Menghayati KehebatanNya

pswt-mta

Detik2 terakhir Adam574, Adam Air rute Surabaya-Akhirat pada 1 Januari 2007.

06:08   Menara ATC Surabaya menginstruksikan  Adam 574, ketinggian terbang 19000 feet (6500 m) tidak tertangkap radar. Copilot menjawab instruksi tersebut, AdamAir 574 pada posisi kea rah tujuan, ketinggian terbang 35000 feet (11000m).

06:09   Menara ATC Surabaya menyatakan Adam 574, posisikan ke ketinggain 33000 feet. Copilot mengikuti instruksi tersebut.

06:10   Menara ATC Surabaya menginstruksikan Adam 574,saat melewati ketinggian 22000 feet kontak ATC Ujung di 128.3 selamat siang [good afternoon]. Copilot mengikuti instruksi tersebut.

06:10   Pilot Adam574 pertama kali mengontak ATC Ujung ketika ketinggian terbang 22000 feet menuju ke 33000 feet. Cek point penerbangan berikutnya adalah waypoint KASOL.

06:14   Sebelum mencapai KASOL, ATC Ujung menginstruksikan pilot untuk langsung menuju DIOLA, dan copilot mengikuti instruksi ini.

06:19   Copilot menginformasikan ke ATC Ujung bahwa Adam574 berada di ketinggian 35000 feet. ATC ujung Pandang menginstruksikan Adam574, Tetap di ketinggian 35000 feet, laporkan posisi ENDOG. Copilot mengikuti instruksi tersebut.

06:29   ATC Ujung berteriak, Adam574 mengarah ke mana? Ya Allah, dia terbang ke arah utara!

06:37:16.9       Adam 574 sudah di sebelah utara waypoint GUANO, pada sudut radial 269°, 175 mil laut dari Makassar (MKS) VOR, dan pilot memindahkan komunikasi dari ATC ujung ke lower ATC Ujung Pandang (UPG).

06:37:21.6       Lower ATC UPG menginstruksikan, Adam 574 Ujung, selamat sore,kontak  menunjukkan 192 miles di sebelah barat MKS (Makassar),tetap di 35000 feet dan langsung ke DIOLA. Copilot mengikuti instruksi tersebut.

06:58:12 Pilot : Taruh lagi nav, taruh lagi nav! (pilot panic)

06:58:14 Copilot : Yes.

06:58:15 Pilot : Taruh lagi nav, taruh lagi nav! (pilot semakin panik)

06:58:16 Peringatan ketinggian terbang berbunyi. (Menandakan sangat dekat dengan permukaan darat)

06:58:19 Copilot : Nav

06:58:20 Pilot : Jangan belok! Ini arah yang bener!

06:58:58 Copilot : Naikkan! Naikkan! Naikkan! Naikkan! Naikkan! Naikkan!

Biim....biim....biim.... . Alarm terakhir terekam pada 06:59:05 dan Adam574 pun jatuh bebas ke laut dan melenyapkan 102 penumpang serta awak. Dari Surabaya batal menuju ke Ujungpandang tetapi langsung menuju alam barzah.

Kisah di atas menunjukkan sedikit dari kehebatanNya, berkuasanya Dia atas alam ini, dunia yang fana. Siapakah yang mau mengalami musibah itu? Bayangkan, kita adalah seorang dari penumpang rute penerbangan tersebut. Di Manado akan bertemu dengan pengusaha A dan bertransaksi miliaran rupiah. Oh...betapa senangnya, uang bertumpuk-tumpuk sudah menanti di pelupuk mata.

Pesawat yang hanya mampu menahan terjangan badai 35 knot (65 km/jam) tapi saat itu angin bertiup dengan sangat hebat, 74 knot (135 km/jam). Tak ayal musibah di depan mata.

