Memaknai Ibadah Haji dan Qurban dengan Bersyukur, Taqarrub Ilallah dan Istiqomah

shalat-ied-1440-h-mta-manahan-2019-idul-adha

Dalam sejarah perjalanan Nabi Ibrahim AS, jelas sekali penuh dengan simbol-simbol ajaran agama Islam yang terkandung dalam pelaksanaan ibadah haji. Perlambang-perlambang seperti Ka’bah, Hajar al-Aswad, multazam, makam Ibrahim, air zamzam, hijir Ismail, tawaf, sa’i, melontar jumrah, adalah semacam napak tilas perjalanan kehidupan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya. Bagi mereka yang sudah menunaikan ibadah haji simbol-simbol yang disebutkan tadi tentu sangat familiar dan akrab.

khutbah-dr-amidhan-mui-mta-manahan

MEMAKNAI IBADAH HAJI DAN QURBAN DENGAN BERSYUKUR, TAQARRUB ILALLAH DAN ISTIQAMAH

Ma’asyiral Muslimin Jama’ah Shalat Idul Adha Lapangan Manahan Surakarta yang Berbahagia!

Allahu Akbar 3x Walillahilhamd.
Jemaah ‘Idul Adha yang Dimuliakan Allah!

Marilah kita persembahkan sikap puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan inayah-Nya kita bisa bersama-sama dengan tidak kurang dari 215 juta umat Islam se-Tanah Air, bahkan dengan tidak kurang dari 1,8 miliar kaum Muslimin di seluruh dunia, termasuk tidak kurang dari 3 juta jemaah haji di Tanah Suci, pada hari ini semuanya dapat menyambut dan merayakan Hari Raya ‘Idul Adha 10 Dzulhijjah 1440H.

Dan di Lapangan Manahan ini, lebih kurang 40.000 jamaah dengan gegap gempita mengucapkan takbir, tahmid, tasbih dan tahlil, mengagungkan asma Allah, bahwa Tuhan Allah, Maha Besar, tiada pujian kecuali kepunyaan-Nya, Tuhan Yang Maha Esa, dan tiada sekutu bagi-Nya. Dia lah Tuhan Allah Yang Maha Suci, Maha Pengampun, Maha Pengasih, Penyayang, Maha Pemberi Rahmat dan Pemberi Tobat serta 99 nama-nama Maha Indah yang terkandung di dalam Asmau-Al Husna.

Allahu Akbar 3x Walillahilhamd
Jemaah ‘Idul Adha Yang Berbahagia!

Tarikh Nabi Ibrahim AS
Baik ibadah haji maupun ibadah qurban, ternyata keduanya terkait dengan tarikh panjang sosok besar Nabi Ibrahim AS, Khalilullah, Kekasih  Allah SWT. Setelah Nabi Ibrahim AS, lahirlah nabi-nabi berikutnya. Nabi Ibrahim AS mempunyai putra Nabi Ismail AS dari isterinya Siti Hajar. Dari juriat Nabi Ismail AS lahirlah Nabi Besar Muhammad SAW di Mekah Al-Mukarramah, Jazirah Arab.

Tidak ada Nabi dan Rarul sesudahnya. Nabi Ibrahim AS juga mempunyai putra Nabi Ishak AS dari isterinya Siti Sarah. Dari juriah Nabi Ishak AS lahir Nabi Isa AS di Baitul Lahmi, Palestina. Nabi Isa AS, juga nabi dan rasul sebagaimana nabi dan rasul lainnya. Akan tetapi, lingkup dakwah Nabi Isa AS adalah khusus untuk bangsa Israel. Tidak seperti Nabi Besar Muhammad SAW, di mana ia hadir meliputi seluruh umat manusia dan tidak ada rasul sesudahnya.

Namun, sebagaimana Nabi Ibrahim AS, Nabi Musa, Nabi Nuh, Nabi Muhammad SAW, Nabi Isa AS termasuk ulul Azmi, yaitu para rasul yang sabar dan tabah dalam mendakwahkan ajaran Allah SWT,  dan dijamin masuk surga.

Secara khusus ”Tarikh Nabi Ibrahim AS” dimaknakan sebagai upaya napak tilas melalui simbol-simbol Ibadah Haji dan Ibadah Qurban atau Udhiyah. Kisah Nabi Ibrahim tersebut, termaktub di 102 ayat, tertuang di 13 Surah di dalam Al-Quran al-Karim, sebagaimana akan diceritakan dalam naskah khutbah kita hari ini.

