Membangun Bangsa Besar Dengan Fondasi Taqwallah

Segala puji hanya layak untuk Allah, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad Saw, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya. Salam untuk seluruh Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul-Nya.

Manusia dari waktu ke waktu selalu membutuhkan peningkatan kwalitas, baik kwalitas kemampuan aqal dan kemampuan jiwa agar semakin memiliki kwalitas yang baik sebagaimana firmanNya

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴿٣﴾ وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ

  1. Demi masa.
  2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
  3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

(QS 103 Al-‘Ashr ayat 1 sd 3)

Manusia selalu saja butuh memperbaiki iman dan aman sholihnya dengan nasehat-nasehat, sehingga nasehat untuk selalu dalam kebenaran, dan selalu dalam kesabaran adalah dalam rangka menyempurnakan imannya. Sehingga dapat sampai kepada derajad yang istiqomah hingga akhir hayat.

Demikian pula manusia sebagai khalifatullah, manusia butuh terus menerus menyempurnakan diri, sejak adanya manusia debekali oleh Allah dengan ilmu pengetahuan untuk dapat menjadi kalifatullah dimuka bumi sebagaimana kisah Nabi Adam

قَالَ يَا آدَمُ أَنبِئْهُم بِأَسْمَآئِهِمْ فَلَمَّا أَنبَأَهُمْ بِأَسْمَآئِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ

  1. Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini". Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"

(QS 3 Al-Baqarah ayat 33)

Allah telah memberikan kepada Nabi Adam dan anak turunnya untuk dapat menjadi khalifah dimuka bumi, dan kemampuan itu tidak dimilik oleh para malaikat. Pada saat ini kita lihat  manusia telah Allah beri kemampuan untuk menguasai berbagai macam ilmu dan teknologi untuk mengelola apa saja yang ada di langit dan di bumi.

Berbagai hal tentang pengelolaan dunia telah Allah ketengahkan di berbagai firmannya di Al-Qur’an antara lain,

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُم بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ

  1. Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.( QS 38 Shaad ayat 26)

يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِن مَّحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَّاسِيَاتٍ اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْراً وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

  1. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih. (QS 34 S Saba’ ayat 13)

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولاً فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

  1. Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.(QS 67 Al-Mulk ayat 15)

فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ إِلَى طَعَامِهِ ﴿٢٤﴾ أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاء صَبّاً ﴿٢٥﴾ ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقّاً ﴿٢٦﴾ فَأَنبَتْنَا فِيهَا حَبّاً ﴿٢٧﴾ وَعِنَباً وَقَضْباً ﴿٢٨﴾ وَزَيْتُوناً وَنَخْلاً ﴿٢٩﴾ وَحَدَائِقَ غُلْباً ﴿٣٠﴾ وَفَاكِهَةً وَأَبّاً ﴿٣١﴾ مَّتَاعاً لَّكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ

  1. maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.
  2. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit),
  3. kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya,
  4. lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu,
  5. anggur dan sayur-sayuran,
  6. Zaitun dan pohon kurma,
  7. kebun-kebun (yang) lebat,
  8. dan buah-buahan serta rumput-rumputan,
  9. untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.

(QS 80 Abasa ayat  24 sd 32)

Dari beberapa ayat tersebut Allah memerintah untuk mengelola alam, untuk menjadi khalifah Allah dengan cara yang sebaik-baiknya, penataan tidak hanya dilakukan dengan ilmu pengetuhan dan teknologi saja tetapi didalam diri diri pengelola Alam itu juga harus ada Taqwallah.

  1. Al-Qur’an Kitab Petunjuk Hidup Sepanjang Zaman.

Bila manusia mau kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, mau memikirkan Al-Qur’an dan Sunnah, mau memahami dan menghayati Al-Qur’an dan Sunnah, maka Allah telah memberikan petunjuk jalan yang lurus dalam mengelola hati dan aqal manusia. Ruh-ruh manusia sangat membutuhkan ibadah kepada Allah dimanapun berada. Selama manusia hidup di muka bumi manusia membutuhkan segala fasilitas yang ada di muka bumi.

Agar manusia sejahtera lahir dan batin maka Al-Qur’an telah lengkap mendidik manusia untuk mahir dalam beribadah kepada Allah dan dalam mengelola Alam untuk digunakan untuk hidup di muka bumi. Bila manusia meninggalkan Al-Qur’an dalam mengelola bumi maka bisa saja terjadi berbagai kerusakan padanya sebagaimana firman-Nya

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

  1. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS 30 Ar-Ruum ayat 41).

Ketika bangsa manusia meninggalkan iman dan taqwa dalam mengelola Bumi, ketika manusia enggan untuk melihat bimbingan Al-Qur’an dan Sunnah dalam mengelola diri dan mengelola Bumi,  maka di muka bumi akan terjadi kerusakan yang besar.

