Menjadi Saksi Mengamalkan Islam Sebenarnya

icon-ngamal-islam-mta"Mas, Tetangga saya itu suka bohong padahal dia ngaji disana..maka ojo ikut-ikutan ngaji"

"Lihatlah perilaku keluarga itu..setiap hari cekcok melulu..padahal kalo ahad pagi ya ngajinya disitu..."

Dua kalimat diatas adalah contoh negatif, bagaimana masyarakat akan selalu menilai terhadap apa yang dilakukan orang-orang yang sudah mengaji. Hal yang harus difahami adalah seseorang yang sudah mengaji (mengkaji islam) belumlah menjadi jaminan untuk menjadi baik. Dan apalagi orang yang tidak mau mengkaji. Bagaimana mungkin seseorang bisa menjadi baik tetapi tidak tahu bagaimana jalan-jalan lurus yang telah diberikan Allah SWT?

عَنْ اَبِى بَرْزَةَ اْلاَسْلَمِيّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا اَفْنَاهُ وَ عَنْ عِلْمِهِ فِيْمَا فَعَلَ وَ عَنْ مَالِهِ مِنْ اَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَ فِيْمَا اَنْفَقَهُ وَ عَنْ جِسْمِهِ فِيْمَا اَبْلاَهُ. الترمذى و قال: هذا حديث حسن صحيح

Dari Abu Barzah Al-Aslamiy, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah bergerak kedua tapak kaki seorang hamba (pada hari qiyamat), sehingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, Tentang ilmunya apakah ia amalkan, tentang hartanya dari mana ia mendapatkannya dan untuk apa ia belanjakan, dan tentang badannya untuk apa ia manfaatkan". [HR. Tirmidzi juz 4, hal. 36]

Kalimat diatas memberikan motivasi tambahan kepada kita semua agar selalu dan selalu berusaha mengamalkan apa yang sudah kita kaji. Karena ketika kita tidak mau berusaha mengamalkan apa yang sudah dipelajari, selain berdosa juga akan memberikan stigma negative kepada tempat kajian atau bahkan agama Islam secara keseluruhan.

Masyarakat akan selalu menilai, sudah diamalkan belum? Sudah berganti akhlaknya menjadi baik belum? Dan yang terjadi sekarang adalah hal-hal yang negative lebih menjadi sorotan daripada hal-hal yang baik yang telah dilakukan. Apalagi sorotan tersebut didasari dengan motivasi-motivasi lain selain dari kebaikan.

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلا تَعْقِلُونَ

"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebakjian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?" (QS.Al-Baqarah: 44).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ - كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan," (QS.Ash-Shaf: 2-3).

Orang yang sudah ngaji itu jujur adalah wajar dan wajib...tapi realitanya ketika melihat yang masih suka berdusta, menipu maka itulah yang akan menjadi sorotan. Maka sebagai orang yang berusaha menuju taqwa, ada beberapa hal yang musti dilakukan :

1. Tetap Terus Mengkaji

Tidak ada istilah 'lulus' dalam kegiatan mengkaji Al Qur'an. Ini adalah bagian dari menuntut ilmu yang harus dilakukan manusia sampai akhir hayat. Dengan terus mengkaji akan memberikan siraman hati seperti layaknya tanaman yang selalu diairi dan dipupuk agar tetap hidup dan berkembang. Dengan terus mengaji akan selalu terlindungi dalam lingkungan komunitas terpimpin yang saleh sehingga terhindar melaksanakan Islam secara sendiri-sendiri.

Dan dengan terus mengkaji, kita mempunyai tempat untuk berguru, menanyakan apa yang belum faham atau saling memberikan penjelasan mengingat keterbatasan ilmu dan akal yang dipunyai masing-masing.

أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

"Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran." (QS.Ar-Ra'd : 19)

2. Memperbaiki Akhlaq

Akhlak adalah symbol utama seorang muslim, karena itulah yang akan dilihat dan dirasakan diri dan lingkungan kita. Akhlak merupakan respon otomatis yang diberikan hati sang pengendali indera-indera fisik lainnya.

