Membaca Wajah Orang Shalat

dirikan-shalat-agar-selamat

Bang Ahmad dan Fathoni terlibat dalam sebuah obrolan santai saat ngopi di warung Berkah. “Di kampung kita ini banyak orang mengerjakan shalat, tetapi juga banyak maksiat. Para peronda minum miras sampai mabuk di Pos Roda setelah main judi satu jam sebelumnya. Kemarin malam para pemuda nggrebek seorang pemuda yang sering menginap di rumah janda kembang. Letaknya di belakang pos ronda”, kata kang Ahmad memulai obrolannya.

Kang Fathoni menyambung guna memperoleh gambaran yang lebih jelas dengan menanyakan apakah para pelakunya orang shalat. “wong wong kuwi podo nindakne shalat opo ora ?” tanya kang Fathoni. Ahmad menjelaskan mereka mengerjakan shalat. Bahkan pemuda yang digrebeg tersebut, baru saja melaksanakan shalat Isak di masjid. Malam itu langsung ke rumah janda kembang yang mendapat karunia wajah aduhai dari Allah.

Lelaki yang bersua dengannya, merasa sayang kalau tidak menatap wajahnya. Bahkan banyak yang gagal focus saat bertemu dengannya. “Termasuk kang Ahmad?” , kata Fathoni menimpali. Ahmad tersipu-sipu mendapat pertanyaan yang bernada tuduhan tersebut. Diskusi menjadi lebih gayeng. Terlebih disemangati dengan kopi panas yang masih mengepul. Aroma kopinya sangat kuat dan membangkitkan selera.

Dilengkapi dengan berbagai camilan. Bagaikan seorang ustadz, kang Fathoni memberikan penjelasan. Bagaikan alir mengalir, kang Fathoni menjelaskan fenomena banyaknya orang mengerjakan shalat tetapi rajin maksiat.

Mereka hanya mengerjakan shalat dan tidak menegakkan shalat.

“Orang yang mendirikan sholat, niscaya terhindar dari perbuatan keji dan mungkar. Sedangkan orang yang mengerjakan sholat, belum tentu terhindar dari perbuatan keji dan mungkar,” ujar kang Fathoni memulai penjelasannya.

Mereka melaksanakan sholat hanya sebatas melepas/menggugurkan kewajiban.

Artinya, hanya melakukan ritual sholat saja, tanpa memiliki kesadaran dan pemahaman mendalam terhadap makna shalat dan tidak mengaplikasikan dalam kehidupan.

Ketika seseorang melakukan sholat, dia mengungkapkan dengan lesan dan tindakannya mengagungkan Allah, memahasucikan Allah, mohon ampun kepada Allah, janji setia kepada Allah dan Rasul.

Implikasinya antara lain menghindari perbuatan dosa karena dia telah mohon ampun. Tidak mensekutukan Allah, karena telah memahasucikan dan membesarkan Allah. Kalau dia berbuat dosa, padahal dalam sholatnya mohon ampun berarti kontra produktif.

Mendirikan sholat, lanjut Fathoni, tidak hanya sebatas melakukan ritual sholat. Tetapi dibangun dengan landasan kesadaran akan dekatnya dengan Allah Swt serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dia tidak hanya sekedar mengerjakan sholatnya, tetapi juga dia memahami bahwa sholatnya itu adalah sebagai sarana komunikasi dengan Allah, dan memaknai sholatnya tidak hanya ketika dia shalat saja, Tapi sholatnya itu tercermin dalam kehidupannya sehari-hari.

Karenanya, sholat disebut tiang agama. Tiang tersebut harus didirikan, jika tiang utama ini roboh, maka bangunan akan roboh. Bagaikan orang yang tidak sholat.

Sering ada istilah la wa la. La sholat wa la poso. Tidak sholat dan tidak puasa. Maka wajar kalau dekat maksiat.

Perintah dari Allah masalah sholat adalah “Dirikanlah/ tegakkanlah shalat” bukan “kerjakanlah shalat”.

