Menegakkan Shalat

menegakkan-shalat

(Mimbar Jumat - Solopos, 20/09/2019) Allah SWT menciptakan manusia untuk meng hambakan diri atau beribadah kepada-Nya (QS AdzDzaariyyaat: 56). Artinya, mestinya semua aktivitas manusia itu merupakan bagian dari ibadah mereka  kepada Allah.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Amalan muamalah juga bisa bernilai ibadah bila dilakukan karena Allah Swt dan mengikuti aturan yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Sampai-sampai menyingkirkan rintangan dijalan saja dan tersenyum kepada saudaranya dinilai sebagai sedekah.

Targhib yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad SAW itu mestinya menjadi motor penggerak umat Islam untuk lebih bersemangat beramal saleh dalam rangka menguatkan kualitas penghambaan diri kepada Allah.

Allah memerintahkan kepada manusia untuk menghambakan diri kepada-Nya agar bertakwa (QS.Al-Baqarah: 21). Artinya, semakin banyak beramal saleh, semakin baik kualitas penghambaan kepada Allah, semakin dekat diri kepada ketakwaan.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,”

Pada hakikatnya semua rukun Islam, termasuk shalat, bila dilaksanakan dengan benar akan bermuara pada ketakwaan. Allah berfirman bahwa salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

Allah Swt berfirman,

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.Al-Ankabuut: 45).

Allah menempatkan ibadah shalat sebagai ibadah yang sangat penting. Waktunya telah ditentukan dan harus dilaksanakan lima kali sehari dan tidak boleh kurang. Nabi Muhammad SAW menilai orang yang menegakkan shalat sebagai orang yang menegakkan agama.

Sebaliknya, orang yang meninggalkan shalat sebagai orang yang merobohkan agama. Amat disayangkan, masih banyak orang yang mengaku beragama Islam tetapi tidak melaksanakan shalat. Ada yang shalatnya hanya sepekan sekali, yakni pada saat  menjalankan ibadah Shalat Jumat.

Ada yang shalatnya hanya setahun dua kali yakni pada saat menjalankan salat hari raya. Bagaimana mungkin shalat yang seperti itu bisa menjauhkan diri dari perbuatan keji dan mungkar? Nabi Muhammad SAW memberitakan bahwa amal manusia yang pertama dihisab pada hari kiamat adalah shalat.

Barang siapa bagus shalatnya maka semua amal lainnya juga dinilai bagus. Sebaliknya, bila shalatnya tidak bagus, amal yang lain juga dinilai tidak bagus. Oleh karena itu, penting sekali bagi kita untuk memperbagus shalat, baik dari segi cara shalat, bacaan yang diucapkan, tumakminah, tujuan shalat, dan tumbuhnya perasaan akan hadirnya Allah dalam shalat.

Nabi Muhammad SAW menggambarkan pada saat shalat Allah hadir dan menjawab bacaan Al-Fatihah yang kita ucapkan. Saat shalat digambarkan seolah-olah kita sedang berdialog dengan Allah.

Orang lain tidak diperkenankan berjalan dalam batas sutrah orang yang sedang shalat. Perasaan akan hadirnya Allah pada saat shalat akan menjadikan salat kita lebih berkualitas dan itulah yang dinamakan ihsan. Perasaan seperti itu pula yang diharapkan dimiliki oleh setiap orang Islam baik di dalam shalat maupun di luar shalat, sehingga dia menjadi pribadi yang ihsan.

Perasaan akan hadirnya Allah dalam setiap aktivitas hidup kita sehari-hari itulah yang akan menjadikan salat kita tegak, baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Selama salat, ucapan dan gerakan menjadi terkontrol karena merasa diawasi Allah.

Tutur kata dan perbuatan seharihari juga akan menjadi lebih baik karena merasa diawasi Allah. Kenyataan menunjukkan banyak orang shalat tetapi masih berbuat maksiat. Untuk itu, kita perlu memerhatikan firman Allah dalam surat Al-Ankabuut di atas dengan lebih teliti.

Di dalam ayat tersebut sebelum perintah shalat ada perintah membaca wahyu Allah dalam arti mempelajari Al-Qur’an. Sebagian besar umat Islam tidak istikamah dalam mempelajari Al-Qur’an, wajar kalau shalat tidak menjauhkan diri dari perbuatan keji dan mungkar.

Yang perlu dilakukan umat Islam untuk menegakkan shalat adalah belajar Al-Qur’an, memahami, menghayati, meyakini, dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Artinya, umat Islam hendaknya menjadikan Al-Qur’an sebagai imam yang akan membimbing hati, pikiran, lisan, dan perbuatan setiap saat.  Bila hal ini yang kita lakukan, insya Allah salat kita akan tegak, baik di dalam salat maupun di luar salat. Kita akan tunduk patuh kepada Allah baik di dalam salat maupun di luar shalat. Insya Allah.

Al-Ustadz Drs. Ahmad Sukina
Pimpinan Pusat Majlis Tafsir Al-Qur’an

SOLOPOS, Jumat 20 September 2019
solpos