اِنَّ اْلفَحْشَ وَ التَّفَحُّشَ لَيْسَا مِنَ اْلاِسْلاَمِ فِى شَيْءٍ وَ اِنَّ اَحْسَنَ النَّاسِ اِسْلاَمًا اَحْسَنُهُمْ خُلُقًا. الترمذى

Sesungguhnya kejahatan dan perbuatan jahat, keduanya sama sekali bukan ajaran Islam, dan bahwasanya orang yang paling baik Islamnya ialah yang paling baik akhlaqnya. [HR. Tirmidzi]

Seseorang yang tersandung dijalan, kemudian yang terucap adalah Innalillahi .... Dan seseorang yang langsung berucap kata-kata kasar ABCDE adalah menunjukkan akhlak yang sebenarnya. Seseorang yang melihat Kemungkaran kemudian dengan sigap berusaha menegur karena tidak suka, tetapi ada juga yang mendiamkan bahkan mendukung..itu adalah bagian dari akhlak.

Seseorang yang selalu berpikir positif terhadap suatu kejadian yang menimpa saudaranya dan seseorang yang selalu berpikir negative ketika melihat suatu kejadian adalah bagian dari akhlak.

3. Selalu Introspeksi diri (muhasabah)

Sibuk mencari kesalahan sendiri bukan malah sibuk mencari dan mencari keburukan orang lain. No bodies perfect!..tidak yang sempurna dalam diri manusia, manusia yang paling baik adalah mau segera bertobat dan memperbaiki diri.  Bagaimana mungkin bisa memperbaiki diri jika tidak tahu kekurangan dan kesalahannya?

Pasti selalu ada kesalahan dan khilaf dalam diri manusia. Maka setelah menerima kajian, yang diperlukan adalah perenungan apakah hal-hal tersebut telah kita amalkan atau jangan-jangan itu adalah hal rutin yang kita langgar. Ngaji menjadi seolah percuma, jika hanya datang dan pergi tanpa bekas. Tidak ada yang nyantol di hati, jangan-jangan bukan keikhlasan yang kita niatkan?

Seseorang yang selalu instrospeksi, akan dengan senang hati menerima nasehat dan berterimakasih bukan malah tersinggung, sibuk membeladiri atau mendebat karena merasa dipermudah dalam mengenali diri.

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وِآلهِ وَسَلَّمَ : "اَلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ

Syaddad bin Aus r.a. berkata, Rasulullah SAW bersabda: "Orang cerdas adalah yang menghisab (introspeksi) dirinya serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT." (HR. Tirmidzi).

Seseorang yang selalu introspeksi akan memberikan nasehat dengan cara-cara yang baik  sehingga sang penerima menjadi lebih mudah menerima, bukan di permalukan atau dipersalahkan karena sangat mungkin yang terjadi bukanlah kesengajaan atau lupa.

4.       Berani Mencegah kemungkaran
Berani!...itulah kalimat yang harus dipunyai setiap muslim yang mengkaji. Karena tanpa keberanian berarti masih ada sesuatu hal yang kita takuti selain Allah SWT. Kenapa kita harus takut kepada manusia lain? Bukankah Allah berjanji untuk melindungi dan membantu hamba-Nya yang berjalan diatas kebenaran? Dan siapa yang paling menepati janjinya selain Allah?.

Mengatakan bahwa ini benar dan itu salah adalah keteguhan bagi orang yang beriman, tidak ada istilah grey area (abu-abu) atau remang-remang. Semua sudah jelas, maka ketika melihat kemungkaran atau usaha menuju dosa, maka respon keberanian akan muncul dengan sendirinya.

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْآ اَنْ يَّقُوْلُوْآ امَنَّا وَ هُمْ لاَ يُفْتَنُوْنَ. وَ لَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَ لَيَعْلَمَنَّ اْلكذِبِيْنَ. العنكبوت

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (begitu saja) mengatakan, "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi ?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar imannya dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta (imannya). [QS. Al-'Ankabuut : 2-3]

Apakah kemudian menjadi tidak disukai masyarakat adalah hal yang biasa, bukankah Allah selalu menguji hamba-Nya sehingga akan terpilih mana yang beriman dengan sungguh-sungguh dan mana yang hanya dibibir saja. Atau munafik, selalu berubah-ubah tergantung kondisi dan kepentingan duniawi.

5. Berdakwah dimanapun adanya

Kewajiban seorang muslim adalah tidak berkeberatan untuk menyampaikan kebenaran walaupun satu ayat. Islam jauh dari sifat menyimpan ilmu rapat-rapat untuk diri sendiri dan Islam bisa mendunia hanya dengan dakwah. Tanpa itu siapa yang akan menunjuki hati manusia, betul sekali bahwa Allah-lah saja yang mampu menunjuki hati. Tetapi bukankah semua itu butuh sarana dan usaha? Semua tidak tiba-tiba saja turun dari langit khan?