***

Seringkali manusia perlu dihadapkan pada musibah yang berujung kematian. Bukan apa-apa. Bukan pula Allah tidak menyayangi hambaNya. Bukan itu semua. Melainkan supaya seluruh hambaNya bisa memahami bahwa hidup di dunia tidaklah kekal. Hidup yang akan berakhir. Hidup yang tidak bernilai jika harta benda saja yang dikejar.

Ya, kematian adalah kejadian yang membuat manusia terbelalak. Untuk sesaat nuraninya menerawang jauh ke alam barzah. Membayangkan ngerinya malaikat penjaga kubur yang tak pernah lelah menyiksa daftar pesakitan. Dengan kemtian itu manusia mengenali kembali fitrahnya. Mengenali lagi kuasaNya. Mengenali lagi kehebatanNya, Allahu Akbar.

Kematian adalah sebentuk kiyamat kecil sebagai pengingat bagi manusia. Hari kiyamat, hari ketika matahari di gulung, lautan dipanaskan, langit dilenyapkan, ketika langit terbelah, apabila bumi diratakan. Ya, beberapa peristiwa itulah yang akan terjadi nanti, ketika kiyamat kubra menghampiri kita semua. Entah kapan saatnya, tugas kita hanyalah beramal sebanyak-banyaknya, dengan ikhlas tentunya.

Percaya semua kejadian itu merupakan sebuah kniscayaan bagi seorang mukmin. Tapi apakah kita terbayang betapa dahsyatnya hari itu? Sehingga terpatri dalam seluruh nafas kita pertanyaan,"Masih pantaskah aku menyakiti perasaan saudaraku?" Sudahkah kita bisa merasakan kehebatan kuasa Allah? Tidak sedikit manusia yang tidak bisa membayangkan ngerinya hari kiyamat sehingga masih ada saja yang berbuat dhalim karena tak takut akan dosa. Tak bisa membayangkan karena belum mengalaminya. Tak bisa menyimpannya dalam memori karena belum melewatinya. Dan hanya orang-orang berakallah yang akan beruntung karena bisa memahami dahsyatnya kiyamat dengan mengkaji agama setiap saat, pagi dan petang, dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring.

Hari kiyamat. Apakah hari kiyamat itu? Dan tahukah kamu apakah hari kiyamat itu? Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang beterbangan. Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Maka adapaun orang yang berat timbangan kbaikannya, mka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang yang ringan timbangan kebaikannya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?. Yaitu api yang sangat panas. [QS. Al-Qariah: 1-11]

Terbayangkah oleh kita semua tentang hari itu? Hari kiyamat itu? Tidaklah mudah  membayangkan apalagi menghayati kedalaman makna surat Al-Qariah. Tidak mudah, karena manusia berpikir dengan kerangka pikirannya. Dengan parameter-parameter yang beranggapan bahwa manusia bisa berbuat apapun.

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menggambarkan bahwa pada hari itu manusia bercerai-berai, ke sana kemari karena kebingungan menghadapi huru-hara yang sangat menakutkan di hari itu, sehingga mereka mirip dengan anai-anai yang bertebaran. Di ayat lain hal yang sama Allah menggambarkan "......seakan-akan mereka seperti belalang yang beterbangan" [QS. Al Qamar: 7]. Terbayangkah kita?

Adapun Hawiyah, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah menceritakan apa yang akan dialami oleh orang-orang yang beramal dan tempat kembali mereka berpulang yang ada kalanya di tempat terhormat dan ada kalanya pula di tempat yang terhina sesuai dengan amal perbuatan masing-masing.

Mengapa Hawiyah digambarkan sebagai tempat kembali yang dihinakan? Mufasirin generasi salaf seperti Ibnu Abbas, Ikrimah, Abu Sholeh, dan Qatadah mengatakan bahwa mereka yang merugi itu akan dimasukkan ke dalam neraka dengan kepala di bawah. Ibnu jarir mengatakan bahwa sesungguhnya dikatakan Hawiyah sebagai tempat kembalinya, tiada lain karena tiada tempat kembali yang pantas baginya kecuali hanya kepadanya, Hawiyah. Ibnu Zaid mengatakan bahwa Hawiyah adalah neraka yang merupakan tempat kembali dan tempat berpulang bagi orang yang amal keburukannya lebih berat daripada amal kebaikannya.

