Pengajian Bersama Akhwat MTA di Bandung

pengajian-akhwatAlhamdulillah, pada hari Ahad 31 Mei 2009, MTA Perwakilan Jakarta, Cabang Karawang, Tangerang, Cilegon dan Bandung telah melaksanakan Pengajian Bersama Akhwat MTA yang berlangsung di Bandung dengan tema PENDIDIKAN KELUARGA DALAM PERSPEKTIF ISLAM. Acara  dilaksanakan di Kampus II Ciburial Universitas Islam Bandung (UNISBA) dihadiri oleh sekitar 420 warga putri. Lokasi yang berada di gunung dengan pemandangan kota Bandung dari atas, cuaca dingin serta jauh dari keramaian membuat acara berlangsung khidmat.

Acara berlangsung dari  pukul 9.30 sampai 16.00, dibuka dengan qira'ah dan sharing tentang kegiatan warga putri dari masing-masing perwakilan/cabang. Sharing/berbagi pengalaman tersebut penting untuk mengungkapkan persoalan yang dihadapi atau rencana-rencana kegiatan yang akan dilaksanakan. Acara puncak diisi oleh Ibu Rahayu Utami Sari yang menjelaskan tentang indahnya mengaji, pendidikan anak dan komunikasi dalam keluarga. Sedangkan Ibu Sapta Hariningsih menerangkan pentingnya merebut hati remaja.

Menurut Ibu Rahayu Utami Sari "indahnya mengaji" akan dapat dirasakan seseorang apabila disadari bahwa: mengaji adalah fardhu 'ain bagi setiap orang (QS 39;41) dan serius dipahami (QS 38;29). Akbatnya orang yang mengaji tahu hak dan kewajiban hidup (QS 14;1),  sehat hatinya sebagai orang beriman (QS 10;57), dan mendapatkan rahmat serta pelajaran (QS 29;51).

Dalam menyinggung tema "pendidikan anak", ibu Utami merujuk pada QS Luqman 13-19, yaitu pelajaran yang diberikan Lukman kepada anaknya, untuk tidak mensekutukan Allah; berbuat baik kepada ibu-bapak; jika keduanya mengajak untuk syirik, tidak boleh diikuti tetapi tetap bergaul dengan keduanya secara baik di dunia; mendirikan shalat; menyeru untuk berbuat baik dan mencegah kemunkaran; sabar terhadap apa yang menimpa; larangan memalingkan muka dan berjalan di muka bumi dengan angkuh; melunakkan suara dan sederhana dalam berjalan. Selain itu, menurut hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, mendidik anak untuk shalat dimulai pada umur 7 tahun dan boleh dipukul ketika umur 10 tahun. Beliau menjelaskan bahwa memukul anak tidak boleh pada bagian kepala atau muka, sebaiknya pada bagian pantat atau tangan yaitu bagian yang tidak akan meninggalkan bekas.

Sedangkan  dalam menjelaskan masalah "komunikasi keluarga", Ibu Utami menekankan terutama komunikasi antara suami dan istri  dalam mencapai tujuan penikahan (QS 30;21), memahami hak dan kewajiban masing-masing, serta ketaatan istri kepada suami sebagai salah satu jalan menuju surga.

Dalam membahas masalah "merebut hati remaja", Ibu Sapta Hariningsih menyampaikan permasalahan yang dihadapi anak yang baru menginjak remaja. Perubahan pada fisik dan psikis, sering membuat anak-anak remaja (ABG) kebingungan, kondisinya labil, dan dia membutuhkan tempat untuk bisa berbagi. Tetapi di sisi lain, terkadang orang tua tidak memahami situasi ini, sehingga membuat orang tua merasa bahwa anaknya mulai "nakal" karena tidak lagi menurut pada nasihat orang tua. Menghadapi keadaan seperti ini, menurut Ibu Sapta Hariningsih yang seorang psikolog itu, dianjurkan agar orang tua bisa menjadi sahabat, tempat curhat bagi anak-anaknya, agar anak-anaknya tidak salah alamat untuk curhat kepada orang lain. Yang perlu ditekankan adalah perlakuan orang tua yang tidak boleh bersikap keras dan berhati kasar, serta "mau berubah" untuk menjadi lebih baik agar mereka tidak semakin menjauh. Beliau merujuk pada QS 3;159, yakni sikap Rasulullah saw yang lembut dalam berdakwah kepada umatnya.

