Merenungi Kehebatan DUIT

orang-yang-pandai-cerdas-sebenarnya

DUIT, bahasa lainnya UANG. Semua orang pasti kenal dan mencintainya. Bahkan ada yang amat sangat mencintainya. Padahal DUIT tidak dibawa mati tetapi tidak ada duit rasanya ingin mati. Duit tidak dapat membeli kasih sayang, akan tetapi kasih sayang bisa melayang bila tidak ada duit.

Duit tidak bisa membeli tidur, tetapi jika tidak ada duit maka tidur pun tidak nyenyak. Duit tidak bisa untuk membeli kesehatan, tetapi untuk sehat diperlukan duit. Duit tidak bisa untuk membeli ilmu, tetapi untuk mendapatkan ilmu diperlukan duit. Orang bodoh nampak cerdik dan dihormati bila ada duit, tetapi orang cerdik nampak bodoh bila tak ada duit.

Duit bukan segalanya tetapi segalanya ternyata perlu duit. Inilah fakta dan karakter DUIT. Ada pesan tersirat dan terselubung dalam DUIT. Don’t Use Intelligence The wrong way (DUIT).

Jangan gunakan kecerdasan untuk sesuatu yang salah. Kecerdasan adalah anugerah Ilahi yang perlu disyukuri. Dimanfaatkan sebagaik-baiknya untuk memikirkan Allah, ciptaan Allah, taat kepada Allah.

Islam telah memberikan pujian serta mensifati orangorang yang mengisi waktunya untuk berfikir dan menjalankan ketaatan di jalan Allah dengan sebutan Ulil Albab (Orang yang berakal). Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orangorang yang berakal

”(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS Ali Imran 190-191).

Maka orang-orang yang tidak bisa mensyukuri serta mengisi waktunya dengan berfikir dan menjalankan ketaatan di jalan Allah, tidaklah pantas untuk dikatakan sebagi manusia yang berakal, wal `iyadzu billah. Orang-orang yang menggunakan kecerdasannya untuk berfikir, bakal mengantarkannya menjadi orang-orang beriman.

Orang berakal, pastilah beriman. Jangan pernah mengaku berkal dan cerdas, kalau tidak beriman.

Firman Allah dalam 65 At Thalaq ayat 10.
"Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal; (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu Jika seseorang bisa mengambil yang terbaik di antara dua pilihan dan bisa mengambil yang lebih ringan resiko (madharatnya) dari dua pilihan, itulah seseorang yang disebut cerdas. Demikianlah kesimpulan dari Ibnu Taimiyah di mana beliau pernah berkata, Orang yang cerdas bukanlah orang yang tahu mana yang baik dari yang buruk. Akan tetapi, orang yg cerdas adalah orang yang tahu mana yang terbaik dari dua kebaikan dan mana yang lebih buruk dari dua keburukan”.

Dengan kata lain: dapat memilih yg terbaik, menghindari yg terburuk, menyelesaikan masalah secara tepat dan cepat.

Dalam Islam, kepandaian itu dapat diraih oleh setiap orang, walaupun IQ nya tidak tinggi.

Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta beranganangan terhadap Allah SWT.” (HR. Imam Turmudzi, ia berkata, ‘Hadits ini adalah hadits hasan’)

Berkata Sufyan bin Uyainah rahimahullah (w: 161H):
“Bukanlah seorang yang pintar yang mengetahui kebaikan dan keburukan, akan tetapi seorang yang pintar adalah seorang yang mengetahui kebaikan lalu ia mengikutinya dan mengetahui keburukan lalu ia meninggalkannya.”

Lihat kitab al ‘aql wa fadhluhu, karya Ibnu abid Dunya Jangan pernah berfikir dan menggunakan kecerdasan atau akal untuk mengakali hukum, untuk mengakali syariat, untuk mengotak-atik syariat. Atau untuk mencari akal guna mencelakakan dan merugikan orang lain.

Selanjutnya marilah menggunakan DUIT untuk mencari kebahagiaan dunia dan akherat. DUIT dalam bingkai Doa, Usaha, Istiqomah dan Tawakkal. Doa, usaha, istiqomah dan tawakkal merupakan empat serangkai yang serasi.

Doa merupakan senjatanya orang mukmin. Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Doa itu senjatanya orang mukmin, tiangnya agama dan cahaya langit dan bumi”. [HR. Hakim, ia berkata, “Shahih sanadnya”]

Manusia adalah makhluk yang lemah. Padanya melekat beberapa kekurangan, sifat lupa dan khilaf. Karenanya tidak bisa hanya mengandalkan “kemampuan” dirinya dalam mengarungi gelombang kehidupan yang keras ini.