Allahu Akbar 3x Walillahilhamd
Jemaah ‘Idul Adha Yang Berbahagia!

Khutbah saat ini, terkait dengan tarikh (sejarah) Nabi Ibrahim AS, dirangkai secara tematik, yaitu bersyukur, berqurban, berhaji, taqarrub ilallah, istiqamah, dan kebutuhan hidup Muslim. Tahun ini, ibadah haji dan ibadah qurban, bagi bangsa Indonesia dilaksanakan menjelang Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ke-74 tahun.”

BERSYUKUR Selain kita bersyukur atas nikmat Islam dan Iman, sepanjang hidup kita, kita pun harus bersyukur sebagai bangsa dan negara Indonesia yang setiap tahun memperingati hari ulang tahun kemerdekaan RI yang direbut pada 74 tahun yang lalu. Peringatan itu, jatuh pada hari Jumat, tanggal. 17 Agustus 1945 M bertepatan hari Jumat, 9 Ramadhan 1364 H. Tahun ini, merupakan ulang tahun proklamasi kemerdekaan, jatuh pada hari Minggu, 17 Agustus 2019, enam hari lagi. Sebagaimana kita ketahui, pada Pembukaan UUD Negara Kesatuan Republik Indonesia 1945, pada alinea III tercantum frase:

“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Rahmat Allah Yang Maha Kuasa itulah kata kunci dan sumber utama diraihnya kemerdekaan bangsa Indonesia, sehingga dapat terlepas dari belenggu penjajahan. Rahmat secara bahasa artinya nikmat, kebaikan, karunia, kasih sayang, dan pahala.

“Terminologi Rahmat dalam Al-Qur’an” berasal dari akar kata rahima- yarhamu-rahmah. Di dalam berbagai bentuknya, kata ini terulang sebanyak 338 kali dalam Al-Qur’an. Rahmat Allah menjadi sangat penting bagi setiap manusia. Karenanya, kata ini tidak boleh terputus walau hanya sedetik pun jua. Sebab, jika rahmat Allah terputus dari kita, maka seluruh alam ini akan hancur. Dan jika bukan karena rahmat Allah pula, maka seluruh makhluk di dunia maupun di akhirat akan binasa.

Oleh karena itu, cara terbaik untuk mengisi kemerdekaan sebagai wujud mensyukuri rahmat Allah adalah dengan mewujudkan iman dan takwa dalam kehidupan sehari-hari. Sebab dengan iman dan takwa itulah akan tercapai barokah, segala kebaikan, dan kesejahteraan jiwa-raga, dunia-akhirat.

khutbah-dr-amidhan-mui-mta-manahan-2019

Allahu Akbar 3x Walillahilhamd,
Jemaah ‘Idul Adha Yang Berbahagia! BERQURBAN

Terkait dengan tarikh Nabi Ibrahim AS, harus diingat bahwa selain napak tilas, perintah ibadah haji adalah ibadah qurban. Diriwayatkan dalam salah satu hadits Nabi SAW bahwa di saat putranya bernama Ismail beranjak menjadi remaja, sangat menggembirakan hati Nabi Ibrahim AS.

Namun, kegembiraannya itu tiba-tiba saja buyar karena dengan tidak diduga-duga oleh Nabi Ibrahim, ternyata beliau diuji keimanannya oleh Allah SWT, dengan diperintahkan melalui mimpinya agar anak kesayangannya itu supaya disembelih oleh Nabi Ibrahim sendiri. Mula-mula Nabi Ibrahim merasa ragu dan sangat sedih menerima perintah Allah melalui mimpinya itu.

Akan tetapi, sebagai orang yang saleh dan taat, ia berniat menjalankan perintah Allah SWT itu dengan ikhlas. Mimpi ini kemudian disampaikan kepada putranya Ismail. Bahkan tanpa ragu secuil pun, Ismail, anak remaja yang saleh ini, dengan ikhlas meminta ayahnya agar tak ragu melaksanakan perintah Allah itu. Ketika drama spiritual itu dilaksanakan, Allah SWT justru menggantikan Ismail dengan seekor domba (kibas).

Peristiwa tersebut diperingati setiap tahun dari dulu hingga sekarang, dengan anjuran menyembelih hewan qurban pada hari Idul Adha, hari Nahar dan Tasyrik, sebagaimana akan diselenggarakan bersama oleh Majlis Tafsir AlQur'an (MTA)  setelah usai melaksanakan shalat ’Id ini.

