Mengulik Beragam Kisah di Balik Pengajian Ahad Pagi

jihadpagi-01Banyak kisah yang hendak dibagi di balik pengajian ini. Kisah sendu berbalut kebahagiaan yang hakiki. Ditemani oleh semangat juang yang tak pernah pupus oleh apapun jua, entah raga ataupun harta. Karena hanya Dia-lah yang menjadi tujuan manusia hidup di dunia ini.
Yah, pengajian Ahad Pagi, kehadirannya mampu menyedot puluhan ribu orang yang haus akan petunjuk-Nya. Di sinilah, tempat menimba ilmu bagi orang-orang yang merasa lapar akan pengetahuan tentang dienullah (Agama Allah). Entah tua, muda, kalangan bawah hingga atas, sampai berpendidikan tinggi hingga tak berpendidikan sekalipun hadir di sini. Semua duduk bersila sama rata, tak ada yang merasa lebih tinggi satu sama lain.

Layaknya magnet yang mampu menarik kuat-kuat, pengajian Ahad Pagi tak pernah sepi didatangi. Setiap hari Ahad, kajian ini selalu dipenuhi oleh jamaah yang hadir dari berbagai daerah. Tiga lantai selalu sesak oleh mereka yang hendak menuntut ilmu dien. Di lantai dasarpun, tak lagi longgar diduduki.

Jika dibanding dengan keramaian pengunjung Mall di Solo, meski hari libur sekalipun, pengunjung pengajian Ahad Pagi menang jauh. Kenapa? Karena para pengunjung di pengajian ini telah tahu dan paham jika harta dan jiwanya telah dibeli oleh Allah. Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka...” (QS At taubah 111)

Yah, karena merasa telah dibeli oleh Allah itulah, mereka tak segan-segan mengorbankan harta dan jiwa demi mengharap ridha-Nya. Mereka percaya akan janji Allah, karena Dia tak pernah memungkiri janji-Nya. Sebagaimana Allah menjelaskan dalam kelanjutan dari ayat di atas, “...Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”

Jarak yang jauh sekalipun tak menjadi soal. Terbatas masalah kendaraan, sampai harus berganti-ganti bus, tak menjadi halangan. Bahkan, berjalan pun tak goyah dilalui. Semua dilakukan, karena merengkuh cahaya-Nya teramat indah untuk didaki. Yah, hanya menuntut ilmu agama Allah-lah mereka akan menemukan cahaya itu, mengeluarkan dari gelap menuju terang. Mengkaji Islam berdasar Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Allah telah menjelaskan itu dalam QS Al Maidah 16, “Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.”

Banyak Rintangan

Dicerca, dikucilkan atau bahkan diusir dari kampungnya, sudah menjadi kisah klise ketika seseorang mendengarkan pengajian Ahad Pagi, entah melalui radio atau datang langsung. Menjadi klise, karena perlakuan orang-orang yang belum atau tidak mau memahami ayat-ayat-Nya ini memang sudah ada sejak zaman nabi dahulu.
jihadpagi-03
Yang membelalakkan mata ketika mereka harus mendapat tentangan keras dari keluarga mereka sendiri. Suami, istri, orang tua atau bahkan anak menjadi penentang akan jalan Allah yang telah mereka tempuh.
Seperti kisah dari dua orang ibu yang berasal dari Wonogiri. Karena mendapat tentangan dari suami mereka, sampai-sampai mereka harus diam-diam mengikuti kajian Ahad Pagi tanpa sepengetahuan dari suami mereka.

Hal senada juga mendera seorang ibu yang berasal dari salah satu daerah di Jawa Timur. Datang bersama tiga putrinya tanpa didampingi suami. Karena tidak ada biaya, ibu ini rela datang sehari sebelumnya dengan menaiki kereta secara gratis. Begitu mendramatisirnya kala itu, ketika ia hendak berangkat menaiki kereta. Barang bawaannya disita oleh suami. Namun, karena kereta akan segera berangkat, ibu ini harus rela tidak membawa serta barang bawaannya.
Tiba di Solo sudah larut malam, pukul 22.00 WIB. Dan mereka pun bermalam di gedung MTA Mangkunegaran. Ini dilakukan hanya untuk mengkaji agama Allah. Subhanallah.

