Nikmat Akal, Andai Engkau Sadari

akal-mtaDan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala". (QS 67: 10). Maksudnya ucapan dan perbuatannya tidak mencelakakan orang lain, bahkan dapat mendatangkan kesejahteraan bagi mereka. Orang yang seperti inilah yang akan menjadi rahmatan lil-alamin.

Ketika malaikat menunjukkan kekurang-setujuannya kepada Allah akan rencana-Nya untuk menciptakan manusia dengan cara berdialog Allah menunjukkan kehebatan manusia dibanding malaikat (QS 2: 31-33). Dengan berbekal akal manusia dapat mengembangkan diri dan lingkungannya menjadi sangat maju, melebihi apa yang bisa dibayangkan oleh siapapun.

Dengan berkembangnya teknologi informasi terutama dalam bidang broadcasting (penyiaran) dan multimedia pertandingan piala dunia di Afrika Selatan nanti dalam waktu yang sama bisa disaksikan oleh manusia dari seluruh penjuru dunia. Begitu pula dalam bidang teknologi angkasa luar, Amerika Serikat telah berhasil mengirimkan beberapa pesawat tanpa awak ke planet Mars. Semuanya tidak terlepas dari upaya mensyukuri nikmat akal. Sayang yang melenjit maju dalam bindang itu saat ini adalah orang-orang non muslim. Dalam hal ini merekalah "yang bersyukur", sedangkan kita orang Islam termasuk kurang bersyukur.

Padahal sebenarnya jauh hari Allah telah memberi isyarat kepada bahwa mereka dapat menembus langit dan bumi dengan sulthan/kekuatan (QS 55: 33). Mestinya orang Islam faham dan maju mengembangkan ilmu yang terkait dengan angkasa luar. Seperti roket pedorong pesawat antariksa, sistem navigasi, sistem komunikasi, sistem penginderaan jarak jauh dan sejenisnya yang terintegrasi. Semua itu hanya bisa dicapai kalau manusia mau mensyukuri nikmat akal. Dalam kaitannya dengan pengembangan teknologi ini nampaknya orang kafir lebih bersyukur terhadap nikmat akal daripada orang-orang yang mengaku dirinya Islam. Menapa? Umat Islam terbelenggu oleh pengamalan ritual peribadatan yang diajarkan oleh ulama-ulama mereka yang ternyata sebagian besar adalah bid'ah. Bagaimana mungkin orang yang suka beramal bid'ah dalam ibadah akan mendapat pertolongan Allah?

Pengalaman di masa lampau dari nenek moyang kita jangan sampai terulang. Jagat raya ini sangat luas seolah tidak terbatas, jangan sampai semuanya dikuasai oleh orang kafir, sehingga kita hanya bisa menjadi penonton saja, yang puas bersorak sorai di tepi lapangan. Bayangkan bila Amerika Serikat menguasai planet Mars, lalu mengembangkannya menjadi planet yang dapat dihuni oleh manusia. Suatu saat ketika di bumi terjangkit pandemi penyakit yang mematikan dan tidak bisa diatasi. Mereka akan bermigrasi ke Mars (seperti kisah Nabi Nuh) dengan pesawat angkasa luar dan kita orang Islam akan dibiarkan musnah di muka bumi tenggelam dalam wabah penyakit yang mematikan. Ceritanya akan berbeda kalau kita juga menguasai teknologi yang sama atau bahkan lebih maju dari mereka.

Jauh hari Allah telah mengingatkan kita untuk mensyukuri nikmat penglihatan, pendengaran dan hati (akal) dengan meminta pertanggung jawaban atas nikmat-nikmat itu (QS 17:36).  Bahkan Allah mengancam untuk memenuhi neraka jahannam dengan jin dan manusia yang diberi pendengaran, penglihatan dan hati tetapi tidak mau memanfaatkannya dengan sebai-baiknya (QS 7: 179). Sesungguhnya apa yang kita dengar dan kita lihat itu kita kirim ke dalam prosesor untuk diproses sebaik-baiknya dalam sebuah instrumen yang namanya akal atau hati yang berfungsi untuk memahami ayat-ayat Allah. Setelah diproses di dalam hati akan mengalir sebagai output dalam bentuk perkataan dan perbuatan.

Kalau input yang masuk lewat pendengaran dan penglihatan kualitasnya baik, prosesornya juga berjalan dengan baik, maka kita bisa berharap output-nyapun akan berkualitas baik. Rasulullah saw bersabda: Al-muslimu man salimalmuslimuna min lisanihi wa yadihi (Orang islam itu adalah orang yang orang islam yang lain selamat dari lidahnya dan tangannya).  Andai generasi-generasi pendahulu kita mensyukuri nikmat akal dengan cara seperti ini, menguasai ilmu-ilmu dunia dan akherat secara paralel, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari dengan orientasi ukhrawi, maka tentulah Allah tidak memberikan cobaan kepada kita dengan menjadikan kita sebagai bangsa yang terjajah. Secara yuridis formal bangsa kita adalah bangsa yang merdeka, akan tetapi secara individual maupun sosial kita belum merdeka dari penjajahan taghut dalam berbagai bentuk seperti harta, tahta, dan wanita. Ketergantungan kita kepada ketiganya masih sangat kental, sehingga seolah-olah tidak bisa hidup tanpa ketiganya. Padahal yang mengatur semuanya itu adalah Allah. Fa-ainallah?

Sudah tiba waktunya bagi kita semua untuk melepaskan diri dari dikotomi ilmu agama dan ilmu dunia. Semuanya itu adalah ilmu Allah diperuntukkan bagi siapa saja yang mau mengambilnya. Maka mari kita berusaha mengambil sebanyak-banyaknya.

Rasulullah saw berpesan: "Barangsiapa menghendaki dunia, maka wajib atasnya ilmu. Barangsiapa menghendaki akherat maka wajib atasnya ilmu. Barang siapa yang menghendaki keduanya maka wajib atasnya ilmu". Dan instrumen untuk menangkap ilmu itu adalah pendengaran, penglihatan, dan akal. Maka mari kita syukuri nikmat akal tersebut dengan benar, sehingga umat Islam di masa mendatang akan memperoleh barakahnya dalam bentuk kemenangan dunia dan akherat. Jangan sampai di kemudian hari kita menyesal seperti penyesalan orang-orang kafir yang diberitakan dalam QS 67: 10 di atas.

Written by Zulfikar Abdurrahman


5 komentar pada “Nikmat Akal, Andai Engkau Sadari

  1. marilah merenung sejenak…sudahkah kita menjadi hamba yang pandai mensyukuri nikmaNYA???kalau belum mari kita mulai dari sekarang dan manfaatkan segala potensi titipan allah ìni untuk meraih keridhlaaNYA semata…ingat kematian sangat dekat dan jangan sampai kita dlm keadaan KUFUR

Beri Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.