Menuntaskan Akar PREMANISME

height="150" />(Harian Solopos, Juma’t, 2/3/2012). Tidak ada bangsa yang kuat lagi kokoh di dunia ini tanpa adanya persatuan dan kesatuan seluruh elemen masyarakat yang menyusunnya. Sayang sekali persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia saat ini terancam runtuh karena anarkhisme dan premanisme yang dilakukan oleh kelompok tertentu. Sengketa tanah, lahan pertanian, dan daerah tambang semakin sering terjadi. Tawuran antar pemuda, antar suku, dan antar desa menjadi berita harian. Bahkan yang lebih memprihatinkan adalah terjadinya konflik inter dan antar umat beragama. Kelompok mayoritas yang merasa terancam dominasinya menggunakan kekuatan masa untuk melakukan tindakan anarki dan premanisme terhadap kelompok minoritas.

Penindasan, pengusiran, dan penolakan terhadap kelompok minoritas mereka lakukan secara sistematis di berbagai tempat dengan berbagai bentuk. Ironisnya perbuatan anarki dan premanisme itu dibungkus dengan slogan nasionalisme demi menjaga keutuhan NKRI.

Padahal yang mereka lakukan justru menyebarkan benih-benih kebencian, permusuhan dan perpecahan yang akan berakibat terhadap lemahnya persatuan dan kesatuan nasional. Anarki dan premanisme yang terjadi di berbagai penjuru negeri ini disebabkan karena rendahnya kualitas moral agama. Meskipun sebagian tindakan premanisme itu dilakukan oleh kelompok yang berlabel agama.

Karena agama tidak lagi menjadi jalan hidup tetapi hanya menjadi simbol kelompoknya. Sehingga kelompok yang memiliki simbol berbeda dianggap sebagai musuhnya. Akhlak karimah tidak lagi menjadi kepribadian, tetapi hanya sekedar slogan yang diteriakkan. Sementara itu bagi banyak pejabat pembangunan kualitas moral bangsa tidak begitu penting, yang penting adalah kuantiitas proyek yang bisa mendatangkan segudang keuntungan. Mereka sesungguhnya tidak peduli apakah bangsa ini akan Berjaya atau akan hancur.

Saudaraku, dalam masyaraakat yang kacau balau seperti ini hanya orang-orang yang memiliki kualitas moral baiklah yang akan survive. Yakinlah bahwa mereka yang nampaknya berjaya karena kerusakan moral mereka sebentar lagi akan runtuh. Untuk menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran mari kita hidupkan kembali jiwa beragama di semua lini kehidupan.

Kita ajarkan dan kita amalkan agama yang lurus dan benar sejak dari kehidupan berumah tangga, kehidupan bermasyarakat sampai bernegara. Dalam konteks agama Islam maka ajaran yang lurus dan benar adalah yang sesuai dengan Al Qur'an dan As Sunnah, sesuai dengan pesan Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh imam Malik bahwa beliau telah meninggalkan dua perkara, apabila kita berpegang kepada keduanya maka kita tidak akan tersesat selamanya, yakni Al Kitab (Al Qur'an) dan sunnahnya.

اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: تَرَكْتُ فِيْكُمْ اَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا مَسَكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ نَبِيّهِ. مالك، فى الموطأ

Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah bersabda, "Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduaya, yaitu : Kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya". [HR. Malik dalam Al-Muwaththa’ juz 2, hal. 899]

 

Maka jalan terbaik yang bisa kita tempuh untuk membangun moral bangsa adalah menghidupkan kajian-kajian yang mendalami Al Qur'an dan As Sunnah dengan mengedepankan kebersamaan dan menghilangkan permusuhan.

Sesama umat Islam adalah saudara meskipun memiliki faham yang berbeda. Sedang musuh kita adalah kemunafikan dan kekafiran yang dibisikkan oleh setan. Kajian-kajian yang bertujuan untuk membangun moral bangsa seperti ini harus dilindungi dengan menegakkan hukum yang berlaku di negeri ini.

Semoga Allah melimpahkan ridho, ampunan dan kasih sayang-Nya untuk kita semua dalam membangun moral bangsa demi menghindari kehancuran, aamiin.

 

Al Ustadz Drs Ahmad Sukina
Pimpinan Pusat Majlis Tafsir Al Qur'an (MTA)