Ber-qurban adalah salah satu cara kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selain sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, melaksanakan ibadah qurban juga merupakan salah satu bentuk kepedulian sosial kita kepada masyarakat sekitar yang kurang mampu. Sehingga melalui kurban kita bisa menghilangkan jarak kesenjangan sosial yang biasanya terjadi di tengah masyarakat.

Dasar dari perintah ber-qurban disebutkan dalam Al-Quran Surat Al- Kautsar Ayat 2:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhan-mu; dan berkorbanlah” (Qs. Al- Kautsar [108]: 2).

Yang dimaksud berkorban di sini ialah menyembelih hewan Qurban dan mensyukuri nikmat Allah. Qurban harus disertai taqwa, Allah berfirman dalam Surat Al Hajj, Ayat 37:

كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا فِيهَا وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ
”Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (Qs. Al-Hajj [22]: 37)

BERHAJI
Setelah ber-qurban Nabi Ibrahim AS juga diperintahkan oleh  Allah  untuk memperbaiki Ka’bah (Baitullah). Saat itu, bangunan Ka’bah sebagai Rumah Suci Pertama di muka bumi. Ka’bah sudah berdiri kokoh di Mekkah al-Mukarramah, jauh sebelum Nabi Ibrahim AS menetap di Makkah. Bangunan berbentuk kubus ini diperbaiki kembali oleh Nabi Ibrahim bersama putranya, Nabi Ismail AS.

Selesai memperbaiki ka’bah Nabi Ibrahim AS naik ke atas bukit dan menyeru dengan suara keras memanggil umat manusia untuk berhaji ke Baitullah (Ka’bah). Itulah makna sejarah, bahwa berhaji itu adalah memenuhi panggilan Nabi Ibrahim AS. Hal ini menarik karena dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al Qur’an, surah Ali Imran ayat 97 yang berbunyi:

فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ ۖ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan suatu apa pun) dari semesta alam.” (Qs. Ali Imran [3]: 97)

Menurut Imam Ibnu Kastir, ayat di atas merupakan dalil yang dijadikan dasar kewajiban haji oleh kebanyakan ulama. Sebagian ulama menjadikan surah Al Baqarah ayat 196 sebagai dasar kewajiban haji.

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah kalian karena Allah.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 196)

Dalam sejarah perjalanan Nabi Ibrahim AS, jelas sekali penuh dengan simbol-simbol ajaran agama Islam yang terkandung dalam pelaksanaan ibadah haji. Perlambang-perlambang seperti Ka’bah, Hajar al-Aswad, multazam, makam Ibrahim, air zamzam, hijir Ismail, tawaf, sa’i, melontar jumrah, adalah semacam napak tilas perjalanan kehidupan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya. Bagi mereka yang sudah menunaikan ibadah haji simbol-simbol yang disebutkan tadi tentu sangat familiar dan akrab.

Sebab jemaah haji seluruh dunia mengerjakan dan mengalami perlambang- perlambang itu karena haji pada dasarnya adalah ibadah perbuatan. Bagi sebahagian umat Islam yang belum menunaikan ibadah haji, karena belum berkesempatan untuk memiliki istithaah (kemampuan), dapat berniat dan berdoa terus-menerus di dalam hati untuk pergi haji. Karena niat yang ikhlas, disertai ikhtiar yang maksimal, dan ditopang oleh rasa takwa yang mendalam, maka tindakan serupa itu merupakan setengah perbuatan mulia yang dicatat oleh malaikat sebagai ibadah kepada Allah SWT.

Allahu Akbar 3x Walillahilhamd.
Jemaah ‘Idul Adha Yang Terhormat!

khutbah-dr-amidhan-mui-mta-manahan-2019-1440

TAQARRUB ILA ALLAH
Kedekatan manusia kepada Allah SWT tidaklah muncul tiba-tiba, tetapi melalui proses, seperti hubungan antara dua orang manusia yang saling mencintai. Pada awalnya tidak saling mengenal, tetapi dengan intensitas pertemuan yang makin sering dari waktu ke waktu, maka akan timbul rasa kasih sayang yang mendalam, kemudian menimbulkan rasa cinta pada diri masing-masing.

