Mengurai Benang Kusut Demografi dan Pemerataan Kesejahteraan

makkah1Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW. Keindahan kehidupan umat islam generasi pertama telah menjadi bayang-bayang indah yang terus menerus umat islam generasi berikutnya ingin kembali menggapai kemuliaan-kemuliaan gemilang yang telah mereka capai.

Tidak dipungkiri bahwa negri-negri muslim termasuk negri kita pada saat ini adalah tergolong dalam kelompok negara ketiga, negara selatan, negara yang dikatakan sebagai negara berkembang. Penggolongan bangsa-bangsa di dunia saat ini sering dipilah-pilah dalam beberapa kelompok, misalnya negara-negara G8 yang terdiri negara-negara maju, makmur dan super power.

Ada pula negara-negara yang tergabung dalam Kelompok OKI yang anggota utamanya adalah negara-negara Islam di Timur Tengah dan negara-negara Islam. Ada lagi negara kelompok Uni Eropa, Kelompok persemakmuran Afrika. Kelompok negara Amerika Latin, Kelompok Uni sowyet dan negara-negara Balkan. Dan banyak lagi persekutuan-persekutuan bangsa-bangsa dunia dalam bentuk organisasi-organisasi khusus lainnya.

Keberadaan tatanan Dunia di abad ini tentu merangsang kita sebagai umat Islam untuk andil dalam percaturan dunia yang semakin hari semakin rapat dan semakin ketat. Parsaingan antar bangsa-bangsa dalam bentuk perdagangan dunia dan unjuk kekuatan menjadi semakin menonjol dan dominan. Kompetisi antar kelompok telah menjadi kompetisi masyarakat dunia di hari ini.

Kelompok umat Islam generasi pertama telah menunjukkan bukti-bukti kemuliaannya, dan telah mempersembahkan keindahan karya cipta yang monumental sepanjang zaman. Hal yang demikian telah mengusik hati setiap umat Islam di zaman ini, dan menimbulkan suatu keirian yang positip, yaitu bertanya-tanya dalam hati, karya monumental apa yang dapat kita suguhkan dalam masa kehidupan kita, sebagai anak-anak orang Islam yang begitu mulia dan berwibawa, dan telah menyuguhkan karya-karya besar dan mulia dalam kaliber dunia yang amat bermanfaat.

.
Rasulullah SAW bersabda yang artinya :

Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak. (HR. Abu Dawud)

Hadist diatas merupakan nasehat Rasulullah kepada umat Islam untuk menikah dengan wanita-wanita yang penyayang, dan Rasulullah bangga dengan banyaknya umat Islam yang   memiliki jiwa kasih sayang, yang kuat, berilmu, beriman dan bertaqwa sebagaimana perintah Allah kepada umat Islam untuk menjaga kemulian umat ini dengannya
.

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (iman dan taqwa) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (QS. 4:9)

…………niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 58:11)

……….Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri. ……………(QS. 13:11)

.

Tiga ayat tersebut telah diamalkan dengan sungguh-sungguh generasi-generasi umat islam yang berjaya. Yaitu mereka senantiasa mengedepankan generasi mereka untuk menekuni jalan ilmu, jalan iman dan jalan taqwa.

Iman dan taqwa yang kuat harus dilandasi dengan ilmu tentang Al-Qur'an dan As-Sunnah yang benar. Sehingga keimanan dan ketaqwaan benar-benar terwujud dalam diri seseorang. Demikian pula keberhasilan dalam mengolah nikmat Allah berupa nikmat dunia, alam raya seisinya, juga membutuhkan ilmu yang harus dipelajari dengan sungguh-sungguh dan teliti. Sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kehidupan di dunia akan menjadi sangat indah bila taman-taman ilmu ditebarkan dimana-mana. Lihatlah bagaimana generasi Islam pertama yang sangat pemurah dalam menyebarkan ilmu. Mereka tidak ingin menyembunyikan ilmu atau pula memonopoli ilmu. Ciri inilah yang menjadi ciri utama dan sumber kekuatan generasi-generasi Islam yang mulia.

Bagaimana jika sebuah negri yang dipenuhi dengan manusia-manusia yang berilmu, beriman, bertaqwa dan pemurah. Tentu akan menimbulkan produktifitas yang sangat tinggi.

Bagaimana Rasulullah telah melarang seorang muslim untuk menjadi pengemis. Dan demikian pula nasehat Rasulullah, bahwa tangan diatas adalah lebih baik dari tangan yang dibawah. Ini semua menganjurkan umat Islam untuk memiliki produktifitas yang tinggi. Tidak suka menjadi peminta-minta tapi sangat senang menjadi manusia-manusia yang suka memberi.

Orang-orang berilmu, beriman dan bertaqwa, yang berhati pemurah, bila demikian keadaan suatu masyarakat maka benarlah janji Allah sebagaimana firmannya yang artinya:

.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi,……… (QS. Al-A'raaf: 96)

………..Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. (QS. Ath-Thalaaq: 2) Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya………….(QS. Ath-Thalaaq: 3)

.

