Menjaga Perasaan Sesama

RASULULLAH SAW hadir dengan membawa Islam untuk menyempurnakan akhlak manusia. Allah Swt. berfirman, “Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al Qolam [68] : 4)

Akhlak Rasulullah adalah akhlak Al Quran. Rasulullah Saw. adalah orang yang paling dalam pemahamannya tentang Islam, paling kuat imannya, dan paling mulia akhlaknya. Jika kita ingin mengetahui tanda dari orang yang sangat dalam pemahamannya tentang Islam, maka tandanya adalah akhlaknya yang mulia.

Orang yang memahami Islam dengan bagus, maka akan bagus pula ibadahnya. Dan ibadah yang bagus niscaya akan menghasilkan buah yang bagus pula berupa akhlak. Oleh karena itulah Alloh Swt. berfirman,

“..Dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al Ankabut [29] : 45)

Akhlak dalam Islam tidak dapat disamakan dengan etika. Etika berkutat pada wilayah sopan santun antara sesama manusia, berkaitan dengan tingkah laku lahiriyah, dan semata didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan kemanusiaan.

Secara umum kedudukan akhlak adalah universal.

Nilai-nilai standar tentang akhlak sudah dihujamkan oleh Allah SWT ke dalam jiwa manusia sejak mereka lahir : “Maka Dia ilhamkan dalam jiwa itu kecenderungan untuk berbuat buruk (hawa nafsu) dan kecenderungan untuk berbuat takwa” (QS 91 Asy-Syams : 8).

Di sudut manapun di dunia ini, baik mereka yang mengenal Islam ataupun yang buta sama sekali, mereka semua akan memandang perbuatan dusta, ingkar-janji, fitnah dan berbagai keburukan perilaku yang lain sebagai perbuatan yang hina, culas dan salah. Jiwa manusia standar mengakui ini.

Seorang Muslim menjadikan akhlaknya sebagai sarana mendekatkan diri pada Allah. Puncak derajat kemanusian seseorang dinilai dari kualitas akhlaknya. Bahkan kualitas keimanan pun juga diukur dari akhlak. Seluas apapun kadar kelimuan seseorang tetang Islam, sehebat apapun dirinya ketika melakukan ibadah, atau sekencang apapun pengakuannya tetang kuatnya keimanan yang dia miliki, semua itu tidak memberi jaminan.

Akhlak merupakan pemberat timbangan amal kebaikan dan bagian amaliah yang banyak menyebabkan manusia masuk surga. Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi no. 2004 dan Ibnu Majah no. 4246. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Akhlak merupakan pilar suatu bangsa. Imam Syauqy mengatakan: Sesungguhnya bangsa itu tergantung akhlaknya. Bila rusak akhlaknya, maka rusaklah bangsa itu. Sesungguhnya diantara tanda-tanda datangnya kehancuran suatu bangsa ialah diangkatnya (didangkalkannya) pengetahuan agama, serta didukungnya sifat jahil (bodoh) tentang agama, diminumnya minuman keras secara terang-terangan dan dilakukan perzinaan secara meluas dan terang-terangan. [HR. Bukhari juz 1, hal. 28]

Adapun akhlak terhadap sesama, baik seagama maupun beda agama berada pada pilar-pilar berikut. Pilar-pilar yang merupakan kunci kemuliaan akhlak :

- JUJUR TERPERCAYA
Kejujuran merupakan pondasi terpenting dalam bangunan akhlak. Tanpa kejujuran akan hilang kepercayaan. Selembut apapun sikap seseorang, seramah apapun tutur katanya, bahkan seproduktif apapun kegemarannya menolong orang lain, tetap saja semua itu tidak banyak membantu jika tidak jujur.

Orang lemah lembut tapi tidak jujur akan diprasangkai punya maksud buruk di balik keramahannya itu. Adapun cara untuk bisa jujur terpercaya halhal yang mesti dilakukan adalah:

Jujur perkataan : Pastikanlah bahwa setiap perkataan yang keluar dari lisan kita terlebih dulu telah melalui proses pertimbangan yang matang. Jangan sampai kita tergelincir dengan mengatakan sesuatu berupa kebohongan, sengaja atau tidak. Ketika sekali saja berbohong, maka kebohongan itu akan terus menghantui dan memenjarakan dirinya. Dia akan ketakutan jika sewaktu-waktu kebohongannya akan terbongkar. Dia akan terus menutupi kebohongannya dengan berbohong kembali agar kehormatannya selamat.

- MENEPATI JANJI
Janji itu sejenis sumpah, dan sumpah itu adalah hutang yang akan terbawa sampai mati. Siapapun yang berjanji, maka janji itu benar-benar harus diperjuangkan matimatian untuk ditepati. Kita harus rela berkorban demi janji ini ditepati. Karena kesanggupan menepati janji adalah bukti kemuliaan akhlak seseorang.

- MELAKSANAKAN AMANAH
“Hai orang-orang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad saw) dan janganlah kalian mengingkari amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu sedang kalian mengetahui.” (QS 8 Al-Anfal : 27).