Ibarat kata pepatah, “Tak kenal maka tak sayang.” Begitu pula apabila manusia ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah, maka manusia harus belajar mengenal Allah SWT. Caranya adalah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya sesuai dengan yang disyariatkan Allah di dalam Al- Qur’an dan As-Sunnah.
Kadangkala, dalam menjalani kehidupan keseharian, manusia tidak pernah luput dari permasalahan dan cobaan yang melanda hidup ini. Apakah dengan ujian itu membuat manusia kian lupa kepada Allah atau sebaliknya. semakin mendekatkan diri kepada Allah, Rabbul Jalil? Ternyata, ujian itu tidak hanya keburukan, tetapi juga kebaikan yang kita terima.

Ketika manusia sudah berusaha mendekatkan dirinya kepada  Allah,  maka Allah akan mendekatkan diri pula kepada hamba-Nya. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa, suatu saat sahabat Anas r.a. berkata, Rasulullah SAW pernah mengabarkan tentang upaya manusia mendekatkan diri kepada Allah, sebagaimana disebutkan dalam sebuah Hadits Qudsi melalui lisan Nabi SAW berikut ini:

“Bila seorang hamba mendekat kepada-Ku (Allah) sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Bila dia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Dan bila dia mendekat kepadaku dengan berjalan kaki, maka Aku mendekat kepadanya dengan berlari.” (H.R. Bukhari).

Sebagaimana telah kita ketahui, upaya manusia untuk mendekatkan diri disebut taqarrub, berasal dari akar kata qurb (dekat), dan aqriba (kerabat). Kata taqarrub dalam bahasa Arab artinya mendekat. Taqarrub ilâ Allâh, bermakna, “mendekatkan diri kepada Allah dengan menjalankan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan oleh-Nya.” Tetapi, saat ini tidak sedikit orang memaknai taqarrub ilallah dengan pengertian yang sempit, yaitu hanya sebatas ibadah mahdhah saja, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji.

Pelaksanaan ajaran Islam dalam interaksi antara manusia dengan manusia, antara lain seperti mu’amalat, akhlaq, math’umat (berkaitan dengan makanan), malbusât (berkaitan dengan pakaian), ‘uqûbat (pelaksanaan sanksi hukum) yang dianggap sebagai bukan bagian dari taqarrub ilallah.

Hal ini disebabkan karena pengaruh paham sekularisme yang membatasi agama hanya berkaitan dengan hubungan (pribadi) manusia dengan Tuhannya. Padahal tidaklah demikian.
Pemahaman Taqarrub Ilâ Allâh yang tepat itu seperti apa? Istilah “taqarrub ilâ Allâh” berasal dari nash-nash syariah yang membicarakan tentang upaya manusia pendekatan diri kepada Allah SWT, antara lain melalui Hadis Qudsi berikut ini:

“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku  dengan  sesuatu  yang lebih aku cintai daripada melaksanakan apa yang Aku wajibkan kepadanya; tidaklah hamba-Ku terus-menerus mendekatkan diri kepada- Ku dengan nafilah-nafilah (nawâfil) sampai Aku mencintainya.” (H.R. Al- Bukhari dan Muslim).

Dalam syariat Islam, ada lima hukum yang mengatur manusia dalam menjalankan ketaatannya kepada Allah dengan kewajiban-kewajiban dan larangan-larangan yang telah ditetapkan-Nya, seperti: wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Menurut Ibnu Rajab al-Hanbali dalam versi Maktabah Syamilah, beliau menerangkan bahwa ruang lingkup taqarrub ilallah ada dua golongan:

Pertama, orang-orang yang melaksanakan kewajiban (ada’al faraidh), yang meliputi perbuatan terpuji dalam melakukan kewajiban yang dihalalkan oleh Allah SWT (fi’l alwâjibat) dan meninggalkan apa yang diharamkan oleh Allah (tark al-muharramat).
Kedua, orang-orang yang senantiasa istiqamah dan gemar melaksanakan amalan sunnah (Nawâfil) yang menjadi bagian dari mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW.

ISTIQAMAH
Menurut bahasa, istiqâmah artinya adalah al-i’tidâl (lurus). Dikatakan, aqâmasy syai-a was taqâma artinya lurus dan mapan. Sedang menurut syari’at, istiqâmah adalah meniti jalan lurus yaitu agama yang lurus (Islam) tanpa menyimpang ke kanan atau ke kiri. Istiqâmah mencakup melakukan seluruh ketaatan, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi dan meninggalkan seluruh yang dilarang.

