Menjadi Pemimpin Yang Sukses

pemimpinRasulullah SAW telah memberi nasehat kepada umat islam tentang tanggungjawab, bahwa setiap amanah yang dipikul oleh umat manusia adalah sebuah tanggungjawab yang harus dipertanggung jawabkan dihapan Allah Tuhan pemberi amanah.

Kepemimpinan didalam Islam sangat mudah untuk diwujudkan, asal mekanisme yang telah ditunjukkan oleh Allah telah dijalankan. Tugas seorang pemimpin kepada anak buahnya adalah untuk mengenal Allah dan ta'at serta tunduk patuh kepadanya, sebagaimana dalam nasehat Luqman kepada anaknya :

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu:"Bersyukurlah kepada Allah.Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". (QS. 31:12)

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya:"Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS. 31:13)

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibubapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. 31:14)

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. 31:15)

(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya).Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS. 31:16)

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS. 31:17)

Dan janganlah memalingkan muka dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. 31:18)

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (QS. 31:19)

Nasehat orang tua kepada anak, sama halnya dengan nasehat seorang pemimpin kepada anak buah. Bila anak-anak sudah menghayati dan mewujudkan nasehat orang tuanya, berarti anak itu sudah mampu mewarisi kepribadian bapaknya yang sholih, demikian pula bila seorang pemimpin sudah mampu memahamkan kepada seluruh anak-buahnya untuk berlaku sebagaimana petunjuk-petunjuk Allah, maka seluruh bagian yang dipimpin sudah akan mampu bekerja dan berputar selaras dengan tujuan mulianya.

Kepemimpinan Model Rasulullah adalah kepemimpinan berdasarkan pada keutamaan untuk selalu menasehati sahabat-sahabatnya untuk memiliki sifat yang mulia, selalu bersyukur kepada Allah, bersyukur kepada orangtua, bersyukur kepada sesama manusia. Dan bersabar dari segala hal-hal yang menyimpang agar tidak terseret dan terjerumus kedalamnya serta meyakini akan setiap balasan amal perbuatan walau "sebesar biji sawi", semua ada balasannya.

Bila kita menemukan pemimpin yang mengutamakan membangun rohani manusia ditinggikan diatas membangun jasmani manusia, merekalah pemimpin-pemimpin yang berhasil, kecuali bila kita telah memasuki sebuah zaman dimana kebanyakan manusia sudah tidak mau dipimpin menuju kepada kebaikan.

Bagaimana kita akan memimpin manusia yang tidak mau mengenal Allah sang Maha Pencipta, bagaimana kita akan memimpin orang-orang yang tidak bisa mengingat jasa-jasa orang tua, bagaimana kita akan memimpin orang-orang yang suka berbuat sombong dan bangga diri, bagaimana kita akan memimpin orang-orang yang tidak tahu bedanya antara amal baik dan amal buruk.

Dunia telah dicipta oleh Allah lengkap dengan segala fasilitasnya sejak sebelum diciptakannya, Dialah Allah yang Maha Kaya. Yang dinilai oleh Allah bukan kecakapan manusia membangun fasilitas-fasilitas hidup, namun yang dinilai oleh Allah adalah kemauannya yang sungguh-sungguh untuk menjadi baik, berakhlaq baik kepada Allah, berakhlaq baik kepada sesama manusia, dan menggunakan kehidupan untuk selalu bertasbih dan mengagungkan Allah Tuhan Semesta Alam. Tuhan yang Maha Suci, Maha Mulia, Maha Tinggi, Maha Perkasa, Tuhan yang tidak akan pernah Mati dan Kekal selama-lamanya.

Pemimpin yang sukses adalah mereka-mereka yang dapat memimpin manusia menemukan Tuhan dan menemukan kelezatan didalam berta'at mengagungkan Tuhan, Tuhan Allah yang Maha Pandai.


