Menggapai Kembali Wibawa Dan Kemuliaan Yang Kekal

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya yang selalu tekun mengikuti jalan petunjuk-Nya.

Dijaman modern seperti sekarang ini manusia sering mengukur kewibawaan dengan kecantikan, kecerdasan, ketrampilan, kepandaian, kekayaan, kekuasaan, dst. Sehingga waktu manusia habis untuk menggeluti masalah materi semata, karena dianggapnya bahwa sumber kemuliaan dan kewibawaan adalah berkaitan dengan masalah materiil semata. Pikiran, hati dan waktu hidupnya dicurahkan hanya untuk mencapai capaian-capaian materiil semata.

Hakekat sebenarnya wibawa dan harga manusia tergantung pada kemuliaan akhlaqnya. Lebih jauh lagi bergantung kepada keikhlasan dan kepatuhannya dalam beribadah kepada Allah SWT, pencipta, pemelihara dan pemilik seluruh Alam. Manusia-manusia yang sering bertasbih kepada Allah, dan selalu tunduk patuh kepadaNya dengan iklash, maka Allah akan memberikan kewibawaan (perlindungan) kepada orang tersebut.

Demikian pula bila sekumpulan orang itu membentuk suatu masyarakat atau kelompok atau bangsa, maka Allah akan memberikan wibawa (perlindungan) itu kepada bangsa tersebut. Beberapa firman Allah berkenaan dengan hal tersebut adalah

.

 

……….Padahal kekuatan(kemuliaan) itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu'min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. (QS. 63:8)

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. 3:139)

.

Kemelaratan materiil dan kekurangan serta cacat fisik tidak mencegah seseorang untuk mendapat wibawa dan kemuliaan, karena wibawa dan kemuliaan manusia tidak lepas dari tingkah laku dan amal sholih yang telah dilakukan.

Wibawa dan perlindungan Allah adalah termasuk bagian dari pertolongan Allah kepada manusia dan bangsa tersebut. Bila manusia selalu berbuat yang baik-baik dan terus menerus menjaga iman dan amal sholihnya maka Allah akan memberikan perlindungan dan pertolongan di setiap saat. Termasuk memberikan perlindungan dengan sifat wibawa (terhormat), walaupun manusia tersebut miskin atau lemah.

Manusia perlu mengetahui hal-hal yang menjadikan Allah melindungi dan menolong manusia setiap saat,

.

.(dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman. (QS. 4:141)

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merobah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik. (QS. 24:55)

……Dan kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman. (QS. 30:47)

Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman pada kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat), (QS. 40:51)

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. 47:7)

.

Ayat-ayat diatas adalah penjelasan tentang perlindungan Allah kepada orang yang beriman dan beramal sholih, yang ikhlas hidupnya untuk selalu berbakti, taat kepada Allah. Orang beriman seharusnya memiliki sifat Adil, sifat Bijaksana, sifat Mulia, sifat Jujur, sifat Penyayang, sifat Taqwa, dan sifat-sifat kemuliaan yang Allah tuntunkan.

Maka bagi orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut dan memperjuangkan dalam kehidupan ditengah-tengah masyarakat luas umat manusia, Allah senantiasa akan menolong dan melindunginya, bahkan bila mati pun Allah akan tetap menghidupkannya dan meletakkan di alam lain disisinya dengan kemuliaan yang tinggi. Itulah wujud wibawa yang sebenarnya.

.

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. (QS. 3:169)

Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka. dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka. Bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 3:170)

.

Untuk dapat mencapai derajad dan keadaan tersebut Allah memberi jalan kepada umat manusia agar selalu kembali kepada ketaatan kepada Allah, beriman dan beramal sholih, dan selalu tetap memegang teguh nilai-nilai kebenaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Allah memberi tahu manusia dengan beberapa firmannya

.

Sesungguhnya telah kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya (QS. 21:10)

Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur. (QS. 35:10)

Dan sesungguhnya al-Qur'an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab. (QS. 43:44)

.