Bukan karena manusia bodoh dalam masalah ilmu dan teknologi, tetapi disebabkan karena hati manusia telah ditumbuhi dengan berbagai penyakit yang merusak, diantaranya penyakit rakus, penyakit sombong, penyakit dengki, penyakit iri, penyakit bakhil, penyakit dzalim, penyakit malas dan banyak penyakit-penyakit lain yang akan menghancurkan kemuliaan dan rasa kemanusiaan manusia dimuka bumi , walaupun berlimpah ruah dengan kemampuannya untuk menguasai dan menggunakan  ilmu dan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Bangkit dari Krisis menuju kepada Bangsa yang Besar.

Bayangan sebuah bangsa dikatakan sebagai bangsa yang besar, diantaranya adalah adanya bangsa tersebut dapat bermanfaat bagi dirinya dan bagi seluruh bangsa-bangsa di muka bumi. Baik dalam membangun perdamaian antar bangsa, membangun kerukunan antar bangsa, atau juga membangun kesejahteraan antar bangsa.

Bangsa yang punya Taqwa kepada Allah, yang punya keimanan kepada hari akhir, akan melihat diri sebagai bangsa, adalah ingin tumbuh menjadi bangsa yang mandiri dan sejahtera, dan kemudian tumbuh menjadi bangsa yang bisa membantu dalam membangun kesejahteraan bangsa lain.

Bangsa yang bertaqwa tidak melihat bangsa lain sebagai pesaing, dan tidak ingin menjarah kekayaan bangsa lain dengan cara mengadu domba dan cara-cara Dosa. Karena kejahatan yang dilakukan oleh siapapun baik oleh seorang manusia atau sebuah bangsa maka akibat buruknya akan kembali kepada diri mereka masing-masing.

Bangsa yang baik adalah bangsa yang selalu menebarkan kebaikan dan selalu berusaha membangun perdamaian diantara seluruh bangsa bangsa di dunia. Maka untuk mencapai posisi itu, maka Bangsa itupun sudah harus memiliki kepribadian yang damai, yang mandiri, pribadi pendamai.

Bangsa yang besar biasa diharapkan bisa menolong bangsa-bangsa lain, terutama bangsa-bangsa yang lemah. Maka bangsa yang besar harus memiliki rakyat yang kuat dan produktip. Bangsa yang besar berarti bangsa yang suka bekerja keras, bekerja keras untuk mencukupi dirinya sendiri dan untuk beramal membantu bangsa lain untuk dapat bahagia dalam kehidupan di dunia dan di akherat.

Segala puji bagi Allah, Alhamdulillah, Allah SWT menyedarkan kita semuanya untuk menjadi pribadi atau bangsa yang bahagia di dunia dan di akherat mengharuskan semua elemen untuk menyempurnakan diri dalam masalah iman dan taqwanya. Baik secara pribadi maupun secara kebangsaan.

Banyak manusia ingin mengejar kemajuan yang dipamerkan oleh bangsa-bangsa lain, dan seolah itu adalah kesuksesan yang sempurna. Hingga kadang-kadang mengorbankan segala keutamaan dan kelebihan dirinya  dan di sia-siakan karena ingin sejajar dengan bangsa lain dalam masalah Kemegahan dan Kemewahan dan akhirnya Kandas, sebagaimana firman Allah.

إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِن فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَّا هُم بِبَالِغِيهِ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

  1. Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS 40 Al-Mukmin ayat 56)

 

  1. Kesimpulan

Sudah seharusnya bangsa Indonesia yang dikarunia Alam yang indah dan penuh berkah, dan dihuni oleh umat Islam yang mencapai 80 persen. Harus kembali pada jalan Keimanan dan Ketaqwaan dan terus berupaya meningkatkan diri segala kemampuannya untuk bisa menjadi khalifah Allah yang semakin baik.

Dan bisa tumbuh menjadi bangsa yang Kuat, bangsa yang Mandiri, bangsa Pendamai, bangsa Penebar Perdamaian, bangsa yang bisa Menolong seluruh bangsa-bangsa lain yang membutuhkan pertolongan.

Dan bukan menjadi bangsa yang suka mengadu Domba dan menjarah, baik dengan cara vulgar atau dengan cara halus. Bangsa Indonesia tidak akan pernah bisa menjadi bangsa yang besar kecuali harus mampu membuktikan diri bahwa seluruh elemen bangsa adalah orang-orang yang baik. Bila korupsi dan memperkaya diri dengan cara-cara dosa masih menjadi warna manusia Indonesia maka harapan menjadi bangsa yang besar semakin kecil.

Manusia yang besar adalah manusia yang suka menolong orang lain dan berkurban untuk menolong orang lain. Demikian pula bangsa yang besar adalah bangsa yang suka menolong bangsa lain dan suka berkurban untuk menolong bangsa lain, semuanya berharap kepada Keridhoan Allah baik di dunia dan dia akherat.

Kita berlindung kepada Allah dari sifat-sifat yang buruk, karena dosanya akan kembali kepada diri-diri masing-masing, dan akan dirasakan baik di Dunia dan di Akherat pasti.

Wallahu a’lam.