Menghormati Kebhinnekaan

Bangsa Indonesia patut bersyukur dengan semboyan yang dipegang oleh Burung Garuda Pancasila yakni Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan tersebut menjadi inspirasi untuk menerima dengan lapang dada perbedaan yang ada diantara semua komponen bangsa demi menjaga persatuan.

Perbedaan merupakan satu keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Tidak ada seorang manusiapun yang berhak untuk memaksakan kehendak kepada orang lain sehingga harus mengorbankan kebhinekaan.

Justru masing-masing komponen bangsa memiliki kewajiban moral untuk saling menghormati demi menjaga persatuan dan kesatuan. Allah Swt pun sebagai pencipta dan pemilik jagat raya tidak pernah memaksa manusia untuk Islam.

Allah Swt berfirman : "Tidak ada paksaan dalam agama. Sesungguhnya telah jelas yang lurus dari yang bengkok".(QS.Al Baqarah 2 : 255). Allah Swt merangsang hamba-Nya untuk cerdak berpikir dan menentukan pilihan yang tepat, yakni jalan yang lurus.

Allah Swt juga berfirman, "Katakanlah : kebenaran itu dari Tuhanmu. Barangsiapa yang mau beriman, berimanlah. Barangsiapa yang mau kafir. Kafirlah" (QS.Al Kahfi 18 : 29)

Allah Swt memberi kebebasan penuh kepada manusia untuk memilih menjadi orang beriman atau kafir. Pada bagian akhir ayat tersebut Allah Swt menjelaskan resiko bila manusia memilih menjadi orang kafir.

Oleh karena itu sebagai komponen bangsa yang besar hendaknya kita mengembangkan sikap lapang dada menghadapi perbedaan. Kalau kita berharap pendapat/keyakinan kita dihormati oleh orang lain maka orang lainpun berharap pendapat/keyakinannya kita hormati juga.

Artinya menghormati kebhinnekaan itu merupakan perwujudan dari sikap adil. Allah memerintahkan umat Islam untuk bersikap adil karena adil itu lebih dekat kepada ketaqwaan (QS.Al Maidah 5 : 8)

Begitu pentingnya persatuan dan kesatuan umat Islam bagi suksesnya dakwah Islam dan suksesnya pembangunan nasional maka menjadi kewajiban kita bersama untuk menjunjung tinggi kebhinnekaan.

Kita samua berharap masing-masing komponen bangsa meninggalkan sikap-sikap memaksakan kehendak, intoleran dan tidak menghormati perbedaan. Berlapang dada dalam menerima perbedaan lebih mulia daripada sesak dada karena ambisi memaksakan kehendak kepada orang lain.

Jiwa persaudaraan yang dajarkan Allah Swt (QS.Al Hujurat 49 : 10) hendaknya kita tumbuhkan diantara sesama umat Islam. Solidaritas sesama umat yang digambaran oleh Rasulullah Muhammad SAW seperti satu tubuh hendaknya kita tumbuh dan suburkan didalam dada semua umat Islam.

Semangat kebersamaan untuk berjuang dalam satu shaf (QS.Ash Shaf 61 : 4) hendaknya kita gelorakan didalam dada. Perbedaan-perbedaan kecil yang bersifat furu'iyyah hendaknya kita singkirkan untuk menggalang kekuatan bersama demi tegaknya kalimat Allah di dunia ini dan demi tercapainya tujuan pembangunan nasional.

Bangsa ini akan kukuh, maju berkembang menjadi besar dan dihormati oleh bangsa-bangsa lain bisa kukuh bersatu. Sebaliknya bangsa ini akan hancur luluh berantakan bila tidak bisa menjaga persatuan dan kesatuan. Perlu kita renungkan kembali pepatah "bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh".

Al-Ustadz Drs. Ahmad Sukina
Pimpinan Pusat Majlis Tafsir Al-Qur’an

SOLOPOS, Jumat 20 April 2018
solpos