Sholat untuk mengingat Allah. Usahakan jangan sampai ketika sholat malah ingat lainnya. dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. [QS. Thaahaa : 14]

Dia sholat berarti Islam, bukan kafir. Karena Islam tidak pantas, bahkan haram mensekutukan Allah, haram bermaksiat dan menentang kepada Allah, haram melakukan perbuatan dosa.

Dari Jabir, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “(Yang membedakan) antara seseorang dan kekufuran adalah meninggalkan shalat”. [HR. Jama’ah, kecuali Bukhari dan Nasai, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 340].

Memelihara sholat, maksudnya menjaga diri dari perbuatan fahsya’ dan mungkar.

Sebagaimana seseorang ketika sholat, dia shalat an sich, tidak nyambi mabuk, tidak nyambi melakukan pergaulan bebas dan sebagainya. Barangsiapa yang berbuat demikian di luar sholatnya, maka shalat itu baginya merupakan cahaya dan penyelamat pada hari qiyamat. Siapa yang sebaliknya, maka dia akan bersama Qarun, Fir’aun, Haaman dan Ubay bin Khalaf alias masuk neraka.

Karena Qarun dan teman-temannya masuk neraka. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash, dari Nabi SAW bahwa beliau pada suatu hari menerangkan tentang shalat, lalu beliau bersabda,

“Barangsiapa memeliharanya, maka shalat itu baginya sebagai cahaya, bukti dan penyelamat pada hari qiyamat. Dan barangsiapa tidak memeliharanya, maka shalat itu baginya tidak merupakan cahaya, tidak sebagai bukti, dan tidak (pula) sebagai penyelamat. Dan adalah dia pada hari qiyamat bersama-sama Qarun, Fir’aun, Haaman, dan Ubay bin Khalaf”. [HR. Ahmad, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 343]

Sholat merupakan barometer seseorang. maksudnya kalau seseorang sholatnya baik, maka amalan lainnya baik. Dan sebaliknya kalau sholatnya jelek, maka amalan lainnya jelek. Kalau seseorang rajin maksiat, maka berarti sholatnya jelek. Sholat dan amaliah ibarat dua sisi mata uang yang tidak mungkin dapat dipisahkan.

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya pertama-tama perbuatan manusia yang dihisab pada hari qiyamat, adalah shalat wajib. Maka apabila ia telah menyempurnakannya (maka selesailah persoalannya). Tetapi apabila tidak sempurna shalatnya, dikatakan (kepada malaikat), “Lihatlah dulu, apakah ia pernah mengerjakan shalat sunnah ! Jika ia mengerjakan shalat sunnah, maka kekurangan dalam shalat wajib disempurnakan dengan shalat sunnahnya” . Kemudian semua amal-amal yang wajib diperlakukan seperti itu”. [HR. Khamsah, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 345]

IMPLIKASI SHOLAT Bagaikan orang makan, implikasinya kenang. Orang minum, implikasinya hilang rasa haus. Minum obat, sakitnya mereda atau sembuh. Orang yang sholat, maka sholatnya akan ngefek dalam dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:

1. Terjauh dari perbuatan fakhsya’.

Fakhsya' (perbuatan yang tidak pantas, tidak layak. Baca homoseks, lesbian, perzinaan, pergaulan bebas) dan munkar. Kalau tidak, maka bagaikan orang yang tidak sholat (orang kafir).

Firman Allah dalam Al Ankabut 45.

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatanperbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan

2. Membayar zakat.

Sholat dan zakat tidak dapat dipisahkan. Orang sholat pasti membayar zakat. Khalifah Abu Bakr memerangi orang yang tidak mau membayar zakat.

Dalam Qur’an penyebutan sholat dikaitkan dengan pembayaran zakat. Islam memerintahkan membayar infaq, bukan meminta infaq. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Dengan memberi atau membayar infaq, seseorang akan terhormat dan mulia. Tidak menjadi tarzan. Hidup atas tanggungan orang lain.

