Mengapa Kekeluargaan Menjadi Terbelah dan Terpecah

Segala puji hanya layak untuk Allah, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad Saw, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya. Salam untuk seluruh Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul-Nya

Allah telah meletakkan nikmat IMAN, nikmat IBADAH dan nikmat KETAATAN kepada Allah sebagai sumber kerukunan JIWA manusia, sebagaimana dalam banyak firman-NYA, antara lain

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَـئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

  1. Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma`ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS.9. At Taubah 71)

وَلَوْ شَاء رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلاَ يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ ﴿١١٨﴾ إِلاَّ مَن رَّحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لأَمْلأنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ 

  1. Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.
  2. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi Neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya. .(QS.10. Huud ayat 118 -119)

Keretakan demi keretakan dalam sebuah keluarga mikro atau pula  keluarga makro akan terjadi bila perilaku memperturutkan bujukan hawa nafsu telah menjadi aktifitas dalam hidup dan telah menumbuhkan dosa-dosa secara massal, maka mulailah tumbuh bibit bibit sifat jahat dalam diri manusia dan akhirnya memunculkan keretakan dalam hubungan keakrapan yang sebelumnya ada.

Polarisasi dalam kehidupan berkeluarga akan semakin nampak nyata bila masing-masing pribadi tidak menjaga diri tentang iman dan amal sholih dalam diri masing-masing. Apalagi bila kesuksesan dan gemerlapnya kesenangan dunia telah menjadi sumber kemabukan untuk selalu berbuat melampau batas. Maka otomatis hati manusia tidak mungkin lagi timbul kerukunan dan kasih sayang diantara mereka, diibaratkan bagai air dengan minyak yang tidak akan pernah menyatu. Allah sendiri menyampaikan

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطاً 

  1. Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS.18. Al Kahfi ayat 28)

Perbuatan melupakan Allah, memburu kesenangan dunia akan membawa manusia untuk melakukan perbuatan melampaui batas, perbuatan dosa yang membawa kepada kerasnya hati dan jahatnya hati. Dan akhirnya manusia akan retak hubungan keakrabannya, dan berubah menjadi permusuhan.

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَن يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَاباً مِّن فَوْقِكُمْ أَوْ مِن تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعاً وَيُذِيقَ بَعْضَكُم بَأْسَ بَعْضٍ انظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ 

  1. Katakanlah: "Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian) kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami (nya). (QS.6. Al An’aam ayat 65)

وَضَرَبَ اللّهُ مَثَلاً قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَداً مِّن كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللّهِ فَأَذَاقَهَا اللّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُواْ يَصْنَعُونَ

  1. Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari ni`mat-ni`mat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. (QS 16 An-Nahl ayat 112).

Perubahan perubahan serba cepat di dalam penyebaran informasi perbuatan dosa di tengah-tengah zaman, telah memunculkan efek negatip yang harus diantisipasi dengan cara yang tuntas.

Kebocoran-kebocoran penyebaran perilaku jahat di ruang-ruang publik banyak menimbulkan dampak kerusakan moral dan mengakibatkan munculnya sifat-sifat buruk dalam jiwa manusia.

Budaya memperturutkan hawa nafsu, melampau batas, akan menumbuhkan dosa dam jiwa. Tumbuh menjamur sifat-sifat super jahat di dalam jiwa manusia, dan semua itu menghasilkan keretakan dalam hubungan keakraban dan hilanglah keharmonisan yang sebelumnya ada.

Allah SWT, memberi kesempatan untuk kembali kepada Allah dengan jalan Taubat, jalan kembali kepada IMAN dan AMAL SHOLIH, menjauhi segala perbuatan dosa yang dapat menumbuhkan sifat-sifat dan tabiat buruk dan jahat dalam diri manusia.

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴿٥٣﴾ وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ ﴿٥٤﴾ وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ العَذَابُ بَغْتَةً وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ ﴿٥٥﴾ أَن تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَى علَى مَا فَرَّطتُ فِي جَنبِ اللَّهِ وَإِن كُنتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ ﴿٥٦﴾ أَوْ تَقُولَ لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ ﴿٥٧﴾ أَوْ تَقُولَ حِينَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ 

  1. Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
  2. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).
  3. Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya,
  4. supaya jangan ada orang yang mengatakan: "Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah).
  5. atau supaya jangan ada yang berkata: 'Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa'.
  6. Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab: 'Kalau sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik'. (QS 39 Az Zumar ayat 53 sd 58)

Mana yang akan kita lakukan untuk kelanjutan kehidupan kita berkeluarga, apakah akan kita biarkan proses keretakan itu semakin membesar dan semakin meraja lela, ataukan kita kemudian mengetahui sebab-sebab keretakan itu dan kemudian kembali kepada jalan jalan bertaubat.  Sudah kita ketahui bersama bahwa perbuatan dosa menimbulkan tumbuhnya sifat-sifat jahat dalam diri manusia.

Manusia bukan robot-robot yang bisa diatur dengan sekedar peraturan fisik, namun manusia memiliki jiwa yang membutuhkan santunan dan perhatian dari sang pencipta JIWA yaitu Allah SWT pencipta manusia.

Kembalikanlah jalan hidup manusia untuk rajin beribadah kepada Allah dengan tulus ikhlash, maka akan membawa manusia kembali kepada sifat-sifat mulia, manusia yang rukun dan damai penuh keakraban lahir dan batin. Wallahu a’lam.