Memilih PEMIMPIN

pemimpin-memilih-mta

(Mimbar Jumat - Solopos, 21/12/2018) Sekitar empat bulan lagi, tepatnya 17 April 2019, Indonesia akan melaksanakan pemilihan umum secara serentak untuk menentukan presiden-wakil presiden, anggota DPR/DPRD dan anggota DPD. Sebuah pekerjaan besar yang akan menentukan nasib bangsa Indonesia dalam lima tahun mendatang, bahkan bisa lebih.

Surat kabar, radio, televisi setiap hari memberitakannya. Media sosial pun meriah dengan berbagai isu yang terkait dengan pemilu. Hoaks (kabar bohong), hate speech (ujaran kebencian) dan black campaign (kampaye hitam) berseliweran menambah kebingungan masyarakat untuk menentukan pilihan yang terbaik. Umat Islam harus bersatu menentukan pilihan terbaik menurut kriteria yang ditunjukkan Islam.

Ada dua kriteria untuk menentukan pemimpin yang baik, yang pertama adalah Integritas Moral. Artinya seseorang pemimpin tidak boleh memiliki cacat moral, keinginan hati, tutur kata dan perbuatan yang sama, menyatu dalam kebaikan. Cukup dikatakan sebagai orang cacat moral kalau dia ketahuan berbohong dengan sengaja.

Bohong termasuk salah satu sifat munafik yang harus dihindari, maka tidak layak orang beriman memilih pemimpin yang memiliki sifat-sifat kemunafikan.

Seorang pemimpin harus jujur, sejujur-jujurnya karena dia harus bertanggung jawab dihadapan Allah atas kepemimpinannya. Sifat jujur apa adanya itulah yang ditunjukkan Rasulullah SAW sebagai pemimpin ummat dan sifat itu disebut shidiq. Integritas moral seorang juga ditunjukkan oleh keseriusannya dalam menepati janji dan memegang amanah. Seseorang yang ketahuan dengan sengaja mengingkari janji atau menghianati amanah, maka dia mengalami cacat moral.

Islam mengajarkan kabiirulqaum khaadimuhum, pembesar satu kaum adalah pelayan mereka. Pemimpin harus melayani bukan untuk dilayani, tidak boleh seenaknya sendiri mengingkari janji dan menghianati rakyat. Tidak ada alasan yang bisa diterima bagi seorang pemimpin untuk mengingkari janji dan menghianati rakyatnya. Itulah sifat amanah yang melekat dalam kepribadian mulia Rasulullah SAW yang sangat patut diteladani oleh semua pemimpin dunia.

Kriteria yang kedua adalah kapasitas intelektual, artinya seorang pemimpin itu harus cerdas dalam berpikir dan terampil dalam berkomunikasi. Seorang pemimpin yang cerdas mampu menetapkan kebijakan jangka panjang yang menguntungkan rakyatnya dan tidak melakukan kebijakan tambal sulam berulang-ulang merugikan rakyat. Kecerdasan seorang pemimpin itulah yang digambarkan oleh Rasulullah SAW sebagai sifat fatonah.

Sedangkan ketrampilan dalam berkomunkasi (communication skill), artinya seorang pemimpin harus berkomuniasi sehingga tidak menimbulkan kebingungan dan kegaduhan ditengah masyarakat. Sebuah pesan yang sama bisa disampaikan dengan cara berbeda-beda, seorang pemimpin harus pandai menyampaikan nya dengan cara menyejukkan.

Comunication skill itulah yang melekat pada diri Rasulullah SAW sebagai sifat tabligh. Walhasil, dalam diri Rasulullah SAW terdapat keteladanan yang indah bagi kita semua maka teladanilah. Semoga Allah menolong kita semua, umat Islam untuk menentukan pilihan terbaik. Amin

ustadz-ahmad-sukino-solopos-hikmah-jumat-memilih-pemimpin