Memudarnya Nilai Kasih Sayang

icon-karena-semangka-mtaAkhir-akhir ini saya terheran dengan berbagai macam berita di TV tentang kasus pencurian. “Curi 1 semangka terancam penjara 5 tahun.” Sedang waktu itu terdakwa sudah ditahan selama 2 bulan. Ada lagi berita yang tak kalah hebohnya. “Seorang nenek yang tidak tahu menahu atas apa yang dilakukan, didakwa telah mencuri 2 buah coklat milik Si empunya. Dan ia juga sudah dipenjara selama kurang lebih 2 bulan juga.” So lame

Berita sebelumnya, seseorang telah mencuri sebuah ban mobil, lantas si pencuri diancam untuk dibakar, dengan sebelumnya diadili massa, dan dihajar habis-habisan dan baru berhenti setelah datang aparat keamanan. Kenapa mereka tidak berfikir dan hanya mengedepankan nafsu?

Kenapa mereka tidak mengingat bahwa yang mereka aniaya adalah sebuah jiwa yang butuh kasih sayang. Sebuah jiwa yang sesungguhnya bisa dididik dan diarahkan dalam kebaikan. Satu jiwa sungguh sangat berarti bagi seseorang yang mungkin sedang menantinya disana, istri dan anak-anak atau ibunya, dan mengharap kedatangannya. Kenapa tidak terbesit? Sekali lagi, so lame…

Ck… ck… ck… bukan perbuatan para pencuri yang saya sesalkan. Jika saya melihat para terdakwa di TV sungguh tiada tampang pencuri atau sejenisnya, meski wajah tidak bisa dijadikan sebagai standart, tapi kenapa sampai sekejam itu dan kenapa kejadian semacam itu dibesar-besarkan?? Sampai - sampai masuk TV.

Sungguh berita apapun, dijaman sekarang sangat tergantung kepada media masa yang ada. Jika semua media masa baik berbagai stasion TV, berbagai jenis surat kabar, dan tidak ketinggalan pula radio, meliput dan menyiarkan suatu peristiwa yang sejatinya sepele, bisa menjadi hot news, bulan-bulanan di kalangan masyarakat Indonesia, bahkan konsumsi masyarakat dunia.

Bukan saya bermaksud untuk membenarkan perbuatan mencuri, meski hanya 1 buah semangka ataupun 2 buah kopi, ataupun satu buah ban mobil, tapi ada banyak pihak terkait yang ikut terlibat yang sudah seharusnya menimbang akan keputusan yang mereka ambil.

Pernah mendengar kisah yang terjadi pada masa amirul mukminin, Umar bin Khattab? seseorang telah mencuri buah disebuah kebun milik seorang kaya. Penuntut melaporkan terdakwa kepada khalifah Umar bin Khattab. Singkat cerita, apa tindakan beliau setelah mendengar pengaduan oleh si kaya (penuntut) terhadap kasus yang diajukannya? Beliau memutuskan untuk menghukum Si penuntut.

Kenapa?? Usut punya usut, ternyata Si kaya melupakan kewajibannya menafkahkan sebagian hartanya untuk fakir miskin, akhirnya dengan segala keterpaksaan, si miskin mencuri buah untuk dimakan. Jadi, didalam kasus ini ada analisis dulu… sebelum memutuskan sebuah putusan.

Jika saya boleh berkomentar, kenapa hanya tertangkap mencuri sebiji semangka atau 2 biji kopi harus mendekam dipenjara selama beberapa bulan? Sedang mereka yang jelas-jelas terbukti korupsi bermilyar-milyar tidak dituntut sedemikian rupa?

Memang konteksnya berbeda, dan mencuri apapun tidak ada dalih untuk dibenarkan, tapi apakah mereka tidak mengklarifikasi terlebih dahulu, kenapa ia musti mencuri?? Terutama untuk kasus ini. Kenapa sebuah permasalahan yang seharusnya bisa diselesaikan dengan musyawarah harus dibesar-besarkan?

Dimana letak sifat Ra’fah yang dicontohkan Rasulullah? Jika mereka mengaku orang Islam?? Sungguh! Saya pikir, masyarakat Indonesia perlu perombakan besar-besaran di segala aspek kehidupan dan menyeluruh, meski harus dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu.

Sekarang Si Aparatur keamanan. Sobat, memang negara ini adalah negara hukum dan dituntut untuk saklek, ‘jika melakukan pelanggaran pasal ini maka hukumannya ini.’ Oke, memang aturan dibentuk agar semua masyarakat tertib dan demi kemaslahatan bersama, karena memang yang diatur orang banyak, tapi terkadang kondisinya (kesalahan yang dilakukan) berbeda dengan “kesalahan standart”.

Si pencuri tidak merasa mencuri, hanya membawa pulang buah yang mana beliau tidak tahu bahwa ternyata 2 buah coklat itu sangat berarti bagi Si pemilik kopi. Jika kenyataannya demikian, kenapa masih dituntut dan kenapa Si aparatur keamanan tidak menawarkan solusi yang meringankan untuk kedua belah pihak? Musti masuk penjara dulu. Sebetulnya ini masalah yang mudah, tapi kenapa dipersulit? Sama saja dengan kasus sebiji semangka.

