Memberikan Nilai sebagai Cermin

icon-menilai-mtaMenilai, yah.. inilah yang menjadi kebiasaan orang pada umumnya termasuk saya dan juga antum semua. Begitu mudahnya orang memberikan penilaian kepada orang lain. Memberi nilai ‘baik’atau ‘buruk’ seseorang hanya berdasar persepsi pribadi, tanpa mencoba meninjau dari berbagai sudut pandang yang lain apalagi ber-tabayyun. Ironisnya, seringkali penilaian ‘baik’atau ‘buruk’seseorang kadang hanya berdasar apa yang tampak di luar saja.

Seperti halnya yang pernah dialami oleh seseorang, sebut saja si A. Kala itu, ia bersama dengan segerombolan pria bertato, berpakaian tidak rapi dan nyaris sangat mirip dengan seorang preman. Kebetulan, saat itu ada tetangganya yang melihatnya bersama segerombolan yang (menurut tetangganya) ‘tidak baik’ tersebut.

Apa yang terjadi kemudian? Tetangga tersebut tanpa bertanya lebih lanjut kepada yang bersangkutan, langsung menyebut bahwa si A telah salah bergaul. Bahkan, ia dinyana telah terpengaruh dengan kehidupan menyesatkan dan terlibat kasus narkoba.

Benarkah itu? Andai tetangganya tahu, segerombolan pria bertato tersebut adalah mereka yang telah dibukakan pintu hatinya oleh Allah. Si A telah mengajak mereka, untuk bersama mengikuti kajian yang akan memberikan pencerahan ke jalan keselamatan.

Tak hanya si A, si B pun juga mendapat penilaian tanpa dasar dari orang ketika ia didapati tengah (maaf) bercipika cipiki dengan seorang pria. Kontan karena adegan ini, orang yang melihatnya tersebut lantas menilai si B sebagai sosok yang ‘buruk’. Yang lebih tidak bisa diterima oleh orang yang melihat tersebut adalah karena si B mengenakan jilbab, dan jilbabnya pun bukan tergolong jilbab mini.

Karuan umpatan-umpatan buruk keluar dari orang tersebut. “Ibu yang nggak pake jilbab aja, cuman salaman thok, nggak cipika cipiki. Lha dia? Gunanya dia pake jilbab itu untuk apa?”

Lalu, benarkah itu? Wanita berjibab tengah bercipika cipiki dengan seorang pria? Andai orang tersebut tahu sejak awal, jika seorang pria tersebut adalah kakak kandungnya sendiri. Sayang, tuduhan itu baru bisa diredam setelah ada seseorang yang memberitahu bahwa mereka adalah saudara kandung.

Lain si B, lain pula si C yang pernah terjerat kasus hubungan tak halal (kencan di Mall) dengan si D. Karena kasus ini, ia pernah mendapat skors dari sekolah selama dua minggu. Nyaris, karena skors yang diberikan inilah, ia mendapat image negatif dari orang-orang. Bahkan, yang lebih membalalakkan mata, si C dinilai sebagai sosok yang tak bisa diharapkan kebaikannya lagi.

Padahal, andai orang bisa memberikan kesempatan itu, si C tengah berusaha merubah pribadinya ke arah yang lebih baik. Dan untuk menuju ke sana, perlu proses yang tak terbilang singkat. Sayang, orang terlalu mengganggapnya sebagai sosok yang berkasus.

Tidak Gegabah Menilai

Kasus yang mendera si A, B dan C hanyalah sekelumit dari banyaknya kasus yang banyak kita jumpai atau mungkin malah sering kita alami sendiri. Gegabah menilai, tanpa mencoba untuk bertabayun dulu (kroscek ke yang bersangkutan) dan cenderung termakan oleh prasangka buruk.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS Al Hujurat 12)

Kenapa kita tidak berprasangka baik terlebih dahulu? Belum tentu apa yang kita lihat, kita dengar itu adalah nyata adanya. Karena Allah Yang Maha Tahu. Pantaskah kita mendahului kehendak-Nya? Meskipun pada kenyataannya, apa yang kita lihat, kita dengar itu adalah benar adanya, maka sudah menjadi tugas kitalah untuk membimbingnya ke jalan yang lurus. Bukan malah “berkoar-koar”, mengabarkan kepada khalayak orang tentang keburukannya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلا تَنَابَزُوا بِالألْقَابِ بِئْسَ الاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الإيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik…” (QS Al Hujurat 11)