Wibawa pribadi manusia bersumber pada akhlaqnya. Dalam jaman modern seperti ini manusia perlu membedakan potensi yang dimiliki antara benda benda hidup, dan benda-benda mati. Atau bahkan menghayati perbedaan antara manusia, binatang dan sesuatu materi yang mirip manusia hasil ilmu dan teknologi yaitu seperti sebuat robot atau komputer canggih. Agar manusia tetap mampu membedakannya dan kemudian mampu mempertahankan dan menjaga arti ketinggian nilai ke,uliaan manusia.

.

Mencermati Kepribadian dan Jati Diri Manusia dan Bangsa

.

Bagaimanapun Allah menciptakan makhluq satu dengan yang lainnya mempunyai perbedaan-perbedaan dan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Sangat jelas bedanya antara seekor Gajah dan seekor tikus. Gajah sangat kuat namun Allah telah juga menciptakan tikus yang kecil dan cekatan. Bila dipandang secara unjuk kekuatan maka yang besarlah yang lebih kuat. Namun bila dipandang secara menyeluruh maka semua ciptaan Allah dimuka bumi adalah sesuatu yang bermanfaat dan saling menyeimbangkan.

.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (QS. 3:190)

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. 3:191)

.

Demikian pula Allah menciptakan bangsa-bangsa di dunia, bila ditinjau dari sisi kekuatan, maka yang berotot kuat dan berotak cerdas adalah lebih kuat dari yang lain. Namun tentunya yang seharusnya dikedepankan dalam diri manusia adalah masalah keutamaannya dalam sifat kebijaksanaannya, sedangkan masalah cerdas, kuat, trampil adalah sangat diperlukan, namun sifat bijaksana adalah sangat lebih diperlukan.

Sifat adil, bijaksana dan penuh hikmah adalah keunggulan manusia dibandingkan dengan binantang atau pula sebuah robot atau komputer canggih. Dan sifat-sifat tersebut hanya bisa diperoleh manusia bila manusia tersebuat selalu mendekat dan ingat serta berbakti kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Bijaksana. Bila waktu hidup diisi dengan disiplin menjalankan ibadah khusus, dan menjalani ketaatan maka sifat-sifat mulia tersebut akan meresap kedalam jiwa manusia.

Pola Kehidupan dunia modern telah banyak yang meninggalkan ibadah-ibadah khusus ini, dan waktu hidup serta aqalnya yang cerdas telah diforsir untuk mewujudkan nafsu besar menguasai dan menggali kehebatan kenikmatan dunia. Sehingga ilmu dan teknologi tidak lagi diwarnai kebijaksanaan, namun diwarnai dengan semangat kesombongan dan keangkuhan atau sekedar adu kehebatan.

Hunian fisik dan non fisik semakin rusak, bumi sebagai tempat yang terbatas telah rusak diperdaya oleh manusia modern, sehingga lambat laun bumi akan bisa menjadi tempat yang tidak menyenangkan dan mungkin berbahaya bagi kehidupan umat manusia. Demikian pula kejiwaan manusia semakin rusak dan semakin kehilangan jiwa kemanusiaannya.

Explorasi bumi tanpa pertimbangan kebijaksanaan, mengakibatkan bumi tidak lagi seimbang. Dan bumi siap mengeluarkan berbagai ancaman ketidak nyamanan bagi kehidupan makhluq hidup yang hidup diatasnya.

.

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. 30:41)

Bangsa Indonesia, umat Islam khususnya seharusnya dapat menghayati dengan peringatan-peringatan Allah tersebut. Dan Allah tidak menilai keberhasilan hidup dengan ukuran materi, bahkan Allah SWT mengukurnya dengan ukuran yang sifatnya non materi, yaitu Taqwa (ketundukan kepada Allah pencipta dan pemelihara seluruh alam).

.

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (QS. 7:205)

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. 49:13)

.

Untuk mengembalikan kepada jati diri manusia dan jati diri bangsa, keunggulan bangsa, maka janganlah kita sekedar melihat kepada keberhasilan bangsa-bangsa lain didalam mewujudkan kenyamanan, ketertiban, kecanggihan, kemewahan, dalam kehidupan mereka. Namun perlu menilik kepada keunggulan diri dan keutamaan yang Allah telah berikan kepada diri manusia dan diri bangsa.