Banyak perkataan para Shahabat, Tabi’in, dan yang lainnya dalam mendefinisikan istiqâmah. Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu ‘anhu dan Qatâdah rahimahullah berkata:

“Maksudnya, berlaku luruslah dalam melaksanakan hal- hal yang diwajibkan.”
Abu Bakar Ash-shiddiq Radhiyallahu ‘anhu menafsirkan firman Allah ‘Azza wa Jalla,

“Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka,” (Fushshilatَّ [41]: 30)

dengan ia mengatakan, “Mereka adalah orang-orang yang tidak menyekutukan Allah ‘Azza wa Jalla dengan sesuatu apa pun.” Adapun keutamaan sikap istiqâmah adalah mempermudah rizki dan melapangkan kehidupan di dunia maupun di akhirat.

Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam Surah Al-Jin ayat 16:

وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا
“Dan sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan kepada mereka air yang cukup.” (Al-Jinn [72]:16)

Imam al-Qurhubi rahimahullah berpendapat, “Maksudnya, seandainya orang-orang kafir itu beriman, niscaya Kami berikan mereka keleluasan di  dunia dan Kami lapangkan rezeki mereka.”

Dalam konteks inilah, benarlah kiranya Firman Allah Azza wa Jalla yang tertuang dalam Surah Fushshilat, ayat 30 yang menegaskan:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Rabb kami adalah Allah,” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat- malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu’.” (Qs. Fushshilat [41]: 30)

Dalam pada itu, istiqâmah juga berarti “Meniti ash-shirâthal Mustaqîm,” yaitu agama yang lurus yang tidak melenceng ke kiri dan ke kanan. Istiqâmah mencakup pengamalan seluruh ketaatan, baik lahir maupun batin serta meninggalkan larangan yang lahir maupun batin pula.

Jadi sabda Nabi SAW ini menjadi wasiat yang menghimpun seluruh ajaran agama Islam, Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan Rasulullah SAW dan para pengikutnya agar istiqâmah di atas syari’at yang bijaksana, karena hal ini adalah agama yang kita diperintahkan untuk beribadah dengannya.

Hal yang sangat penting pula adalah Istiqâmah Hati. Hati adalah bagian tubuh yang paling penting. Seorang hamba hendaknya berusaha dengan sungguh-sungguh agar hatinya tetap istiqâmah. Karena hati adalah raja bagi seluruh anggota tubuhnya. Jika hati istiqâmah, maka seluruh anggota tubuhnya pun ikut istiqâmah.

Di samping itu, hal yang sangat penting pula untuk diperhatikan adalah Istiqâmah Lisan. Anggota tubuh yang terpenting yang perlu mendapatkan perhatian setelah hati adalah lisan. Karena lisan adalah media yang mengungkapkan apa-apa yang tersimpan dalam lubuk hati. Terkadang keluar ucapan yang dianggap sepele namun dapat membuat pengucapnya binasa di dunia maupun di akhirat.

selamat-idul-dha-1440-percikan-iman2

KEBUTUHAN HIDUP MUSLIM
Setelah sikap Taqarrub Ila Allah dan dimantapkan dengan Istiqamah seperti dikemukakan di atas, sampailah kita pada sebuah kesimpulan yaitu apa sejatinya kebutuhan hidup seorang Muslim dalam keseharianya, sebagai tindak lanjut dari tawadhu’nya itu.

Demikian nasihat Prof KH Dr. Hafidhuddin MS, Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam sebuah ceramahnya di Masjid Al Ikhlas Bogor, pada tanggal 1 Februari 2019 yang lalu.

Menurut salah satu tokoh cendikiawan Muslim Indonesia ini, setidaknya ada tiga amal yang harus dijadikan kebutuhan hidup bagi seorang Muslim. Menurut hemat saya ketiga amal itu telah dilaksanakan oleh kelompok MTA di seluruh Indonesia, yaitu, Membaca Al-Quran, Shalat, dan berinfak secara rutin. Apabila kita perdalam hujjah beliau tersebut didasarkan pada ayat 29 dan 30 Surah Fâthir, Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ

لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al-Quran) dan mendirikan shalat dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan mereka mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Qs. Al-Fâthir [35]: 29-30).

Lebih jauh bila berkaca kepada ayat-ayat di atas, maka menurut Prof. KH. Dr. Hafidhuddin MS, ada tiga hal yang harus dijadikan kebutuhan hidup seorang Muslim. Ketiganya adalah membaca Al-Quran dengan tartil, mendirikan shalat di Masjid secara berjamaah bagi kaum lelaki dan menginfakkan sebagian rezeki yang diberikan Allah dengan cara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.