Islam mengajarkan, ‘permudahlah sebuah urusan, jangan dipersulit’, apalagi mempersulit orang, dan bersenang-senang diatas penderitaan orang lain, sungguh sangat bertentangan dengan Islam. Jika ia mengaku orang Islam, sudah sepantasnya hal demikian tidak dilakukan.

Sungguh Rasulullah SAW sangat berat jika membebani umatnya, sangat berat jika harus menghukum meski kesalahan itu benar-benar mereka lakukan. Tapi karena jiwa kasih sayangnya, jika tidak ada bukti kuat, jangan sampai menjatuhkan hukuman atau mengharuskan beliau untuk menghukumnya. Sungguh sangat mulia akhlaq beliau sebagaimana yang telah tertulis dalam Alqur’an surat At-taubah 128,

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”

Saya yakin jika seorang manusia betul-betul mengamalkan kebenaran Islam meski sebatas yang mereka tahu saja, insyaAllah hal-hal semacam itu tidak akan pernah terjadi. Karena Islam adalah Rohmatan lil ‘alamin, kemuliaannya mampu meninggikan derajat manusia dikalangan manusia itu sendiri dan dimata Allah.

Mengapa fenomena tersebut diatas terjadi? Menurut saya, kepekaan hati, kekayaan jiwa, dan longgarnya hati untuk memberikan sesuatu kepada saudara sesama (meski tidak seagama tapi saudara sebangsa dan setanah air) sudah terkikis dan hampir tidak ada.

Sifat bakhil dan kikir sudah mulai mewarnai hidupnya. Alih-alih memberi, hampir-hampir jangan sampai se-sen pun uang terlepas dari genggaman tangannya, yang ada dalam pikirannya hanya mengumpulkan uang banyak, untung dan jangan sampai uang terlepas tidak ada imbal baliknya.

Jika saya boleh bertanya, siapa yang memberi rejeki melimpah? Siapa yang menjadikan Anda bernapas dengan leluasa? Siapa yang memberikan harta serta kenikmatan lain yang sekarang Anda nikmati?? Jika Anda orang Islam pasti bisa berfikir dan menemukan jawaban yang tepat.

Lagi-lagi Islam mempunyai solusi yang pas dan tepat untuk mengatasi problematika keserakahan manusia yang sudah terprediksi. Islam telah mengajarkan untuk mengeluarkan uang zakat sebesar 2,5% dari setiap penghasilan yang ia dapat.

Allah juga telah memberi tahu kita, bahwa harta yang bermanfaat adalah yang dibelanjakan di jalan Allah, karena itulah harta kita sesungguhnya. Jika kita membiasakan mengeluarkan harta kita untuk kemaslahatan bersama dan tentunya sesuai yang dianjurkan Allah, maka penyakit iri, dengki, bakhil, kikir dkk akan hilang, yakin! karena itu pendidik jiwa kita.

Pernah mendengar kisah Rasulullah saw saat berkorban seekor kambing?? Beliau mempunyai seekor kambing lantas disembelih dan dibagi-bagikan untuk semua sahabat beliau. Setelah semua mendapat bagian, maka tinggallah Rasulullah saw bersama istrinya, ‘Aisyah. “Apa masih ada Ya ‘Aisyah?” beliau bertanya pada istrinya. Lantas ‘Aisyah menjawab, “ Habis Ya Rasulullah, Tinggal kaki.” Lalu Rasulullah bersabda, “Tidak, yang habis ya itu, yang tersisa sekarang, yang lainnya masih kekal disisi Allah.” Begitulah Rasulullah mengajarkan kebesaran jiwa atas kemuliaan Islam pada umatnya. Kejadian itu untuk dicontoh bukan untuk sekadar diketahui.

Kita juga ingat akan sebuah kisah seorang pemuda yang menemukan buah apel yang telah hanyut di sebuah sungai. Karena ia lapar dan merasa tidak ada yang mempunyai buah apel tersebut, lantas pemuda itu memakannya. Namun, setelah memakannya muncul perasaan bersalah dalam hatinya. Ia merasa apa yang dimakan belum mendapat ridlo dari Si empunya.

Sejurus kemudian, ia mencoba menelusuri sungai itu hingga ia menemukan sebuah pohon apel yang cabangnya menjulur diatas sungai. Singkat cerita, ia menemui Si pemilik rumah yang tidak lain adalah pemilik pohon apel tersebut. Oleh Si empunya, bukannya Si pemuda tersebut dimarahi habis-habisan, dihajar atau bahkan dimasukkan ke penjara?! Melainkan dinikahkan dengan anak gadisnya yang cantik jelita.

Begitulah buah dari kebenaran Islam jika betul-betul diterapkan. Islam itu mudah dan mempermudah.

Nur Rohmawati // MTA Cab. Depok Yogyakarta


3 komentar pada “Memudarnya Nilai Kasih Sayang

  1. islam mendidik kita untuk disiplin dan tertib dalam segala hal..jadi kalau dalam sholat kita bisa tertib,disiplin,jujur ma ALLAH,diluar sholat kenapa tidak?apa yang salah dengan tauhid?jawaban ada pada kejujuran nurani kita sendiri.

  2. islam yg LURUS, yg dibawa Rasul SAW sangat indah dari sudut pandang manapun, membawa tentram jiwa&hati, sarat kasih sayang yg murni, yg berharap hanya lilahi ta’ala

Beri Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.