Rupanya, ditentang oleh keluarga sendiri sudah menjadi hal biasa jika seseorang hendak menjalankan Islam yang sesuai tuntunan. Kisah dari seorang bapak berinisial S juga tak kalah “elok” dari mereka. Bayangkan, untuk menjalankan syariah Islam, ia harus mendapat tentangan dari istri sendiri. Istri yang seharusnya bisa dipimpin ke jalan yang diridhai Allah justru memberontak dan bahkan menentang keras jalan yang telah ditempuh suaminya itu. Na’udzubillah.
Kisah-kisah di atas hanyalah sebagian kisah dari banyaknya kisah-kisah lain dari para jamaah yang hadir di pengajian Ahad Pagi. Banyak rintangan yang harus mereka lalui. Dan rintangan itu teramat pahit dijalani. Namun, inilah ujian dari Allah bagi orang-orang yang beriman.

Allah berfirman, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS At Taubah 16)

Insafnya para Mantan

jihadpagi-02Pengajian Ahad Pagi banyak dihadiri oleh para mantan, bukan mantan da’i atau ulama, melainkan mantan preman, copet, penjudi bahkan dukun santet pun bisa insaf karena hidayah-Nya yang datang melalui pengajian ini. Berawal dari mendengarkan radio secara tidak sengaja, Allah telah mencerahkan pemikiran mereka akan kehidupan kelam yang telah menjeratnya.

Islam telah mengembalikan mereka ke jalan yang terang. Biarpun berpredikat sebagai mantan preman, copet, penjudi, dukun santet dan lain sebagainya tidak membuat mereka berkecil hati akan komentar sinis dari orang. Toh, itu hanyalah mantan, yang mana hanya menjadi masa lalu lantaran karena jahilnya mereka tentang Islam yang sebenarnya.

Bukankah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang? Allah mengampuni siapa saja orang-orang yang bertaubat kepada-Nya sebagaimana dalam firman-Nya, “Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS An-Nahl 119)

Mereka tak patah arang. Kehidupan kelam yang pernah mereka jalani dijadikan sebagai pelajaran untuk memulai hidup lebih baik lagi. Memulai hidup lebih baik dengan mengkaji agama Islam secara kaffah. Dengan mengkaji inilah, petunjuk-Nya akan senantiasa datang, hingga mereka menjadi hamba-hamba yang dipilih-Nya untuk menempati syurga yang telah dijanjikan-Nya.

Semangat Mereka Luar Biasa

jihadpagi-04Tak hanya banyak rintangan dan dipenuhi oleh para mantan, pengajian Ahad Pagi rupanya memberikan semangat luar biasa bagi mereka yang berusia lanjut. Kegigihan sepasang suami istri yang berusia tujuh puluh tahun ini patut diacungi jempol.

Pagi buta, sebelum adzan shubuh berkumandang, mereka berangkat dari Ngawi menuju Solo, tempat pengajian Ahad Pagi, dengan menggunakan bus jurusan Surabaya-Jogja. Bagi mereka, hadir di pengajian ini sudah menjadi rutinitas yang harus mereka lakukan di hari Ahad. Meski jarak antara Ngawi-Solo tak terbilang dekat, tetap tak menghalagi mereka untuk selalu hadir di pengajian ini.

Usia yang tak lagi muda, tak memupuskan semangat mereka. Turun di Tirtomoyo, Solo, mereka naik bus menuju Singosaren. Ketika sampai di Singosaren, mereka berjalan kaki menuju gedung MTA Mangkunegaran. Subhanallah, begitu ringannya mereka berjalan. Tak terbesit di benak mereka akan rasa lelah. Padahal, jika ditempuh dengan berjalan kaki, jarak Singosaren dengan tempat kajian lumayan menyortir energi.
Rupanya semangat sepasang suami istri dari Ngawi tersebut juga dimiliki oleh dua orang sahabat yang sudah menginjak usia lanjut. Sama-sama berasal dari Ngawi, mereka dengan tangkas berjalan seperti halnya yang ditempuh oleh sepasang suami istri itu.