Ketiga hal tersebut menurut hemat saya telah dilaksanakan oleh anggota MTA sebagai program organisasi. Lebih lanjut beliau menjelaskan membaca Al-Quran dengan tartil mengandung tiga hal. Yakni membacanya, memahami isinya dan tidak kurang pentingnya melaksanakan pesan yang terkandung di dalamnya.

Sesuatu yang amat penting, adalah agar kaum Muslimin membiasakan diri membaca Al-Quran selagi dini. Prof KH Didin Hafidhuddin MS, menambahkan bahwa Al-Quran merupakan rujukan yang pertama dan utama umat Islam. Kebangkitan Islam itu akan terjadi apabila kaum Muslimin membiasakan diri (istiqâmah) dan mendekatkan diri kepada Allah (Taqarrub Ilallah) dengan rajin membaca Al-Quran.

Kementerian Agama RI menganjurkan dengan program ”Maghrib Mengaji” dan DKI Jakarta dengan Jakarta Mengaji, serta sebagaimana selama ini, MTA mendirikan beberapa kelompok menggaji Al-Quran, bahkan dengan absensi jamaah yang ketat.

Adapun terkait berinfak beliau menegaskan bahwa orang yang suka berinfak adalah orang yang punya ethos kerja yang tinggi. Dan orang-orang yang gemar berinfak adalah orang-orang yang mempunyai dedikasi yang sangat tinggi. Mereka ini biasanya tidak mengeluhkan apa yang ia terima dan selalu bersyukur kepada Allah.

Dan terkait dengan “Maha Menyukuri” diujung ayat 30 Surah Fâthir di atas maksudnya adalah, “Allah menyukuri hamba-Nya, dengan menambah pahala terhadap amalan-amalan hamba-Nya dan memaafkan kesalahan hamba-Nya serta menambah nikmat-Nya.”

Allahu Akbar 3x Walillahilhamd.
Jemaah ‘Idul Adha Yang Berbahagia!

PENUTUP
Apabila kita analisa kedua hal pokok dalam khutbah ini, baik ibadah  haji maupun ibadah qurban maka ada dua pelajaran yang kita peroleh, yaitu sebagai berikut:

Pelajaran Pertama
Jika berniat haji harus ikhlas semata-mata karena Allah SWT. Dengan landasan ikhlas karena Allah itulah, calon haji tidak punya obsesi apa pun kecuali ingin “berjumpa” dengan Allah SWT di Rumah-Nya, di Baitullah. Ia percaya bahwa Allah tahu niatnya. Dan benar Allah SWT mengetahui ketulusan dan keikhlasannya tersebut sehingga Allah SWT menjadikan hajinya menjadi mabrur. Dengan landasan itu pula, haji adalah sebuah landasan takwa.

Apa itu takwa? Secara tekstual, orang mengartikannya “takut kepada Allah.” Namun, esensi takwa lebih jauh dari sekadar takut. Taqwa adalah sebuah sikap hidup yang selalu mengacu kepada Sunnatullah.

Jagad raya bergerak dan berkembang, seirama dengan hukum-hukum Allah (Sunnatullah). Jika seseorang berbuat curang, esensinya telah melanggar Sunnatullah. Itu artinya orang itu melanggar hukum-hukum alam sehingga akan merusak universe. Seorang pedagang daging yang mengurangi timbangannya, misalnya, mungkin secara selintas kesalahannya sepele, akibat kecurangannya juga tidak seberapa.

Namun, secara esensial, jika ditautkan dengan pendistorsian hukum gravitasi, ia telah merusak hukum alam atau Sunnatullah yang sangat berbahaya. Pedagang daging tadi telah berlaku tidak adil. Ia merusak keseimbangan alam. Keadilan tersebut, hanya bisa ditegakkan dengan iman dan takwa.

Pelajaran Kedua
Dari perspektif taqarrub ilallah, kita memaknai “kurban” di hari Idul Adha hendaklah dengan benar. Esensi kurban tersebut adalah kepedulian sosial, yaitu perhatian yang serius terhadap nasib masyarakat sekitarnya. Memaknai pentingnya kepedulian sosial ini, misalnya, terlihat dari ujian Nabi Ibrahim ketika mendapat perintah untuk “menyembelih” putranya, Ismail. