Ngaji Kok diAbsen?

islam-saling-mencintai

Mungkin ini yang muncul di benak anda ketika baru pertama kali mengikuti pengajian gelombang, cabang maupun perwakilan. Aneh, kayak anak sekolah saja. Biasanya pengajian tuh bebas, mau datang atau tidak, terserah. Datang dengerin atau ngobrol sendiri juga nggak ada yang peduli. Tiba-tiba ngilang pun juga gak bakal dicari.

Ada sebagian yang belum bisa memahami urgensi absensi di kajian. Ada yang tidak nyaman, bahkan yang lebih ekstrim lagi, ada yang bilang bid’ah. Baiklah di sini akan disajikan poin-poin tentang pentingnya absensi di pengajian.

1. Salam
Salam adalah salah satu akhlaq Islam yang berperan sebagai pembuka dari terciptanya hubungan sosial penuh persaudaraan dan cinta yang disandarkan kepada Allah SWT. Untaikan kata-kata indah yang sangat “Welcome” terhadap saudara baru, berupa do’a :

“Semoga Allah memberikan keselamatan, kasih sayang dan barokah buatmu wahai saudaraku.”

Di awal pengajian, biasanya pengasuh / ustadz bertanya, “Ada peserta baru?”. Jika ada, maka peserta baru ini dipersilahkan memperkenalkan diri, diawali dengan mengucap salam yang sangat terdengar indah meski kadang ada yang terbata-bata karena terharu ataupun grogi; ada yang menggelegar karena semangat dan mantab bisa bergabung, dll. Seluruh peserta lain menjawab salam, dan pengasuh / ustadz mengawali tausiyahnya dengan motivasi awal mengaji sebagai ungkapan selamat datang, selamat bergabung, dll.

Selanjutnya peserta baru ini akan dicatat sesuai dengan kelaziman di majlis mulai dari mustami’ hingga suatu saat nanti menjadi anggota. Jika tidak hadir dikhabarkan, jika sakit didoakan untuk kesembuhannya, jika ada keperluan atau sesuatu urusan di doakan agar dimudahkan segala urusannya serta dimohonkan ampun kepada Allah. Indah kan ?

2. Ta’aruf
Peserta pengajian tercatat nama-namanya, bahkan yang sudah aktif berikut biodatanya. Tujuannya agar satu sama lain saling kenal mengenal, sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT :

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.” (QS. Al Hujurat [49]:13)

Dengan saling mengenal akan tumbuh rasa cinta dan kasih sayang sesama muslim terutama yang ada di pengajian tersebut. Ukhuwah dilanjutkan pula di luar forum pengajian misalnya dengan saling mengunjungi / silaturohim, sehingga bisa saling tafahum / memahami kondisi masing-masing. Terciptalah hubungan yang sinergis dengan saling memberi, membantu, sedekah, hadiah, hingga kerja sama dalam maisyah (perekonomian).

3. Nguwongke Uwong (Memanusiakan Manusia)
Di majlis ini tidak ada yang paling penting, semua penting dan punya kepentingan kepada Allah. Maka dengan tercatatnya seorang peserta merupakan wujud pengakuan dari pengurus dan peserta lainnya, bahwa dia merupakan satu kesatuan dari kekeluargaan di majlis ini. Dirinya merasa dihargai, dihormati, dan sama-sama diberi peluang untuk berlomba-lomba mengukir kebaikan.

4. Deteksi Kondisi Warga
Tidak hadirnya peserta pengajian pasti bukan tidak ada sebab. Melaui rekan-rekan di kelompok yang tinggalnya berdekatan bisa saling memantau kondisi anggota kelompoknya. Ada yang tidak hadir di pengajian gelombang tanpa khabar, maka kelompok bertanggung jawab untuk mengkhabarkannya, mungkin kondisinya sedang sakit, atau sibuk dengan pekerjaan, atau santai-santai saja. Meski santai-santai saja ini tetap suatu masalah yang harus segera ditanggulangi dengan motivasi, tausiyah, dll agar dia kembali bisa aktif mengaji.

Apalagi bagi yang sakit, kewajiban sesama muslim adalah menjenguknya, mendoakannya syukur2 dengan kekuatan kebersamaan / jama’ah bisa membantu biaya pengobatan. Karena agama juga menganjurkan agar satu sama lain saling bantu-membantu meringankan beban. Nabi SAW Bersabda :

مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ،

“Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat.”

5. Kedisiplinan
Islam menekankan tentang kedisiplinan. Melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh (mujahadah) dan semaksimal mungkin menggunakan segala potensi yang telah diberikan oleh Allah sebagai wujud rasa syukur. Kesungguhan menumbuhkan ketekunan dan ke-istiqomah-an. Pengajian yang sudah terjadwal menjadikan segala aktivitas lain juga terencana / terprogram dengan rapi. Ada sebuah maqolah :

الْحَقُّ بِلاَ نِظَامٍ يَغْلِبُهُ الْبَاطِلُ بِنِظَامٍ

kebaikan yang tidak dijalankan dengan kedisiplinan akan terkalahkan dengan kejahatan/ keburukan/ kemaksiatan yang dijalankan dengan kedisiplinan.

6. Nabi Muhammad SAW Juga Mengabsen Jamaahnya
Di masjidnya, Nabi Muhammad SAW biasa mengawali shalat berjamaah dengan memperhatikan jama’ahnya. Sehingga pernah suatu ketika beliau kehilangan salah seorang sahabat yang biasanya aktif berjamaah kali itu tidak hadir. Usai mengimami beliau juga biasa duduk menghadap ke arah jama’ahnya.

Diperhatikan semua sahabatnya dengan penuh cinta. Kerapkali beliau menanyakan siapa yang tidak hadir. Beliau juga memperhatikan ketika ada seorang sahabat yang segera bergegas pergi begitu sholat jamaah selesai tanpa menambah dzikir dan do’a. Dipanggil dan diintograsi tentang masalah yang membuat dia berbuat begitu.

Di majlis ta’limnya (Darul Arqom), Nabi Muhammad SAW juga menanyakan kehadiran sahabatnya. Beliau berpesan agar yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. Baalighuu ‘anniy walau aayah, sampaikan apa-apa yang aku ajarkan walaupun hanya satu ayat. Bahkan Nabi SAW optimis, bisa jadi orang yang diberi tau lebih faham dari pada yang memberi tau.

Inilah beberapa manfaat dari absensi di pengajian, semoga bisa menginspirasi agar semakin disiplin, istiqomah dan mujahadah dalam mengaji. Wallaahu a’lam.

MoyoEmangMoy (Tri Harmoyo)
Rubrik Majalah Cahaya Hati