Menghindari Keanehan Jiwa Mensikapi Pasca Musibah dan Bencana

merapi2Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh pengikut petunjuk beliau. Sungguh berbahagialah orang yang telah menempuh jalan hidup di jalan yang lurus, jalan yang keselamatan, jalan kebahagiaan, jalan yang benar, jalan yang diridhoi Allah SWT. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta Alam, yang telah mendidik manusia dengan Al-Qur’an yang sangat lengkap isinya.

Dan berbahagialah orang-orang yang rajin belajar Al-Qur’an dan As-Sunnah dan selalu berusaha mendidik diri untuk selalu menempuh jalan-jalan peningkatan iman dan taqwa. Allah Tuhan yang Maha Mengetahui yang Lahir dan yang Batin, memberikan teguran kepada orang-orang yang lemah ilmu dan iman karena memiliki sikap hati dan tingkah laku yang aneh ketika terlepas dari kesulitan, musibah dan bencana, sebagaimana firman-Nya yang artinya
.

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo'a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat) seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. 10:12)

.
Betapa besarnya pentingnya ilmu dan hidayah Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam diri seseorang. Siapapun manusia, ketika sedang terjepit dengan himpitan suasana yang menyusahkan, menyulitkan dan menakutkan tentu akan sibuk memohon pertolongan kepada Allah. Namun ketika Allah telah melepaskan dari kesulitan,menyelamatkan dari bahaya,menghindarkan dari musibah dan bencana, orang-orang yang lemah ilmu dan imannya akan bersegera melupakan Allah dan melupakan kejadian-kejadian genting yang baru saja berlalu menimpanya.
.

Dialah yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan keta'atannya kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur". (QS. 10:22)

Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kamilah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. 10:23)

.
Bagi mereka yang sering berlayar di lautan, firman Allah diatas sudah terbukti berkali-kali, setiap kali badai mengamuk dan lautan menjadi tidak ramah, maka manusia selalu berdo’a kepada Allah, hati dan sikap disatukan untuk selalu berta’at kepada Allah dan penuh pengharapan untuk diselamat oleh Allah dan keluar dari bahaya dan kesulitan yang sedang menimpanya.

Namun bila manusia tidak memiliki ilmu, iman dan ketahanan menjaga iman dan taqwa, maka setelah Allah mengeluarkan mereka dari kesulitan, manusia-manusia tersebut akan kembali melupakan Allah dan kembali kepada jalan-jalan bersenang-senang memperturutkan hawanafsu dan berma’siyat kepada Allah. Dan Allah peringatkan bahwa itu adalah sikap salah yang fatal, karena sikap yang demikian itu akan memberikan kerugian pada diri manusia yang melakukannya.
.

Dan apa bila manusia disentuh oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhan dengan kembali bertaubat kepada-Nya, kemudian apabila Tuhan merasakan kepada mereka barang sedikit rahmat daripada-Nya, tiba-tiba sebahagian dari pada mereka mempersekutukan Tuhannya, (QS. 30:33)
sehingga mereka mengingkari akan rahmat yang telah Kami berikan kepada mereka. Maka bersenang-senanglah kamu sekalian, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu). (QS. 30:34)

.
berkali-kali Allah memberitahu tentang jiwa manusia yang tidak memiliki ilmu, keimanan dan ketaqwaan yang tangguh, akan memiliki sikap hati dan perilaku yang aneh. Terombang ambing dalam ketidak stabilan. Ingatnya kepada Allah dan patuhnya kepadanya disaat-saat tertentu saja, padahal keta’atan dan kepatuhan itu seharusnya disetiap saat dan setiap waktu di sepanjang perjalanan hidupnya.Tidak hanya disaat musibah dan bencana menghimpit mereka.

Bagaimanakah sikap hati yang benar dan stabil dalam menghadapi segala permasalahan yang muncul dalam kehidupan, Allah mencontohkan sikap yang baik tersebut sebagaimana firman-Nya yang artinya
.

Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. (QS. 11:9)
Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya niscaya dia akan berkata: "Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku"; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga, (QS. 11:10)
Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal shaleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar. (QS. 11:11)

.

Himpitan bencana yang datang bertubi-tubi kepada kita umat manusia yang hidup di muka bumi, marilah disikapi dengan benar, hanya dengan memperkuat ilmu, iman dan amal sholih, manusia mampu mensikapi segala ujian yang datang kepadanya, baik ujian kesusahan atau ujian kesenangan.

Manusia yang tidak berilmu dan beriman dan bertaqwa, maka akan bersikap sebagaimana tergambar dalam ayat-ayat diatas. Kita umat Islam perlu lebih rajin lagi menekuni Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena didalamnya terdapat banyak sekali petunjuk-petunjuk Allah yang penuh keberkahan.

Berbahagialah orang-orang yang sabar dalam memegang teguh agama Islam, karena mereka kemudian memiliki jiwa yang kokoh, lurus dan stabil, dan selalu hidup dalam limpahan ampunan, rahmat dan kasih sayang Allah di dunia dan di akherat. Berlimpah-limpah dengan pahala dan ampunan dari Allah disebabkan memiliki sikap dan perilaku yang benar dalam menghadapi segala ujian hidup di dunia. Semoga Allah memperbaiki ilmu, iman dan taqwa kita sehingga menjadi manusia yang selamat, bahagia dan mulia di dunia dan disisi Allah.

Mari berbondong-bondong mengaji Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk menggapai keridhoan Allah SWT. Wallahu a’lam.


2 komentar pada “Menghindari Keanehan Jiwa Mensikapi Pasca Musibah dan Bencana

  1. Musibah dan Bencana yang bertubi – tubi meluluh lantakan bumi nusantara ini merupakan sentilan dan peringatan dari Allah Swt agar kita sllu ingat bahwa kita adalah mahluk yang lemah dan tak berdaya dihadapanNya. Kontras halnya jika berada dalam kondisi aman tentram manusia menjadi sombong, takabur, lupa diri, merasa dirinya yang paling benar dan lupa dengan kiprahnya sebagai mahluk ciptaan Allah. Semoga dengan adanya Musibah dan Bencana yang bertubi – tubi menimpa negeri ini semakin menambah keimanan dan taqwa kita kehadapan Allah Swt.

  2. Asalamualaikum…ya Allah berikan kepada kami kesabaran, ketemtraman,ke damaian..dan selalu mengingat Mu..jauhkan kami dari sikap seperti orang orang yg ter sirat dalam ayat ayat di atas..semoga Engkau selalu membimbing saya ke jalan yg benar amin..wasalam.

Beri Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.