Muslimah itu bernama Kartini

kartiniBagi bangsa Indonesia, bulan April yang lalu dianggap sebagai salah satu bulan yang bersejarah. Bersejarah karena di bulan itu pernah lahir seorang perempuan yang ditahbiskan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintahan orde baru.

Perlu kita ketahui secara obyektif, pentahbisan nama Kartini sebagai pahlawan Nasional itu tidak lepas dari pelbagai pertimbangan.
Di sisi lain, ada yang menggali heroism kartini dari sisi keislaman. Tidak dapat dipungkiri, salah satu semangat yang diperjuangkan oleh Kartini adalah keleluasaan memperoleh ilmu untuk diamalkan bagi perempuan.

Hal ini sangat heroic karena saat itu  adat-istiadat jawa yang kental ‘mengungkung’ perempuan untuk bisa memperoleh wawasanseluas-luasnya. Terlebih dalam hal belajar agama. Jangankan perempuan mendalami agama, laki-laki pun dilarang belajar agama secara komprehensif karena dikhawatirkan akan menggelorakan semangat jihad fii sabilillah melawan kekejaman imperialism Belanda.
Tentang betapa terbatasnya perempuan saat itu (akhir 1890-an) akan akses ilmu kegamaan, Kartini pernah mengungkapkan kekesalannya kepada seorang teman belandanya. “Di sini orang diajar membaca Al Quran tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella ?” (Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899)
Dan kekesalan itu dijawab oleh seorang ulama kondang di masanya. Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar, seorang ulama dari semarang, kerap disebut pula Kyai Sholeh Darat. Kyai itu mengajarkan terjemahan surat Al-Fatihah, tak ayal hal ini membuat kartini terpukau akan keindahan Ummul kitab. Satu saat, dengan mendesak seorang pamannya, kartini berdialog dengan sang ulama sebagaimana ditulis oleh Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat.
“Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?”. Tertegun Kyai Sholeh Darat mendengar pertanyaan Kartini yang diajukan secara diplomatis itu. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh Darat balik bertanya. “Kyai, selama hidupku baru kali ini aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan main rasa syukur hatiku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al_Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Pengaruh Islam bagi Kartini
Gayung pun bersambut. Rasa penasaran kartini dijawab oleh Kyai SHoleh darat. Di hari pernikahannya, Kyai Sholeh Darat menghadiahkan Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran, terjemah Al’Quran ke dalam bahasa jawa sebagai rasa tanggung jawab seorang ulama untuk mengajarkan kebenaran kepada semua manusia, pun perempuan. Kitab jilid 1 tersebut terdiri atas 13 Juz dari Al-Fatihah hingga Ibrahim. Namun sayang, sebelum selesai menerjemahkannya, Kyai Sholeh Darat telah dipanggil oleh Sang Penguasa Alam, Al-Malik.
Pemahaman Islam yang semakin mendalam pada kartini mengarahkannya pada usaha-usaha mencerdaskan kaum perempuan, baik ilmu duniawi maupun ukhrawi. Sebagaimana petikan salah satu suratnya, “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama” (Surat Kartini kepada Prof. Anton Dan Nyonya, 4 Oktober 1902).
Sebuah evolusi pemikiran terjadi pada diri seorang kartini. Awalnya, Kartini menganggap kebudayaan Belanda adalah yang paling maju karena itulah yang dilihatnya saat itu. Jawa yang dijajah dan Belanda yang jadi ndoronya. Namun, mentoringnya dengan Kyai Sholeh Darat telah meluruskan pemikirannya untuk menjadikan Islam sebagai rujukan untuk membangun peradaban. Respon terhadap surat Al-Baqoroh ayat 193 mendorongnya untuk mengarang sebuah buku berjudul Minazh-Zhulumaati Ilan-Nuur, yang kemudian lebih kita kenal dengan Habis Gelap Terbitlah Terang. Dari kajian historis, di akhir hayatnya kartini lebih mengajak kaum perempuan untuk menjadi muslimah yang kafah memegang teguh ajaran agamanya.
“…, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna ? dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902).
Terlepas dari kontroversi seputar kepahlawanan Kartini, apa yang menjadi pemikirannya layak kita camkan. Terlebih dalam suratnya kepada JH. Abendanon bahwa yang diinginkan oleh kartini bukanlah wanita yang sejajar dalam setiap kiprah laki-laki tetapi wanita yang benar-benar menjalankan ajaran agamanya (Islam) dan menjadi madrasatul Aulaad. Dan bukan emansipasi yang berwawasan liberal serta kapitalis.
Abu Hurairah meriwayatkan :

Rasululloh SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat pakaian dan hartamu. Akan tetapi Allah melihat hati dan perbuatanmu"

Tulisan dikirim oleh :

Mas Soekarno (MTA Tangerang)


4 komentar pada “Muslimah itu bernama Kartini

  1. Alhamdulillah, muslimah-muslimah yang bertaqwa akan melahirkan muslimin-muslimin yang bertaqwa, ada yang nanya, telur dulu atau ayam dulu, Yang jelas nabi Adam dulu ada baru Hawa diadakan, …… bapak sholih dulu ato ibu sholihah dulu……, jawabnya gampang….. Bapak dan Ibunya ….. Sholih dan Sholihah, baru telur dan ayam terjawab, so ….. hati-hati cari JODOH, supaya ayam dan telur mana yang duluan terjawab tuntas ….

  2. Jasa terbesar seorang ibu adalah mendidik anak-anaknya menjadi sholih dan sholihah, tabungan yang tidak terasa, ……..ketika anaknya menjadi besar anaknya telah menjadi pemimpim besar yang tatap sholih, berguna bagi umat yang sangat banyak……..dibalik ibu-ibu yang sholih……….., tumbuhlah kebahagiaan untuk umat yang luas, jangan menyesal menjadi seorang perempuan, tapi bersyukurlah……, kaum ibu sholihah adalah pewarna …..zaman

  3. arijalu qowamuna ala nisa,lelaki adl pemimpin bagi wanita…kalau kartini pada jamannya sangat gigih memperjuangkan edukasi bagi kaumnya..apalagi abad 21 ini..kaum wanita bisa belajar menuntut ilmu,melanglang antar benua..tapi satu yang tetap harus menjadi catatan untuk kaum hawa..bagaimanapun madrasah yang pertama dan utama dimulai dari keluarga..yang disisi seorang ibu ada sosok seorang ayah yang mithali,yg akan membawa bahagia dunia akhirat.

Beri Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.