- Ibu Rum-
MTA Bandung


5 komentar pada “Pengajian Bersama Akhwat MTA di Bandung

  1. setiap diri adalah dai….mari siarkan dakwah ini di sekitar kita….apapun potensi kita yang allah titipkan….maksimalkan untuk menggapai keridhloanNYA..terus tempa diri kita untuk tidak lelah dalam mencari ilmu….semakin banyak yang kita tahu….ternyata semakin banyak pula yang tidak kita ketahui…..dan teruslah bersemangat baja dan tegar dalam menikmati rintangan yang ada…yakinlah setelah kesulitan itu ada kemudahan.

  2. acara pengajian akhwat se daerah Jabotabek + bandung benar -benar membuat para ibu dan calon ibu kami sangat berkesan . Makanya nanti apabila ada acara seperti tersebut lagi , istri saya gak boleh ketinggalan. walaupun kemarin sampai rumah jam 21.00 malam, Alhamdulillah tetap aja enjoy.

  3. setiap kamu adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya.iman adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya.seorang ayah adalah pemimpin dalam keluargannya, dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. ibu adalah pemimpin dalam keluarga suaminya, dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. budak/pelayan adalah pemimpin bagi harta majikannya, dan akan ditanya tentang kepemimpinannya, setiap kamu adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya.

  4. Alhamdulillah,……Bila ayah, Ibu, anak, pembantu, sopir…. semua setiap hari yang laki-laki sholat di masjid dan mendengar tausiyah (kalau ada), rajin membaca Al-Qur’an dan artinya, suka berpuasa sunnah menurut tuntunan Rasulullah, .. suka berinfaq-zakat dan shodaqoh, suka mendatangi pengajian Al-Qur’an dan Sunnah…, suka bergaul dengan orang-orang sholih….,suka membaca apa saja yang baik-baik dan menyapu bersih segala sumber-sumber berita intertainment negatif….. dari lingkungan keluarga dan dirinya, ….. pastilah insyaAllah semua akan jadi baik…ik ….baiiiiik, ….bijak..jak bijak,…..karena selalu dalam jalan Allah dan Rasulnya…, virus zaman hari ini adalah banjirnya informasi yang merusak… hati..ti hati…. yang sholih…., semoga umat islam menyadari..iiiii,

  5. Sebuah terobosan baru! Alhamdulillah….di lembaga kita sudah mulai melirik pentingnya pendidikan keluarga. Karena tidak bisa dipungkiri, betapa merananya orang tua di saat senja karena anak-anaknya tidak berbakti pada keduanya. Na’udzubillahi min dzalik.
    Pengajian atau lebih spesifik tarbiyah di keluarga perlu lebih digalakkan lagi, sehingga pengajian rutin pekanan di cabang2 tidak hanya membahas dalil2 saja, tetapi juga masuk pada tataran praktis mengimplementasikan ilmu dalam pendidikan keluarga. Mendidik keluarga merupakan seni tersendiri, selain ada nilai ibadah di dalamnya dalam bingkai Islam.
    Banyak buku di pasaran yang memberi guidance pendidikan keluarga. Namun banyaknya buku tersebut menuntut orang tua harus lebih jeli memilih karena buku2 itu berasal dari pelbagai macam aliran, sekuler sampai religius. Untuk itulah perlunya bimbingan atau mentoring dari para sarjana psikologi/tarbiyah/pendidikan di MTA ini untuk mengajarkan ‘how to educate our family’. Rasanya perlu juga diedarkan VCD yang berisi pendidikan keluarga disamping VCD pengajian ahad pagi yang ada saat ini.
    Terlepas dari kehendak Allah, Kan’an adalah contoh anak yang gagal dididik. Ini bukan menyudutkan nabi Nuh. Toh di jaman ‘mmodern’ ini pun banyak anak ulama/kiai yang salah asuhan. Apakah kita juga ingin keluarga kita berantakan?
    Mari kita jaga agar keluarga kita terhindar dari api neraka, neraka dunia, lebih-lebih neraka akhirat.

Beri Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.