Menyelaraskan Kearifan LOCAL dengan Kearifan UNIVERSE-ALL

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, Sahabat dan seluruh pengikutnya yang setia mengikuti petunjuk-Nya hingga akhir zaman.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia modern mengenal standarisasi. Baik dunia Kedokteran, dunia Industri, dunia Perdagangan, dan bahkan seluruh aspek kehidupan, manusia membuat standarisasi, yang berfungsi untuk memudahkan prosesnya, memudahkan mengukur kwalitas kemajuan dan untuk memudahkan kwalitas keseragaman dalam hubungan antar manusia.

Tatanan masyarakat modern juga mengarah pada proses penyatuan kehendak dan kesatuan persepsi, misalnya terbentuknya pakta persekutuan antar negara-negara dan bahkan juga sampai kepada masalah perdagangan dan perekonomian.

Dalam masalah dunia Teknik Bangunan, kita menemukan standarisasi perancangan sejak dari fondasi hingga ke atap bangunan, bahkan sampai ke hal-hal terkecil berupa ukuran kusen-kusen pintu dst.

Demikian pula hubungan perekonomian antar Negara, kita mengenal mata uang tunggal Eropa (EURO) atau pula kita mengenal lembaga WTO yang membuat aturan-aturan tentang kebijakan bersama dalam masalah perdagangan antar negara-negara sedunia.

Demikian pula dalam masalah antariksa, sering terjadi kerjasama explorasi ruang angkasa diantara negara-negara maju, mereka harus membuat standarisasi bersama untuk memudahkan mereka dalam mencapai sukses bersama dalam kerjasama untuk sama-sama melihat rahasia dan mengexplorasi ruang angkasa.

Semua masalah tersebut diatas terus berjalan bergerak menuju pada satu titik tujuan yaitu penyeragaman persepsi untuk memudahkan hubungan antar bangsa-bangsa dan antar negara-negara di dunia, orang mengatakan mereka ingin mencapai standarisasi Global yaitu standarisasi bersama seluruh dunia (GLOBE – ALL), sehingga seluruh manusia sedunia di tuntun untuk menyepakati standarisasi tersebut.

Segala puji bagi Allah, sungguh sebenarnya Allah telah mengajari umat Islam untuk mencapai derajad ketertiban, tidak hanya pada diri pribadi, namun standarisasi dalam Islam adalah standarisasi dengan cakupan alam raya (UNIVERSE – ALL), bahkan sampai menembus hingga kepada alam berikutnya, yaitu alam akherat yang akan terjadi setelah alam dunia. Allah berfirman yang artinya

.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. 49:13)

.

Standarisasi UNIVERSAL yang dapat mengatur terciptanya hubungan sangat baik antar manusia seluruh dunia adalah TAQWA.

Sebagai manusia yang diberi kesempatan hidup di dunia selayaknya kita mewajibkan diri untuk pernah dan selalu dan selalu membaca kitab Al-Qur’an dan tarjamah dalam bahasa yang kita pahami. Karena Al-Qur’an adalah kitab suci yang mengandung penjelasan Standarisasi Universal. Bila manusia GLOBAL tidak mau mengikuti standarisasi UNIVERSAL ciptaan Allah SWT, maka akibat buruknya juga akan disandang manusia secara global.

Al-Qur’an memberi bukti diri bahwa dia adalah sesuatu yang bersifat UNIVERSE-ALL melewati beberapa firman Allah yang artinya;

.

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam. (QS. 7:54)

Tidaklah mungkin al-Qur'an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (al-Qur'an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam. (QS. 10:37)

Dan sesungguhnya al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, (QS. 26:192)

Turunnya al-Qur'an yang tidak ada keraguan padanya, (adalah) dari Tuhan semesta alam. (QS. 32:2)

.

Allah memberikan suatu kebebasan kepada manusia, dan bahkan Allah sendiri Maha Mengetahui sifat-sifat buruk dan sifat baik manusia, namun Allah menghendaki agar manusia meninggalkan sifat buruknya dan membangunkan sifat mulianya, sehingga dengan itu manusia akan mudah dalam mendekat kepada Allah, dan bahagia disisi Allah SWT.

.

Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata. (QS. 16:4)

Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam al-Qur'an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah. (QS. 18:54)

Di antara manusia ada yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap syaitan yang jahat, (QS. 22:3)

.

Allah SWT memberitahu sifat-sifat negatip manusia, dan bila sifat-sifat negatip ini diperturutkan, maka manusia akan kehilangan kesempatan untuk menjadi makhluq yang berderajad mulia disisi Allah.

Manusia dikatakan memiliki kearifan yang sempurna bila dia sudah mampu menyelaraskan kearifan yang dia anut dengan kearifan UNIVERSAL yang datangnya dari Allah SWT. Karena sudah sangat jelas, bahwa orang-orang yang merasa sudah arif, namun dia menolak kearifan UNIVERSAL, mereka itu pada hakekatnya telah dibelokan oleh syaitan, makhluq terkutuk yang dijauhkan dari Allah.

Allah menurunkan Al-Islam kepada manusia dibumi sebagai kearifan universal yang sifatnya memang universal sesuai dengan kehendak Allah Tuhan semesta Alam.

.

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. 21:107)

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (QS. 34:28)

Al-Qur'an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. (QS. 38:87)

Al-Qur'an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (QS. 81:27)

.