Al Baqarah ayat 3 dan 43. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezk yang Kami anugerahkan kepada mereka. ayat 3. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku. Ayat 43.

3. Bekerja.

Sholat dan bekerja tidak dapat dipisahkan.

Orang yang sholat, rajin bekerja. Bekerja adalah mulia. Menganggur itu tercela. Dengan bekerja dia akan dapat membayar zakat dan kewajiban-kewajiban lainnya. Dia hidup terhormat, bukan peminta minta. Hidup atas tanggung orang lain.

Firman Allah dalam QS Al Jumah 10. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

Abu Hurairah r.a berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Jika seseorang itu pergi mencari kayu, lalu di angkat seikat kayu di atas punggungnya (yakni untuk dijual ke pasar) maka itu lebih baik baginya daripada minta kepada seseorang baik di beri atau di tolak” (H.R Bukhari dan Muslim).

Bekerja, kemudian memberi (kendati hanya memberi untuk diri sendiri, sehingga tidak menjadi beban orang lain), membayar zakat adalah bukti keperkasaan seorang mukmin.

Orang mukmin yang kuat, lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah. Karena itu sekali lagi, bekerja lebih mulia daripada mengemis.

Mengemis adalah indikasi kelemahan, setidaknya lemah dalam hal harta. Karena itu api keinginan untuk bekerja haruslah membara dan menyala dalam hati seorang mukmin sehingga menjadilah dia seorang pribadi yang memiliki etos kerja luar biasa.

Apapun pekerjaan itu, bagi seorang mukmin tidak masalah. Yang penting halal. Etos kerja ialah suatu sikap jiwa seseorang untuk melaksanakan suatu pekerjaan dengan perhatian yang penuh. Sehingga pekerjaaan itu akan terlaksana dengan maksimal dan sempurna. Atau setidaktidaknya mendekati sempurna. Menyapu dengan hasil bersih adalah contoh kerja dengan etos kerja tinggi, contoh kerja dengan hasil sempurna. Sedang menyapu dengan kotoran masih berserakan di sana sini menggambarkan kerja asal-asalan; bahkan mungkin tanpa etos kerja.

4. Sanggup menerima peringatan.

Manusia tidak ada yang sempurna.

Manusia dilekati sifat khilaf, keliru, salah dan sifat-sifat lemah lainnya. Maka Islam memberikan solusi dengan tawashau, saling mengingatkan, saling tegur sapa. Orang yang sholat, sanggup menerima teguran, nasehat dan sebagainya. Ini adalah bentuk kepedulian. persaudaraan dan tanggungjawab antar sesama.

Firman Allah dalam Fathir 18.

Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orangorang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihatNya dan mereka mendirikan sembahyang. Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allahlah kembali(mu).

5. Musyawarah.

Musyawarah mempunyai fungsi ganda dalam pergaulan seharihari. Selain solusi yang diperoleh lebih sempurna atau mendekati sempurna, dalam musyawarah ada unsur memanusiakan manusia.

Orang yang diajak musyawarah akan senang dan ini berarti membangun komunikasi dan mempererat persaudaraan.

Firman Allah dalam Asy Syura 38

Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka

6. Orang sholat menyenangkan (murah senyum, supel, berbudi pekerti luhur dsb).

QS 48 Al Fath 29.

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

Wajah merupakan wakil seseorang. sedang sedih, senang, galau, dirundung masalah, bahagia, dapat dibaca dari wajahnya.

Termasuk seseorang dikatakan cantik atau bagus, cukup dilihat dari wajahnya. Melalui air mukanya, nampak keimanan dan kesucian hatinya.

Dalam ayat 29 ini digambarkan orang sholat itu sangat menyenangkan orang yang melihatnya. Berarti dalam dirinya ada hal-hal yang mengagumkan dan menarik.

Mempunyai pendirian kuat dan tegas. (*)

 

Oleh : AA Gim (Guru SMA MTA Surakarta)