Manusia-manusia yang bertaqwa, baik dari kalangan yang manapun, baik yang cerdas-cerdas atau yang tidak cerdas, tentu tidak akan menyia-nyiakan untuk menggapai janji Allah berupa nikmat-nikmat di dunia hingga nikmat surga di akherat kelak. Sehingga akan banyaklah disana sini bertebaran orang-orang yang murah hati dan suka menolong satu sama lain untuk saling berlomba-lomba memperbanyak pahala kebaikan yang ingin diraihnya, memiliki sifat lapang dada untuk memberi pertolongan kepada orang lain untuk menempuh kesejahteraan bersama.

Batapa kehidupan menjadi sangat indah dan mempesona jika di muka bumi ini dipenuhi dengan orang-orang yang selalu menempuh jalan kebaikan dan berhati pemurah. Tentu kehidupan akan menjadi maju, disiplin dan nyaman namun diwarnai pula dengan akhlaq mulia yang penuh keikhlasan

Di jaman hari ini, wacana-wacana senantiasa bergulir untuk mencari jawab bagaimana umat islam bisa kembali pada posisinya, sebagai umat yang membuktikan bahwa Islam adalah rahmat bagi semesta alam.

Banyak kita jumpai disana sini, orang-orang yang mengaku beragama Islam namun tatacara mengisi hidupnya jauh dari tuntunan Islam. Bahkan kadang ada umat islam yang mengisi hidupnya dengan aktifitas-aktifitas yang kotor serta tekun menikmati hiburan-hiburan yang kotor-kotor, sehingga jiwanya tertutup dari nikmat petunjuk islam, dan tidak mampu menangkap pencerahan jiwa yang telah dipancarkan oleh Islam. Sehingga tanpa disadari hidupnya telah menjadi benalu yang selalu merugikan dan mencelakai diri dan orang lain, dan telah andil pula dalam memberi citra buruk pada Islam yang sebenarnya Mulia dan Tinggi.

Keindahan generasi Islam yang pertama demikian cerah dan gemilang, akan dapat diwujudkan bila umat islam jaman hari ini mau mengikuti segala aktifitas mereka dalam mengilmui, mengimani dan mengamalkan Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Banyaknya jumlah umat islam yang ada disaat ini akan menjadi rahmat bagi semesta alam bila mereka semua menempuh tatacara hidup yang benar-benar Islami. Dengan cara yang demikian insyaallah negri-negri muslim tentunya akan menjadi negri yang maju dan damai dalam lindungan dan kasih sayang Allah. Wallahu'alam


4 komentar pada “Mengurai Benang Kusut Demografi dan Pemerataan Kesejahteraan

  1. Nimbrung aja dikit, Yang disajikan yang begituan, ya penduduknya meningkat tajam, lha gimana lagi???, maunya untung banyak kan???, mbok ya petugas KB keluar masuk rumah, nggak ada fungsinya, lha TV nya yang dikamar-kamar menyiarkan yang merangsang-merangsang, Yang disajikan banyak yang pecical pecicil, masak penonton disuruh sopan… jauh panggang dari api.., ya penonton akhirnya jadi pecical pecicil semua…, semua pasti tau bahwa effek siaran TV adalah suangat-suangat buuuuesar terhadap moral suatu bangsa, apalagi bangsa yang banyak penganggurannya…

  2. Sumbahsih Kanal-Kanal Siaran TV telah memiliki andil besar dalam membangun karakter bangsa indonesia di hari ini, Bila siaran TV diisi dengan pembangunan karakter positip, maka akan tumbuh pesat jutaan masyarakat berkarakter positip, sebaliknya jika yang disiarkan hal-hal yang meruntuhkan karakter positip, dan menularkan karakter negatip, maka dalam sekian waktu akan tumbuh jutaan manusia yang aqal dan hatinya terisi dengan guratan-guratan infeksi akibat siaran yang menyiarkan karakter negatip…. sungguh negri ini telah dibangun diantaranya dengan gencarnya siaran TV…. redupnya karakter kita , sebenarnya semua orang sudah tahu sebabnya.. namun semua cuek-cuek saja… agaknya hanyalah ” PERINGATAN TUHAN “. yang akan bisa merubah karakter bangsa ini ….. nasi sudah menjadi bubur….

  3. problem mendasar yang dihadapi bangsa ini adalah degradasi moral. Moral sudah jauh ditinggalkan oleh orang -orang di negeri ini, banyak orang yang demi kepentingan pribadi sanggup menggadaikan aqidah dan moralitasnya. Orang sudah tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah, semuanya dia terjang untuk memenuhi ambisinya, tanpa melihat penderitaan orang-orang disekitarnya. Mereka tertawa ditengah tangisan orang lain. Kadang aq heran.. mengapa negara yang mayoritas muslim, akhlaknya seperti ini? apanya yang salah.. pribadinyakah? atau sistemnya? . Andaikan orang mau merefleksi dirinya dan kembali pada Tuntunan Quran dan sunnah.. kemungkinan bencana tidak terus terusan melanda negeri ini…. Ya rabb selamatkan negeri ini dari kehancuran… . Bimbinglah pemimpin kami untuk teguh menjalankan amanah.. amiin

  4. bila manusia bertaqwa, insyaallah banyak masalah yang bisa diselesaikan, bagaimana ya memproduksi orang bertaqwa itu, padahal sumpah jabatan juga dengan kata-kata taqwa tapi kok ya masih banyak koruptor disatu sisi dan orang miskin makan nasi kering, oh kasihan ya!

Beri Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.