Belum tentu seseorang yang kita nilai ‘buruk’, bahkan kita berani menyebutnya sebagai sosok yang tidak bisa diharapkan kebaikannya lagi, adalah lebih buruk ketimbang kita. Siapa yang tahu akan waktu yang berjalan? Setahun, dua tahun, tiga tahun yang akan datang? Bisa jadi karena kasih sayang-Nya, Allah justru membukakan pintu hatinya dan memberi petunjuk kepadanya. Sebaliknya, kita yang pernah berpikir lebih baik ketimbang orang yang pernah berkasus itu, justru dipalingkan dari rahmat-Nya (na’udzubillah).

Allah-lah Yang Maha Tahu. Siapa yang tahu relung hati seseorang? Terkadang, karena tindakan gegabah kita yang tidak bijak menilai, justru akan menciutkan motivasinya untuk berubah menjadi baik. Setiap apa yang dilakukannya untuk mengubah pribadinya, selalu kita nyanakan sebagai sesuatu yang buruk. Jika imannya tak kuat, bisa jadi, niatnya justru akan berbalik arah.

Maka dari itu, tidak sepantasnya kita menilai ‘baik’atau ‘buruk’seseorang. Karena Allah berfirman,

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS Al Anbiyaa’ 47)

Yah, disanalah semua amal dan perbuatan kita akan dinilai langsung oleh Allah, Dzat Yang Maha Pencipta dan Maha Adil. Sebagai hamba-Nya yang benar-benar mengharap pertemuan dengan-Nya, tentulah ia memilih untuk sibuk menilai pribadinya sendiri, bukan malah sibuk menilai pribadi orang lain.

Menilai bukan dalam hal kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan, melainkan kekurangan atau kesalahan apa yang telah kita lakukan, agar ke depan menjadikan kita semakin LEBIH BAIK lagi dan tetap berjalan di jalan yang dirahmati Allah.

*Cerita dari si A, B dan C adalah fakta, bukan fiktif, agar kita bisa berkaca dari kenyataan yang terjadi di sekitar kita…


12 komentar pada “Memberikan Nilai sebagai Cermin

  1. saya ingin mengetahaui makna dibalik masalah n bgMn dGn hadits yG mengatakan bhw barang syapa yg tDk mnikah smpe pD waktuNya hingga akhir hayatNya maka diya tidak khan diakui ole nabi
    moHon PNJELASAN sCAr mendetail
    sYuKraaNnNNn yaaa Akhyyy

  2. Barangkali cermin nya sudah banyak debu tebal yg kotor dan bahkan banyak bercak2 kotoran. Bersihkan dulu cerminnya.

  3. kadangkala saya pribadi suka terbawa emosi ketika ada orang2 di sekitar kita yang tanpa ba-bi-bu menilai kita yang gak2 tanpa fakta pendukung.Tapi itu justru menjadi bahan untuk introspeksi buat diri saya.karena akan capek sendiri bila kita menanggapi penilaian orang yang “belum kenal” kita.

  4. ana juga tersindir dengan artikel ini. ana setuju dengan kalimat : Sebagai hamba-Nya yang benar-benar mengharap pertemuan dengan-Nya, tentulah ia memilih untuk sibuk menilai pribadinya sendiri, bukan malah sibuk menilai pribadi orang lain.
    syukron.

  5. Jadi tersindir deh..membaca artikel ini..
    Seringkali saya terlalu sok analisis yang berujung tebak-tebak an apakah ramalan kita terhadap orang tersebut sesuai yang kita prediksi…entah dipendam dalam hati atau didiskusikan dengan rekan sebelah..

    Sudah saatnya STOP itu semua..lebih baik berpikir positip, tidak terburu-buru, selalu berusaha konfirmasi (tabayyun) dan mengurusi diri sendiri (alias jangan mengurusi orang lain) apalagi jika tidak penting..biar energi lebih tersalurkan kepada hal2 positip lainnya..

    capek lo

    trims MTA

  6. Sebaiknya kita nilai diri kita sendiri, instropeksi diri, mawas diri, mengkaca diri, menanyakan pada diri sendiri apakah yg sudah diperbuat bermanfaat bagi diri kita sendiri, keluarga, lingkungan bangsa dan negara dan yang paling penting apakah kita sudah menetapi perintah Alloh, Rosul dan menjahui larangannya ??????????? …..

Beri Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.