5 komentar pada “Menjadi Pemimpin Yang Sukses

  1. Menjadi seorang pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang bisa menbawa negaranya aman tentran dan damai tidak ada gejoak baik dari segi Ipoleksosbud Hankamag tapi indonesia belum memiliki pemimpin masa depan

  2. memang di Indonesia sulit diberi seorang pemimpin.mengapa dalam pemilu 2yg di munculkan bukan tip seorang
    pemimpin dgn jalan pengkaderan per generasi dan yg lebih para .narapidana .koruptor

  3. kebanyakan sekarang orang-oang lupa apa tujuan hidupnya, semua orang sekarang hanya memikirkan hasilnya saja tanpa memikirkan bagaimana caranya memperoleh suatu hasil yang diinginkannya tersebut, kebanyakan hanya memikirkan bagaimana cara hidup yang baik tetapi sedikit sekali yang memikirkan bagaimana cara hidup yang benar, klo kita bicara baik dan buruk pasti tidak ada barometer yang pasti, berbeda klo kita berbicara tentang baaik dan benar, untuk itulah kitab2 Allah diturunkan oleh Allah ke bumi supaya kita tau mana yang benar dan mana yang salah, untuk menegakkan kebenaran tentu diperlukan suatu kekuatan politik yang besar, punya kuasa untuk menentukan sesuatu atau sering kita sebut kholifah pada jaman rosulullah. orang2 yang nantinya akan duduk disini harus bener2 orang yang dipilih Allah dalam arti bukan Allah menunjuk hidung orang tersebut tetapi orang2 yang bener tidak ada tujuan lain dalam hidupnya kecuali hanya untuk beribadah kepada Allah, sehingga dia benar2 mampu mengaplikasikan apa yang ada dalam al qur’an tanpa menggunakan nafs-nya. dan orang2seperti itu memang harus dikader bukan datang secara tiba2.

  4. Saya ada referensi dalam Impian dalam mempersiapkan kepemimpinan, begini :

    Kita bersama adalah berdirinya sebuah masyarakat Islam yang menegakkan dinullah dan syariah-Nya di muka bumi. Umat Islam, baik para pendukung demokrasi dan para penetangnya, sama-sama sepakat dengan cita-cita ini. Mereka hanya berbeda jalan.

    Demikian juga dengan mereka yang mau berjuang inside atau outside, kedua belah pihak sama-sama mencita-citakan tegaknya syariah Islam di negeri tercinta ini. Tinggal pilihan langkahnya yang berbeda.

    Semua perbedaan itu akan selesai kalau kita berhasil melahirkan generasi bangsa ini yang beriman dan lebih islami. Karena apa pun caranya, sudah pasti berhasil. Mau perjuangan lewat demorasi (berpartai dan berparlemen), atau mendirikan lagi negara Islam (kudeta, revolusi, reformasi dan sejenisnya), sama saja. Asalkan jumlah kader generasi generasi mendatang mencukupi, lewat proses tarbiyah secara islami yang profesional dan kontiniu.

    Kalau kita bisa melakukan pengkaderan umat ini secara lebih produktif, mengisi ruang-ruang kosong yang banyak ditinggalkan para pemimpinnya, merengsek ke seluruh pelosok nusantara, menembus sekat-sekat antara kelompok, golongan, jamaah, ormas dan lainnya, kita akan menghasilkan satu lapis generasi yang lebih baik, sesuai dengan cita-cita bersama itu.

    Mungkin anak-anak kita nanti akan lahir dengan kondisi iman yang lebih mantap, wawasan syariah yang lebih luas dan mendalam, akhlak yang lebih terjaga, stantar moral yang lebih bersih, serta semangat ukhuwah dan bekerja sama yang jauh lebih implementatif.

    Boleh jadi saat itu nanti, mereka tidak butuh partai politik, tidak butuh perseteruan antar kepentingan secara internal di dalam partai, tidak butuh saling gesek, saling gasak, saling gosok sesama partai, bahkan tidak butuh pemilu atau pilkada.

    Kenapa?

    Karena tingkat kesadaran dan wawasan mereka sudah berbeda dengan apa ada pada kita sekarang ini. Boleh jadi mereka sudah berpikir jauh lebih efisien, tidak perlu pemilu yang menghabiskan begitu banyak energi dan waktu. Cukup disepakati saja siapa yang layak jadi pimpinan dan ditetapkan oleh majelis syuro, sebagaimana yang terjadi di masa khilafah rasyidah.

