانَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِى رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِيُّ ص اْلقُرْآنَ، فَاِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ اَجْوَدَ بِاْلخَيْرِ مِنَ الرّيْحِ اْلمُرْسَلَةِ

Dari Ibnu ‘Abbas RA, ia berkata, “Adalah Nabi SAW orang yang paling dermawan diantara manusia pada kebaikan. Dan beliau paling pemurah pada bulan Ramadlan, ketika Jibril bertemu beliau, dan Jibril AS bertemu beliau pada tiap malam di bulan Ramadlan hingga selesai. Nabi SAW menyimakkan Al-Qur’an kepadanya. Maka apabila Jibril AS menemui beliau, beliau adalah sangat dermawanan dalam kebaikan, lebih murah dari pada angin yang terlepas”. [HR. Bukhari juz 2, hal. 228]

Merasa dekat dengan Allah dan merasa diawasi adalah pilar hablumminallah, sedangkan kedermawanan dan kepedulian terhadap sesama adalah pilar hablumminannas. Apalagi yang akan kita cari bila hablumminallah dan hablumminannas sudah kita dapatkan melalui amal ibadah dan mua'amalah yang dituntunkan Rasulullah SAW selama bulan Ramadlan ? Alhamdulillah.

***

Al-Ustadz Drs.Ahmad Sukina

Pimpinan Pusat Majlis Tafsir Al-Qur'an (MTA)