Pamer di Media Sosial

pamer-media-sosial

Jagat raya yang amat luas yang seolah-olah tak terbatas ini ciptaan Allah. Allah juga yang memiliki, memelihara, dan mengatur jagat raya beserta seluruh isinya,termasuk manusia.  Allah yang meminjami manusia tubuh dan rupa yang indah, akal yang cerdik dan pintar, dan nyawa yang menjadikan tubuh hidup dan beraktivitas.

Allah juga menyediakan makan dan minum, menjaga kesehatan dan kesejahteraan manusia, menjamin keamanan dan kenyamanan, memanjangkan dan memendekkan usia, melapangkan dan menyempitkan rezeki mereka.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Teknologi informasi dan komunikasi saat ini maju dengan pesat.  Smartphone dengan berbagai aplikasi media sosial telah merasuk masuk ke dalam jantung kehidupan anak-anak muda zaman now, seolah-olah tak terbendung. Sebagian kaum muda pandai memanfaatkan secara positif untuk menebarkan benih-benih kebaikan. Mereka memanfaatkan media sosial untuk berbagi ilmu dan keterampilan, menjadikan sebagai sarana untuk mencari rezeki Allah dan berdakwah.

Banyak pula yang memanfaatkan media sosial secara negatif untuk menebarkan benih-benih kejahatan. Mereka memanfaatkan media sosial untuk menebarkan berita bohong alias hoaks, kebencian dan permusuhan, dan kerusakan moral.

Tentu saja orang yang beruntung adalah orang yang memanfaatkan smartphonedan media sosial untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan orang yang rugi adalah orang yang memanfaatkan smartphonedan media sosial untuk memuaskan hawa nafsu sehingga semakin jauh dari Allah.

Seharusnya sebagai hamba Allah orang-orang beriman menundukkan hawa nafsu kepada Allah, memanfaatkan smartphonedan media sosial untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Kenyataan menunjukkan sebaliknya. Budaya selfie(swafoto) atau mengambil sendiri foto diri seolah-olah tak terbendung di kalangan remaja. Mereka suka berburu tempat-tempat yang unik,aneh, dan indah untuk selfie dan memamerkan ke seluruh dunia melalui media sosial.

Pamer atau berharap pujian dari orang lain itu termasuk syirkul-asghar (syirik kecil). Meskipun kecil, pamer itu tetap termasuk syirik yang akan menghapus seluruh amal. Rasulullah Muhammad SAW telah memberitakan tiga golongan orang yang masuk neraka. Pada kelompok pertama karena mereka berharap pujian dari manusia atas amal-amal yang telah mereka lakukan.

Yang pertama adalah orang yang mati di medan perang. Semua orang mengira dia masuk surga karena mati syahid. Ternyata Allah mengungkap dia masuk neraka karena berharap pujian dari manusia sebagai seorang pemberani. Pujian dari manusia itu telah dia dapatkan maka dia dimasukkan ke dalam neraka.

Yang kedua adalah orang yang berilmu. Dia banyak mengajar ilmu ke mana-mana. Ternyata dia juga masuk neraka karena berharap pujian dari manusia sebagai orang yang pandai. Sedangkan yang ketiga adalah orang yang kaya dan banyak memanfaatkan harta untuk jalan Allah. Dia juga masuk neraka karena berharap pujian manusia sebagai orang yang dermawan. Pujian itu sudah dia dapatkan dari manusia, maka Allah memasukkan dia ke dalam neraka. Na’udzubillah.

Saudaraku, hidup ini hanya sebentar. Hakikatnya kita semua sedang berjalan menuju kematian. Cepat atau lambat kita pasti sampai ke sana. Dibalik kematian ada kehidupan akhirat yang kekal. Orang beriman dan beramal saleh akan masuk surga dengan kebahagiaan yang kekal selama-lamanya.

Orang kafir dan munafik akan masuk neraka dengan siksa yang kekal selama-lamanya. Oleh karena itu, mari kita pahami dan hayati firman Allah yang kita lafazkan 17 kali dalam sehari dalam salat, yakni alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Hanya Allah yang berhak dipuji. Harta, pangkat, jabatan, kepandaian, kehebatan kita semua itu milik Allah. Tanpa Allah kita bukan siapa- siapa. Bukan manusia yang berhak dipuji, tetapi Allah. Kalau ada orang yang memuji kita, Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan kepada kita untuk menaburkan debu ke wajahnya. Sekali lagi, segala puji hanya layak disampaikan kepada Allah, bukan kepada kita sebagai makhluk yang lemah ini. Kalau ada di antara kita yang lebih hebat daripada yang lain, Allah juga yang menjadikan hebat.

Segala puji hanya layak dipersembahkan untuk Allàh. Oleh karena itu, mari kita lebih bijak dalam selfie dan bermedia sosial. Bukan karena berharap pujian manusia, tetapi karena Allah saja. Semoga Allah limpahkan kepada kita semua hidayah, inayah, dan taufi k-Nya, sehingga kita tetap lurus beramal karena Allah. Amin

 

mimbar-jumat-solopos-mta-ust-ahmad-sukina-09082019-pamer-di-media-sosial