Allah memperkenalkan dalam Al-Qur’an tentang sifat universal seluruh ciptaan Allah, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui, agar manusia mampu menyadari diri untuk segera mengikuti kehendak Allah yang Universal tersebut.

.

Dan kamu (Muhammad) akan melihat melaikat-malaikat berlingkar disekeliling 'Arsy bertasbih sambil memuji Tuhan-nya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan:"Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam". (QS. 39:75)

Dialah Yang hidup kekal, tiada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. (QS. 40:65)

Katakanlah (ya Muhammad): "Sesungguhnya aku dilarang menyembah sembahan yang kamu sembah selain Allah setelah datang kepadaku keterangan-keterangan dari Tuhanku; dan aku diperintahkan supaya tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam. (QS. 40:66)

.

Pada zaman modern ini, banyak manusia yang membanggakan diri dengan capaian-capaian Global yang telah diraihnya, misalnya banyak Waralaba yang telah mengglobal tersebar keseluruh pelosok Dunia. Namun manusia perlu sadar diri, apakah capaian-capaian hebat yang telah dicapainya itu sesuai dengan kehendak Allah yang Universal tadi ???,

Banyak manusia yang sangat bangga dengan karya-karya pribadi yang dengan cepat mengglobal, apalagi di zaman seperti sekarang ini dengan kemajuan Teknologi Informasi, apapun karya manusia yang baik dan yang buruk dapat segera mengglobal dalam waktu sekejab, namun sudahkan karya-karya tersebut sudah selaras dengan kehendak Allah yang Universal ???

Bila manusia disibukkan dengan membuat dan bangga diri dengan sesuatu yang dianggap kearifan lokal dan tidak mau menyelaraskan dengan kearifan UNIVERSAL maka manusia akan menemukan dua kesulitan, yang pertama kesulitan di dunia dan yang kedua kesulitan di akherat.

Walaupun manusia mampu mengangkat sesuatu yang dianggab sebagai kearifan lokal ke permukaan dan kemudian dengan perjuangan yang keras dapat diakui sebagai kearifan Global, namun bila hal ini tidak selaras dengan kearifan Universal, maka hal tersebut akan menyulitkan manusia di hadapan Allah.

Tumbuh menjamur dan berkembang hal-hal yang dipandang sebagai kearifan lokal, namun bila hal tersebut bertentangan dengan kearifan universal, maka hal tersebut hanyalah kearifan yang semu.

Sebagai contoh kecil dan sederhana, dizaman ini telah terangkat ke permukaan sesuatu yang dianggab sebagai kearifan lokal, yaitu tari Tayuban (Tayuban Dance), dan para orang-orang yang dianggap terhormat telah mengganggap sebagai kearifan lokal yang perlu diangkat dan dilestarikan. Namun bila ditera dengan kearifan Universal (Agama Islam) hal tersebut adalah penyimpangan dan pelanggaran. Jadi walaupun Tayuban Dance akan merebak mengglobal, namun hal tersebut sebuah barometer yang menunjukkan akan semakin rendahnya kwalitas moral manusia pada jaman itu.

Setiap kearifan lokal yang bertentangan dengan kearifan universal, dapat dipastikan akan merugikan manusia secara haqiqi.

.

Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan). (QS. 27:4)

Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, (QS. 27:24)

.

Bila orang terus-menerus menggali sesuatu yang dianggap sebagai kearifan lokal, namun bila hal tersebut bertentangan dengan kearifan universal, maka sebenarnya hal tersebut merupakan hasil sukses yang sangat halus dari proses “devide et impera”, teknik memecah belah persatuan umat manusia.

Bila kearifan-kearifan semu manusia ini tidak diselaraskan dengan kearifan universal, maka sudah dapat diprediksikan bahwa manusia akan semakin terpecah belah dan kemudian manusia akan saling membanggakan dirinya, dan hal tersebut akan mempercepat keretakan-keretakan hubungan antar manusia.

Apa yang dikehendaki oleh Allah adalah kerukunan antar manusia seluruh dunia, dan terwujudnya kebahagian yang haqiqi di dunia dan di akherat. Bila manusia semakin menjauhi kearifan universal, maka manusia menuju pintu keretakan. Tidak pernah manusia bisa bersatu dalam sebuah misi yang sama, kecuali memiliki standarisasi yang sama. Manusia akan sulit untuk menyatukan tujuan kecuali mereka memiliki standard yang sama.

Semoga umat Islam di zaman ini menyadari segala kekurangan dirinya masing-masing dan mau menekuni dan mengikuti jalan-jalan kerukunan, keselamatan dan kebahagiaan yang Universal dengan landasan TAQWA, sesuai dengan standart Al-Qur’an dan As-Sunnah yang telah diamalkan dan dijelaskan serta dicontohkan oleh Rasulullah dan para Sahabatnya. Wallahu a’lam

 


2 komentar pada “Menyelaraskan Kearifan LOCAL dengan Kearifan UNIVERSE-ALL

  1. alam raya sebuah keselarasan yang begitu indah dan menawan, Al-Qur’an dan As-Sunnah sebuah keselarasan yang begitu indah dan mengesankan, semoga Allah menetapkan kita untuk selalu mencitai dan mengamalkannya

Beri Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.