Menjaga Persatuan

menjaga-persatuan-ahmad-sukina

(Mimbar Jumat - Solopos, 12/04/2019) Pesta Demokrasi yang digelar lima tahun sekali ternyata memiliki dampak negatif terhadap kehidupan sosial bangsa Indonesia, terutama terjadi saat berlangsungnya kampanye.

Bangsa ini seakan-akan terbelah menjadi dua,yang satu berhadapan dengan yang lain. Saling menjelekkan, saling menghujat, saling memfirnah, dan saling menebarkan berita bohong (Hoaks)

Umat Islam tersebar dikedua buku dan ajaran Islam melarang semua itu. Begitu mudah umat Islam meninggalkan ajaran mereka, padahal yang membidani lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia ini sebagian besar juga umat Islam.

Para ulama langsung terlibat dalam pertempuran melawan penjajah, sejak jauh sebelum negeri ini lahir, seperti pangeran Diponegoro dan Teuku Umar.

Ketika bangsa ini melawan pasukan Inggris di Surabaya, KH.Hasyim Asy'ari mendukung penuh Bung Tomo dengan fatwa hubbul-waton minal iman.

Para Santri dan Kyai beserta arek-arek Surabaya dengan gagah berani menghadapi pasukan Inggris yang bersenjata lengkap dan berhasil mengalahkan mereka.

Tanggal 17 April 2019 menjadi momentum yang penting bagi bangsa Indonesia untuk menentukan siapa pemimpin yang kita percaya memimpin bangsa yang besar ini selama lima tahun kedepan.

Jangan ada yang berhalangan hadir di tempat pemungutan suara (TPS) masing-masing untuk mencoblos surat sura. Nasib bangsa ini lima tahun kedepan sangat ditentukan oleh jumlah surat suara yang kita coblos.

Datanglah berbondong-bondong ke TPS dengan penuh suka cita dan cobloslah pasangan calon presiden dan wakil presiden serta calon anggota legislatif yang anda percaya mampu memimpin Indonesia lebih baik, lebih maju. lebih adil dan lebih makmur.

Hilangkanlah semua suasana tegang dan mencekam. Hadirkan suasana ceria untuk menyambut pemimpin baru siapapun yang akan ditetapkan oelh KPU (Komisi Pemilian Umum) karena memenangi Pemilian Umum.

Mari kita turut serta menjaga ketertiban dan keamanan. Kendalikan diri. Jangan ada yang emosi atau marah-marah di TPS. Jangan ada yang memancing kerusuhan. Aparat keamanan selalu siap siaga di tempat. Kalau ada yang melihat kecurangan tidak perlu ribut-ribut.

Silahkan melaporkan ke Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) dengan bukti dan saksi yang jelas. Para ulama dan umat Islam berharap pemilihan umum berlangsung dengan jujur dan adil sehingga terlahir pemimpin berkualitas yang sesuai harapann.

Siapapun pemimpin yang akan ditetapkan oleh KPU berdasarkan jumah surat sura terbanyak harus kita terima dengan legawa. Jangan ada dendam dan pemusuhan. Kita ini satu nusa satu bangsa dan satu bahasa Indonesia. Jangan ada kerusuhan dan huru-hara.

Negara ini rumah kita bersama, milik kita bersama. Mari kita jaga sebaik-baiknya. Yang menang jangan umuk (sombong) dan yang kalah jangan ngamuk (anarki). Kedepankan prinsip Bhinneka Tunggal Ika, meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu, untuk menjaga persatuan Indonesia.

Al-Ustadz Drs. Ahmad Sukina
Pimpinan Pusat Majlis Tafsir Al-Qur’an

SOLOPOS, Jumat 12 April 2019
solpos