Contoh lain, bisa dilihat dari tekad kuat sang nenek berusia delapan puluh tahun. Nenek yang berasal dari Karanganom, Klaten ini rela datang ke pengajian Ahad Pagi sendirian tanpa didampingi sanak keluarga. Ia datang dengan menaiki bus.
Subhanallah, semangat mereka untuk mengkaji agama Allah memang luar biasa. Seolah mereka tak sadar akan usia senja yang telah disandangnya. Gesit mereka memperjuangkan perwujudan iman.

Bagaimanapun, ilmu agama lebih mulia dicari ketimbang urusan dunia. Karena mereka tahu, bahwa kesenangan dunia ini hanyalah sementara. Pesonanya tak lain hanyalah merupakan tipuan. Tak ada yang lebih diutamakan dibanding akhirat. Akhiratlah yang menjadi prioritas hidup ini. Karena di akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya.

Bahkan Allah berfirman, Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS Al An’aam 32)
Dunia ini hanyalah main-main dan sendau gurau belaka. Alangkah bodohnya manusia jika semasa hidupnya hanya digunakan untuk hura-hura di dunia. Usia yang sudah ‘bau tanah’ sekalipun tak dimanfaatkan dengan baik untuk beribadah. Betapa orang-orang seperti ini akan mendapat kerugian yang besar.

Allah berfirman, “Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebathilan.” (QS Ath Thuur 11-12)

Lantas, apakah ini mencerminkan agama hanya ditekankan bagi mereka yang sudah memasuki usia senja? Begitu banyaknya jamaah pengajian Ahad Pagi yang berusia tua, seolah-olah menjadikan persepsi bahwa agama itu hanya untuk orang tua saja. Orang tua yang membutuhkan agama, sedang orang muda berpikir belum saatnya karena mereka mengira usianya masih panjang. Alangkah sempitnya jika pemikiran seperti ini merajai kaum muda.

Bukankah masa muda adalah masa produktif untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik? Kenapa justru masa produktif itu tidak dimanfaatkan untuk memperjuangkan agama Allah? Sebaliknya, masa produktif justru dihabiskan untuk hal-hal yang sia-sia hingga berujung pada kemaksiatan. Nau’dzubillah.

Bukankah kisah dari mereka yang telah menginjak usia senja tersebut patut kita contoh? Tidak iri kah kita dengan semangat mereka yang berjiwa muda meskipun raga sudah tak lagi muda?

Inilah beragam kisah di balik kajian Ahad Pagi, beragam kisah yang datang dari para jamaah yang hadir di pengajian ini. Subhanallah, betapa hidayah-Nya telah mengantarkan mereka pada titik perjuangan pencapaian iman dan takwa kepada-Nya. Kisah dari mereka patut kita jadikan teladan. Semoga ke depan kita semua semakin istiqomah di jalan-Nya. (ntz)

Sumber Gambar : MTATV.COM


22 komentar pada “Mengulik Beragam Kisah di Balik Pengajian Ahad Pagi

  1. Assalamualaikum Wr. Wb. Saya adalah pendengar Radio MTA tinggal di Tangerang. Saya sangat kagum dengan para ikhwan yang mengikuti pengajian MTA, terutama yang berasal dari pedesaan. Karena resiko yang akan ditanggungnya jika mereka mengamalkan ilmu yang diterimanya dari pengajian. Saya yang tinggal di perkotaan yang mencoba mengamalkan sebagian ilmu yang diperoleh dari mendengarkan radio, merasakan ada orang yang mulai menjaga jarak dengan saya. Kepada seluruh warga MTA semoga selalu istiqomah. Wassalam.

Beri Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.