Mensyukuri Nikmat PERSATUAN

alustadz14-4-jihadpagiSOLOPOS (16/9/2011). Dalam rangka mengokohkan persatuan antar berbagai kelompok, golongan dan suku bangsa para pendiri negeri ini memilih semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Persatuan dalam keberagaman di bawah Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semangat persatuan itu juga tercermin dalam Sumpah Pemuda, satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa, yakni Bahasa Indonesia.

Sayang sekali semangat persatuan Indonesia yang menjadi sila ke tiga dari Pancasila itu saat ini semakin memudar. Jiwa persaudaraan dan kebersamaan antara individu, antar kelompok, antar suku bangsa semakin sirna. Persoalan sepele sering menjadi penyulut terjadinya konflik horizontal. Perkelahian antar kelompok pemuda di Jakarta, tawuran antar kelompok mahasiswa di Makassar, bentrok pilkada di Papua dan gejolak yang terjadi di Ambon yang menelan korban jiwa, menunjukkan bahwa semangat persatuan, jiwa pesaudaraan dan kebersamaan telah lenyap dari hati sanubari mereka.

Dalam konteks ekonomi negeri ini sedang diterjang badai korupsi. Pejabat yang korup tanpa belas kasihan menyikat uang rakyat. Di Kementerian Sosial ada kasus pengadaan mesin jahit dan sapi. Di Kementerian Kehutanan ada kasus Sistem Komunikasi Radio Terpadu (SKRT). Di Kementerian Olah Raga ada kasus Pembangunan Wisma Athleet. Di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi ada kasus Dana Percepatan. Di Kementerian Kesehatan ada kasus Pengadaan Alat-alat Kesehatan. Di Kementerian Dalam Negeri disinyalir ada penyimpangan proyek E-KTP. Hampir tidak ada kementerian yang tidak terjamah korupsi. Tidak ada lagi semangat kebersamaan antara pejabat dengan rakyat. Gaji, tunjangan, insentif, dan remunerasi yang besar tidak mampu melunakkan kethamakan para pejabat akan harta. Mereka tidak peduli halal haram, semua diembat, tidak peduli hak orang melarat.

Saudaraku, negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini tidak akan mampu membangun semangat persatuan, persaudaraan, dan kebersamaan yang hakiki kalau rakyatnya tidak memegang teguh tali agama Allah. Sesuai dengan pesan Allah dalam QS. Ali Imran : 103 "Wa'tashimuu bi hablillaaahi jamii'aw wa laa tafarraquu". (Berpeganglah kamu semua kepada tali (agama) Allah dan janganlah berpecah belah.)

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Maka untuk membangun semangat persatuan, pesaudaraan, dan kebersamaan itu ummat Islam harus dibimbing untuk kembali kepada agamanya, kembali kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah mereka dibimbing untuk menjadi manusia yang berakhlaq mulia, yang mengutamakan kepentingan bersama dari pada kepentingan pribadi atau golongan, yang menomor-satukan persatuan dari pada perpecahan, yang mendahulukan pertimbangan moral dari pada keserakahan.

Mereka sadar bahwa semua ucapan dan perbuatan harus mereka pertanggung-jawabkan di hadapan Allah. Mereka menghindari perbuatan makshiyat dan merugikan sesama karena Allah. Mereka berkarya untuk bangsa dan berprestasi untuk negeri juga karena Allah. Andai penduduk negeri ini seperti itu maka cita-cita untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat segera akan terwujud dengan pertolongan Allah.

Tanpa moral yang baik, sistem sebagus apapun akan dirusak, aturan sebagus apapun akan dilanggar, dan dana sebesar apapun akan habis dikorup. Pembangunan dengan orientasi ekonomi yang kita lakukan selama 66 tahun merdeka ini tidak membuahkan kemakmuran, apalagi kesejahteraan, karena dirusak oleh orang-orang yang tidak bermoral. Kapan lagi kalau tidak mulai sekarang untuk membangun bangsa dengan orientasi moral dari pada yang lain?.

~oO[ @ ]Oo~

Al-Ustadz Drs Ahmad Sukina
Ketua Umum Majlis Tafsir Al-Qur'an (MTA)


Satu komentar pada “Mensyukuri Nikmat PERSATUAN

  1. Jika setiap pribadi memiliki rasa syukur terhadap nikmat yg diterimanya,persatuan,kesatuan insyaallah tercapai

Beri Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.