    Lalu satu orang dibai’at menjadi amirul mukminin, yaitu orang yang paling tinggi imannya, paling paham atas agamanya, paling wara’, paling tidak suka kemewahan duniawi, paling anti dengan kemunkaran dan paling suka dengan kebaikan.

    Orang-orang yang akan kita lahirkan itu mirip-mirip dengan Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali, ridhwanullahi ‘alaihim. Setidaknya punya keceerdasan seperti Umar bin Abdul-Aziz, atau punya standar moral seperti Said bin Amir ra.

    Tapi generasi seperti mereka itu tidak akan lahir begitu saja, tidak akan turun dari langit, tidak seperti konsep ratu adil, satria piningit, dan sejenisnya. Tidak dan 1000 tidak.

    Pemimpin yang seperti itu harus diproduksi, dipersiapkan, dilahirkan, ditarbiyah, dikader dan dirangcang untuk jangka waktu yang lama. Pastikan bahwa tidak ada seorang anak pun di Indonesia ini yang tidak diikutkan dalam proses pengkaderan. Pastikan mereka akan melewati masa pengkaderan yang terbaik selama 20-30 tahun. Itu artinya kita harus habis-habisan dalam bidang pendidikan.

    Selama ini kebobrokan sistem pendidikan kita adalah biang keladi dari semua kerumitan dan kebobrokan bangsa. Mereka menjalani sistem pendidikan sekuler, yang tidak dikenalkan dengan tuhan, tidak dikenalkan dengan moral, apalagi ilmu pengetahuan.

    Percayalah bahwa umat ini tidak akan menjadi baik hanya dengan melakukan pemilu. Berkali-kali ikut pemilu, partai Islam belum pernah menang dalam sejarah di Indonesia. Bukan untuk menggembosi semangat berpartai saudara-saudara kita, tetapi itu adalah angka sejarah yang tidak bisa ditutup-tutupi.

    Tetapi di lain pihak, umat ini juga tidak akan menjadi baik hanya dengan berdebat apakah kita pakai sistem demokrasi atau tidak. Umat tidak akan baik kalau kerjaan kita hanya mengkritik sesama saudara muslim yang sudah bersusah payah memperjuangkan dakwah lewat cara mereka.

    Umat baru akan mengalami perbaikan manakala kita melepas semua sekat-sekat yang terlanjur mengkotak-kotakkan kita. Umat baru akan mengalami perbaikan manakala kita bisa menyatukan seluruh aspirasi dalam satu program dan agenda besar bersama, yaitu menyiapkan generasi berikutnya. Tentu hasilnya tidak akan bisa kita nikmati hari ini juga. Setidaknya kita butuh 20-30 tahun untuk menyiapkan generasi ini, bahkan boleh jadi lebih.

    Tapi seberat apa pun pekerjaan kita, kalau kita kerjakan bersama-sama dengan semua lapisan umat, tanpa membedakan ormas, partai, kelompok, golongan, mazhab, pengajian, dan sekat-sekat lainnya, insya Allah pekerjaan kita menjadi ringan. Dan akan jauh lebih ringan kalau tujuan kita tidak tersamarkan dengan tujuan duniawi lainnya. Setidaknya, bukan untuk memajukan satu kelompok saja, tetapi untuk kemajuan semua kelompok secara bersama-sama.

    Umat merindukan persatuan dan keseragamaan arah kebijakan program dan agenda nasional seperti itu. Sebuah agenda nasional umat Islam yang didukung oleh semua lapisan dan unsur. Tujuannya sederhana, melahirkan generasi umat Islam terbaik yang menjadi cita-cita dan harapan.

    semoga bermanfaat

  5. bukan pesimis….untuk saat ini sepertinya masih banyak pemimpin yang BELUM DAN TIDAKSIAP UNTUK DITEGUR jika membuat suatu kesalahan…kadang malah dianggap RIVAL…walau dia seorang muslim yang sholat dan puassnya rajin.apalagikalau yang menegur itu bawahannya atau orangyang pendidikannya lebih rendah…bahkan yang pernah kualami karena pimpinanku tidak suka cara kerjaku yang selalu memakai data yang otentik dan kejujuran malah di mutasi..dan di depak semaunya sendiri….dan akumemilih hengkang untuk lebih selamat akhiratku.

Beri Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.