Menyembuhkan HOBY “Suka Membuat Sulit Orang Lain”

gedungSegala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya yang mengikuti jalan petunjuknya. Alhamdulillah atas segala nikmat dan karunianya kepada kita semua.

Alhamdulillah, Allah telah menggambarkan tentang pentingnya iman dan taqwa didalam hati manusia, disebabkan dengan iman dan taqwa akan terwujud, kebahagiaan, ketenteraman dan kedamaian bagi kehidupan pribadi seseorang atau pula kehidupan masyarakat kecil atau semesta masyarakat.

Di kehidupan akherat manusia yang tidak memiliki iman dan taqwa akan memiliki amal baik yang sangat sedikit, karena hidupnya diisi dengan amal-amal yang buruk.

Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 7:8)
Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami. (QS. 7:9)

Ketika iman dan taqwa tidak terjaga dalam diri manusia, maka sifat-sifat syaitan akan menguasai diri manusia, manusia menjadi lupa dengan amal-amal sholih yang harus dipersiapkan untuk menjadi bekal kembali kepada Allah, sehingga kembali kepada Allah di akherat dengan sangat menyesali diri

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak itu). Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong. (QS. 3:91)

Iman dan taqwa di dalam diri manusia senantiasa dinamis, bila manusia mengisi kehidupan dengan keta'atan kepada Allah dan Rasulnya maka keimanan dan ketaqwaan akan meningkat. Dan sebaliknya jika manusia mengisi waktu hidupnya dengan dosa dan pelanggaran maka keimanan dan ketaqwaan semakin menipis dan bisa hilang.

Manusia-manusia beriman dan bertaqwa akan melihat orang lain adalah sebagai obyek untuk memperbanyak amal kebaikan, rasa kasih sayang dan rasa taqwa kepada Allah menyatu dalam diri seseorang sehingga ingin berbuat baik kepada orang lain, karena perbuatan baik itu akan kembali kepada dirinya sendiri.

Orang yang sudah membiarkan syaitan dan hawanafsu menguasai dirinya cenderung memiliki sifat yang sulit dikendalikan dan destruktif. Berbagai penyakit hati dalam bahasa jawa disebutkan "iri, dengki, srei, dahwen, open, panasten", sifat iri, pendengki, suka menghalang-halangi, suka mengacau, suka memiliki yang bukan haknya, hati yang mudah panas dan marah, dan sederet sifat-sifat buruk tumbuh subur menjamur dalam hati orang-orang yang telah bersahabat dengan syaitan.

………………..Dan barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu teman yang seburuk-buruknya. (QS. 4:38)

…………Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. (QS. 4:119)

Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS. 5:91)

Makanlah dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu, (QS. 6:142)

.

▲ Menyantuni Orang lain, tuk mengasihi diri sendiri

Ada kata-kata seloroh yang sudah menjadi rahasia umum "dipersulit saja bisa, kenapa dipermudah?", banyak kabirul umah, yang telah meresap kedalam hati mereka tentang sikap yang demikian. Padahal di dalam Islam dikatakan "kabirul ummah qodimuhum", maksudnya pembesar suatu kaum adalah pelayan mereka.

Bahwa islam mengajarkan dan memerintah para orang-orang besar dari suatu kaum, bahwa mereka adalah pelayan-pelayan umat. Pelayan yang memberikan penyantunan kepada umat dengan suka hati dan kasih sayang. Sebagaimana orang tua melayani anak-anak yang menjadi tanggungannya. Yang kuat menyantuni yang lemah.

Tata masyarakat yang demikian tidak akan pernah terwujud didalam kehidupan umat manusia, kecuali hati masing-masing manusianya dihiasi dengan iman dan taqwa. Dengan iman dan taqwa para orang-orang penyantun adalah manusia-manusia yang berderajad tinggi dan mulia disisi Allah, baik di dunia dan di akherat.

Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah. (QS. 11:75)

………Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. 7:56)

……….Tidak ada jalan sedikitpun untuk mengalahkan orang-orang yang berbuat baik, Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, (QS. 9:91)

…….Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik, (QS. 9:120)

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. …………..(QS. 10:26)

……..Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. (QS. 12:56)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal. (QS. 18:107)

Para pembesar umat, para pemimpin umat, para penguasa umat, memiliki kesempatan yang besar untuk mendapatkan kebahagiaan yang luar biasa di dunia dan di akherat. Seseorang yang berbuat ikhlas kepada Allah dalam amal sholihnya, di dunia akan memiliki nama yang harum, dan di akherat akan mendapatkan jannah, surga yang penuh dengan kesenangan, kebahagiaan, dan kemuliaan di sisi Allah. Allah Tuhan yang Maha Penyantun

Perkataan yang baik dan pemberian ma'af lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. (QS. 2:263)

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. 28:77)

Betapa Allah Tuhan Yang Maha Penyantun, telah menyantuni kita dengan berbagai fasilitas dan kenikmatan hidup. Kita diperintah untuk bersyukur dan menyantuni orang lain yang ujung-ujungnya kebaikan itu akan kembali kepada masing-masing diri.

Bila semesta umat manusia telah memahami makna dan keuntungan menyantuni orang lain maka pasti umat manusia akan berlomba-lomba menyantuni orang lain. Dan janji-janji Allah tentang balasan di dunia dan di akherat pasti akan diberikan dengan dikontan.

Dakwah yang menjelas-jelaskan manusia untuk menjauhi syaitan dan sekaligus mengajak manusia untuk bersegera berlari kepada Allah sesuatu yang sangat dibutuhkan dizaman ini. Bila manusia masih saja berteman dan berlindung kepada syaitan, maka selamanya hati umat manusia akan terpaling dan jauh dari saling menyantuni dan saling mengasihi.

Tersebarnya kemaksiyatan kepada Allah, menunjukkan betapa manusia masih terbelenggu dengan tipudaya syaitan, sehingga masih tersesat dalam memahami makna hidup. Yang menguntungkan dianggap merugikan, sedang yang sangat merugikan dianggap sangat menguntungkan. Dengan cara menyusahkan orang lain berarti manusia masih suka mencelakai dan menyulitkan dirinya sendiri, namun terpulas dihati merasa sangat-sangat beruntung. Wallahu a'lam


3 komentar pada “Menyembuhkan HOBY “Suka Membuat Sulit Orang Lain”

  1. Sebenarnya fitrah manusia itu adalah berkasih sayang dgn sesama.tapi karena pergaulan dan didikan yg salah,maka berubah jadi semena2 ,egois,iri, dengki,sombong dll.alquran hanya jadi pajangan.tanpa penghayatan dan amalan.padahal alquran perlu dikaji untuk menuntun manusia pd jln lurus untuk memperoleh kebahagiaan dunia akhirat.mudah2an Allah memberi hidayah pd kita yg msh bengkok.

  2. Sebagai seorang muslim yang baik tentunya sikap dan perilaku serta perbuatannya akan selalu mengacu pada qur’an dan sunah sehingga dengan sendirinya tidak akan suka melakukan perbuatan yang apabila perbuatan itu ditimpakan kepada kita juga tidak suka yaitu kenapa kita harus membuat sulit kepada orang lain.

  3. Sebagai muslim yang baik tentu perilaku dan perbuatannya akan terpancar kebaikan pula. Tutur katanya lembut penuh kebaikan dan kebenaran,perilakunya santun dan penuh keteduhan, keberadaannya sangat ditunggu dan dinantikan. Begitu indah ajaran Islam yang mulia ini dan betapa kuat menyatu dalam diri muslim yang taat. Iman dan taqwa bukan slogan yang memenuhi saku dan tenggorokannya untuk diucapkan pada orang lain. Iman dan taqwa itu menyatu dalam diri dan tindakan,terpancar dalam amal dan perbuatan dan iklas dalam tutur dan amalan. Kalau sudah tertanam dalam diri hilang sudah slogan kalau bisa dipersulit mengapa harus dipermudah.

Beri Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.