Neraka, tempat yang panas apinya 69 kali api yang biasa kita gunakan untuk memasak. Apinya yang dinyalakan selama 1000 tahun hingga memerah. Kemudian dinyalakan lagi selama 1000 tahun hingga memutih. Kemudian dinyalakan lagi selama 1000 tahun hingga menghitam. Maka api neraka itu hiam lagi gelap. (HR. Tirmidzi)

***

" Gak mungkinlah manusia terbawa angin. Kan berat! Apalagi bertaburan".

"Yang bisa beterbangan kalo kebawa angin ya kapas, mana mungkin gunung?"

Begitu kira2 komentar orang yang tidak percaya dengan dahsyatnya hari kiyamat. Tidak percaya karena dia tidak berpikir bahwa angin pun berhembus atas perintah Sang Empunya, Allah azza wa jalla. Tidak percaya karena belum merasakan sendiri dahsyatnya kekuatan angin. Dahsyatnya air, kita sudah menyaksikan Tsunami di Aceh tahun 2006 yang merenggut ratusan ribu nyawa. Hebatnya angin?

Penulis yang kesehariannya berkutat dengan barang berbobot mati 300 ton hingga 600 ton, pernah menyaksikan betapa hebatnya kekuatan sang bayu. Sebuah pesawat boeing 777 seberat 450 ton terlempar ketika hendak mendarat dan pilot membatalkan pendaratan karena dipastikan pesawat akan terhempas ketika dipaksakan mendarat. Sehingga pilot berinisiatif menerbangkan kembali pesawat itu mencari  bandara yang aman.

Adam Air boeing 737-400 jurusan Surabaya-Akhirat. Saat itu pesawat di ketinggian 10000 meter kehilangan kendali. Peralatan navigasi tidak berfungsi sempurna. Secara tak terkendali pesawat itu memasuki badai yang luar biasa dahsyat. Angin bertiup ke arah barat dengan kencangnya. Sementara pesawat dipaksa kea rah timur. Rangka pesawat yang didesain mampu menahan angin 35 knot  saat itu harus melawan kekuatan angin yang lebih hebat hingga apa yang terjadi? Vertical stabilizer (ekor tegak) patah dan pesawat jatuh.

Satu lagi, pada 1 Februari 2009, di sebuah ahad sore yang begitu deras hujannya disertai angina kencang, tiga buah pesawat boeing 737-300 dengan bobot mati 300 ton bergeser beberapa meter karena terbawa angin di bandara Juanda, Surabaya.

***

Dan tidaklah berguna peringatan-peringatan itu kecuali bagi orang yang berakal.

Abbaz.sukarno

-dari berbagai sumber-


6 komentar pada “Menghayati KehebatanNya

  1. Terima kasih mas karno, Artikel ini begitu menyentuh&membuatQ tersadar sangat tipis sekali batas antara Hidup-Mati. Mari berlomba2 mempersiapkan bekal menghadapi kematian. Tetap jaya MTA…

  2. semoga bisa menambah keimanan dan ketaqwaan kita menjadi meningkat. sy tunggu artikelnya yg laen. tq

  3. hidup adalah misteri,kematian juga misteri….tapi satu yang pasti kita semua..berjalan ke arah yang pasti..yaitu KEMATIAN.hari kemarin adalah memori,hari ini adalah realiti dan hari esok masih tak pasti……masihkah kita diberi rahmat dan kuasaNYA untuk melalui perjalalanan ini…..sungguh banyak pelajaran setap detik berkelebat di depan mata kita…..tapi masih saja membuat kita tak mau berpikir untuk mencari bekal hidup abadi…..mari jalani hidup inji dalam setiap hembusan nafas ini selalu senantiasa dalam keridloanNYA……semoga kita semua dapat kembali dengan jiwa yang salim.amin.

Beri Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.