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (QS.Fushilat : 33)

Bahkan seseorang bisa jadi beromong kosong ketika berkata "Allah belum memberikan petunjuk kepada saya", padahal jalan-jalan menuju kesana tidak mau menempuhnya.

Benar sekali ! berdakwah tidak harus duduk didepan, duduk di mimbar atau menjadi penceramah. Dakwah yang efektif juga bisa dilakukan dengan berakhlak baik dan mengamalkan Islam sebenar-benarnya sehingga orang lain akan tersentuh hatinya melihat indahnya Islam.

6. Meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah

Salah satu parameter peningkatan sebuah iman adalah rajin melaksanakan ibadah wajib maupun sunnah. Rajin yang dirasakan adalah buah dari mampunya hati dalam merasakan nikmat ketika beribadah. Karena bisa jadi ibadah yang dilakukan dijadikan sebagai beban kewajiban.

"Wah..sudah adzan lagi euy.." Contoh sebuah ungkapan meragukan, seolah-olah tidak suka ketika ada seruan shalat wajib. Padahal seharusnya terucap "Alhamdulillah..." mari kita tinggalkan segala aktivitas untuk menghadap kepada Allah dengan segera.

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِينَ (٤٥)الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

" Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan)shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya".[QS.Al Baqarah : 45-46]

7. Rela mengorbankan harta dijalan fisabilillah

Didalam Al Qur'an sering disebutkan kombinasi amal antara shalat dan zakat. Disini menunjukkan bahwa shalat kita yang telah dilakukan sungguh-sungguh memberikan efek positif kepada pelakunya untuk secara ikhlas mau membantu saudara yang lain.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar. "(QS. Al Hujuraat : 15)

Rela untuk memberikan sebagian harta yang dititipkan Allah kepada yang berhak. Baik dengan zakat, infaq dan juga wakaf. Bukankah itulah yang akan menjadi harta yang sebenarnya yang kita punya? Bukankah ciri jiwa beriman itu mau menjadi dermawan kapanpun jua, diwaktu lapang dan sempit?

هَا أَنْتُمْ هَؤُلاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمِنْكُمْ مَنْ يَبْخَلُ وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ

"Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir Sesungguhnya Dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini. "(QS.Muhammad:38)

Terakhir mari ikhlaskan apa yang telah dan akan dilakukan ini hanya untuk dan kepada Allah SWT bukan kepada manusia. Sehingga ketika cacian dan pujian muncul disekitar kita, maka kita kita tidak mudah mudah goyah dan tidak menjadi sombong membanggakan diri.

Semoga bermanfaat .


12 komentar pada “Menjadi Saksi Mengamalkan Islam Sebenarnya

  1. untuk menjadi benar memang susah dan butuh proses. Semoga Allah memberikan qt kekuatan utu berjuang menjadi orang yang baik dimata Allah

  2. Iblis dan antek2nya tidak mengenal kamus “pensiun” dalam mencari kroni nerakanya. Sedang naluri kita sering cenderung mengamini ajakannya. Bayangkan jika kita malas mengaji, alergi tausiyah dan mau’idhoh hasanah. Apa jadinya kita ini. Yang rajin ngaji saja masih banyak tergelincir, apalagi yang ogah-ogahan… Sadarlah.

  3. naluri manusia cenderung berbuat kejahatan. namun apabila didasari dengan mengerti dan memahami al Qur’an dan as sunah insyaallah akan menuju perbuatan yang sedikit demi sedikit menjadi baik…………

  4. Ustadz pernah berujar spt ini, ” ngaji ora ngaji podo wae…”

    Alangkah ruginya kita yang terlahir dlm Islam, dikelilingi keluarga Islam, berada dalam lingkungan Islam, rutin ngaji… tapi tetap sami mawon, g ada perubahan ke arah kebaikan. Bahkan akhlaq kita g jauh beda dgn mrk yg belum ngaji.

    Hati2, bila hati, pendengaran dan penglihatan kita sampe dikunci mati oleh Allah. Krn y tadi… ngaji ora ngaji podo wae…

    Mk dr itu, mari, kita bersama2 rajin mengaji dan berusaha mengamalkannya. Krn… jk tdk, maka intip neraka bs jd jaminannya! Mau???

  5. saya setuju banget dengan ungkapan :
    “Orang yang Ngaji belumlah menjadi jaminan untuk menjadi baik”
    Masih perlu proses yang butuh kesabaran dan istiqomah..mari kita saling membantu dalam pengamalan..

    Bagi yang belum ngaji atau tidak mau ngaji..renungkanlah .

Beri Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.