Keberadaan sifat-sifat ini memerlukan penguatan dari Yang Maha Kuat. Penguatannya adalah dengan doa sebagai implementasi bahwa dirinya memerlukan keberadaan Allah. Jangan hendaknya mengabaikan Allah, tidak mau berdoa kepada-Nya. Ini termasuk sikap sombong.

Firman Allah dalam Al Mu’min 60.

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina”.

Doa saja belum (tidak) cukup tanpa disertai usaha. Karenanya, suatu doa haruslah ditindaklanjuti dengan usaha.

Misalnya berdoa untuk memperoleh kesehatan, haruslah diikuti dengan usaha seperti berolahraga, memakan makanan yang sehat dan bergizi, menjaga kebersihan diri, pikiran, dan lingkungan. Untuk terkabulnya doa, juga perlu diperhatikan seperti misalnya cara berdoa, perkara yang diminta, menjaga makanan yang dimakan (harus halal). Makanan yang haram menjadi penghalang terkabulnya doa. Tiada kata seindah doa.

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia pada sisi Allah daripada doa”. [HR. Hakim, ia berkata, “Shahih sanadnya”, Tirmidzi, ia berkata, “Hadits gharib”, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban di dalam shahihnya]

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Baik (Suci). Tidak mau menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin sebagaimana apa yang Dia perintahkan kepada para Rasul.

Allah berfirman, “Hai para Rasul, makanlah dari yang baik-baik (yang halal) dan beramal shalih lah kalian. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui terhadap apa-apa yang kalian kerjakan”. [Al-Mukminuun : 51].

Dan Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari yang baik-baik apa yang Kami rezqikan kepada kalian”. [Al-Baqarah : 172]

Kemudian (Rasulullah SAW) menyebutkan tentang seorang laki-laki yang sering bepergian jauh, rambutnya acak-acakan lagi berdebu. Dia berdoa dengan mengangkat kedua tangannya ke langit, “Ya Tuhanku, Ya Tuhanku”. Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dia dikenyangkan dengan barang yang haram. Maka bagaimana mungkin dia dikabulkan doanya ?”. [HR. Muslim dan Tirmidzi]

Menurut Ibrahim bin A’dham, ada 10 sebab do’a tidak dikabulkan:
(1) Kamu mengenal Allah, tetapi tidak kamu penuhi hak-hak-Nya.
(2) Kamu selalu membaca Al Qur’an tetapi kamu tidak amalkan isinya.
(3) Kamu selalu menyerukan cinta pd Rasulullah tetapi kamu tinggalkan sunnahnya.
(4) Kamu senantiasa menyerukan bermusuh dng setan, tetapi kamu patuhi dia.
(5) Kamu selalu berdo’a agar terhindari dari neraka, tetapi kamu lemparkan dirimu ke dalamnya. .
(6) Kamu berdo’a agar masuk surga, tetapi kamu tidak beramal.
(7) Kamu menyatakan mati pasti datang, tetapi kamu tidak mempersiapkan diri menghadapinya.
(8) Kamu sibuk memikirkan dan mengurus aib saudaramu, tetapi kamu tidak melihat aib kamu sendiri.
(9) Kamu makan nikmat Ilahi, tetapi kamu tidak bersyukur atas karunia itu. Syukurnya orang sehat, beramal. Syukurnya orang punya harta, zakat.
(10)Kamu turut mengubur orang yang mati, tetapi tidak mengambil I’tibar dari peristiwa itu.

Selanjutnya adalah istiqomah dan tawakkal.
Penyakit yang menyertai hidup dan kehidupan adalah futur (putus asa). Untuk mendapatkan kebahagiaan dunia akherat, seseorang harus menghindari sikap dan karakter putus asa diganti dengan istiqomah. Tabah dan tangguh dalam kebenaran, memegang kebenaran, menghindari maksiat.

Berikutnya setelah berdoa, berusaha dengan sungguh-sungguh dan istiqomah adalah bertawakkal kepada Allah. Bersandar kepada Allah. Hasil akhirnya kita serahkan kepada Allah. Putus asa bukan karakter orang mukmin.

Perhatikan firman Allah berikut.
"Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS Yusuf 87).

Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orangorang yang sesat”. (QS Al Hijr 56).

Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal. Firman Allah dalam Ali Imran 159.
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemahlembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya".

DUIT ternyata hebat dan luar biasa. Subhanallah. (*)

AA Gim. Guru SMA MTA Surakarta


Beri Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.