Ujung dari aktifitas manusia adalah ingin mewujudkan keamanan, ketenteraman, kebahagiaan, kesejahteraan, kerukunan, kesopanan, dan saling toleransi untuk saling membantu dan tolong menolong. Hal yang demikian sebenarnya adalah sesuatu yang telah diajarkan oleh Allah kepada Rasulullah Muhammad SAW. Maka hal-hal yang telah diajarkan oleh Allah tersebut jangan sampai dilupakan dan ditelantarkan.

Kesalahan generasi saat ini adalah tidak mengerti akan rahmat dan kasih sayang Allah didalam pengajaran Al-Qur'an dan Al-Hadist. Masih banyak sekali orang yang belum mengenal, belum membaca, belum tahu dan bahkan buta, walaupun bila mereka ditanya, maka mereka adalah Islam.

.

Dan Kami tidak mengutus kamu(Muhammad), melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (QS. 34:28)

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (QS. 30:30)

Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada ilah (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui. (QS. 27:61)

.

Sumber keunggulan kepribadian yang melimpah ruah dari dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah tersebut tidak diketahui oleh manusia, karena manusia belum merasa butuh. Orang sering kembali kepada Al-Qur'an dan Al-Hadist sekedar saat lahir, saat dikhitan saat menjelang mati, dan cukup diwakilkan kepada sanak saudara untuk membacakan ayat-ayat Allah tersebut untuk diambil berkahnya saja. Bukan untuk dipelajari, diketahui dan diamalkan secara disiplin dalam kehidupan sehari-hari.

Apalagi dengan merebaknya segala bentuk pelecehan akhlaq, yang tersebar secara merata didalam kehidupan umat manusia, maka manusia kebanyakan lebih suka menyantap sesuatu yang instant menyenangkan, memuaskan dan menggembirakan walaupun kadang membinasakan. Dan manusia lupa kepada tugas utamanya, yaitu beribadah kepada Allah dan untuk menyiapkan kehidupan bahagia di akherat.

Bebagai bentuk permainan yang bisa dengan segera dinikmati, apakah lewat media kertas (Koran, majalah, tabloid, selebaran) atau lewat media elektronik (televisi, camera, handycam, handphone, komputer). Telah menjadi makanan rohani yang menghabiskan waktu hidup manusia.

Waktu-waktu ibadah kepada Allah telah ditinggalkan dan manusia berganti mengisi hidupnya dengan hal-hal permainan dan kesantaian dan sekedar membuang waktu. Sehingga manusia telah lalai dan lupa kepada tugas utamanya. Maka begitulah proses lunturnya Jati Diri dan Kepribdian Bangsa.

.

Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). (QS. 15:3)

Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. (QS. 16:107)

Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikuncimati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. 16:108)

Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya). (QS. 21:1)

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. (QS. 30:7)

.

Peringatan-peringatan Allah yang tertulis dan tidak tertulis saat ini terus menerus membanjir dalam kehidupan umat manusia, semoga manusia tidak asyik mansyuk kepada budaya Dajjal si mata satu. Dajjal makhluq yang sangat bangga dengan satu matanya yang menonjol seperti buah anggur, namun mata yang satunya buta. Dan tertulis di keningnya adalah KFR. Aktifitas dunia yang sangat gemerlap, namun telah melupakan ibadah kepada Allah, lupa kepada kebahagiaan yang haqiqi di dunia dan akherat.

Semoga Allah menyadarkan kepada kita tentang makna hakiki tentang harga diri dan kemuliaan manusia di dunia dan di akherat… Wallahu a’lam.


Satu komentar pada “Menggapai Kembali Wibawa Dan Kemuliaan Yang Kekal

  1. astaghfirullooh semoga Alloh memberikan kekuatan pada kita yang lemah ini dalam menuju ridho-NYA aamiin YAA-ALLOH

Beri Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.