Bertanggung jawablah bila melakukan kesalahan. Seberat apapun hukuman dunia yang harus dipikul karena kesalahan itu, masihlah lebih ringan dibandingkan hukuman berupa siksa Allah yang perihnya tiada terlukiskan oleh gambaran apapun. Bertanggung jawablah selaku orang mumin. bertanggung jawablah selama di perjalanan.

Jangan menyerobot, tak mau antri, dan selalu berbuat bising di jalan. Jangan menawar tawaran orang lain, jangan meminang pinangan orang lain. Inilah Islam mengajarkan bagaimana menjaga perasaan sesama. Jika dilanggar tentulah akan menimbulkan keretakan hati dan membakar rasa amarah.

Bahkan mungkin sampai pada tingkat menumpahkan darah. Dari Ibnu Umar, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Janganlah seseorang menawar tawaran saudaranya, dan janganlah meminang wanita yang dalam pinangan saudaranya, kecuali saudaranya itu telah mengijinkannya” . [HR. Muslim juz 3, hal. 1154]

- RAMAH DAN LEMAH LEMBUT
Keramahan merupakan perpaduan dari amal-amal hati, niat yang tulus, serta kegigihan untuk selalu bersikap baik. Keramahan merupakan tahap awal kemuliaan akhlak. Alasannya adalah :

1. Keramahan adalah tanda kerendahan hati, ketawadhuan. Orang yang sombong cenderung untuk bersikap kasar, berhati keras, ketus, angkuh, dalam gerak-gerik maupun ucapannya.

2. Keramahan merupakan tanda kesabaran dan kesanggupan mengendalikan diri dalam berinteraksi dengan aneka macam perilaku orang lain.

3. Keramahan yang tulus merupakan indikasi melimpahnya rasa kasih sayang dan kegemaran hati untuk menghormati orang lain. Di sana tumbuh rasa persaudaraan yang menjadi dasar sikap mulia dan kebahagiaan. Keramahan sulit sekali dilakukan oleh orang yang hatinya penuh dengan permusuhan.

- APABILA BERTIGA, janganlah berbisik dua orang dengan meninggalkan (tidak melibatkan yang seorang). Ini berpotensi menimbulkan kecurigaan dan sakit hati. Jangan menempati tempat duduk orang lain. Apalagi sampai merebut. Ini adalah aib bagi seorang mukmin.

Dari Abdullah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kalian bertiga, maka tidak boleh dua orang berbisik-bisik tanpa melibatkan yang lain, sehingga kalian bercampur dengan orang banyak, karena yang demikian itu bisa membuatnya susah”. [HR. Muslim juz 4, hal. 1718]

Dari Ibnu Umar bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Janganlah sekali-kali seseorang diantara kalian menyuruh saudaranya untuk berdiri, lalu ia menempati tempat duduknya” . Dan adalah Ibnu Umar apabila ada seorang lakilaki yang berdiri dari tempat duduknya untuk menghormatinya, ia tidak mau duduk padanya. [HR. Muslim juz 4, hal. 1714]

- JANGAN NGOMONG TERUS
P
adahal lawan bicara (orang yang diajak bicara) ada kepentingan. Sehingga lawan bicaranya tersandera. Ada manusia yang bertipe suka ngomong, ceramah, memberi nasehat; baik ketika ditanya maupun tidak. Sementara lawan bicaranya sudah mingkat mingket, berkali-kali mengubah posisi duduk, garuk-garuk kepala, berkali-kali melihat jam sebagai isyarat mulai gelisah dan bermaksud meninggalkan tempat.

Tetapi dia bertahan berusaha untuk tetap setia mendengarkan sebagai bentuk menjaga persahabatan. Sayangnya, manusia tipe ini kurang (tidak) peka membaca suasana dan telmi. Ia tidak dapat membaca bahwa lawan bicaranya mempunyai kepentingan yang perlu segera dipenuhi.

Orang-orang seperti ini pada akhirnya akan menjadi persona non grata. Dijauhi teman-teman, tidak disukai teman-teman. Mungkin teman-temannya suka menghindar untuk bertemu, takut diceramahi. Berikutnya, seseorang secara tidak sadar telah melukai hati sesamanya melalui sebuah cerita atau action.

Ada seorang ibu bercerita bahwa anaknya tidak mau makan kalau tidak ada amis-amis (maksudnya daging). “Saya terpaksa setiap hari beli daging walau hanya sedikit. Kalau tidak ada daging, anak saya gak mau makan” , kata seorang ibu dalam obrolannya dengan teman-teman arisan. Di tengah-tengah mereka — para peserta arisan — adalah orang-orang yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan. Mereka umumnya makan dengan 2 K (karag, kecap) dan sambal.

Sudah tentu cerita ibu soal daging tersebut berpotensi menimbulkan gangguan perasaan (sebagai ganti kalimat menyakitkan hati). Terlebih saat itu ibu tersebut memakai tiga cincin bermata pada tiga jarinya pada tangan kanan dan tiga jari tangan kiri. Juga, dia memakai gelang pada tangan kanan dan kirinya. Berkali-kali dia membetulkan jilbabnya. Aksi ini secara tidak sadar, dia menunjukkan cincin dan gelang yang bertengger pada jari dan tangannya.

Penulis : AA Gim (Guru SMA MTA Surakarta)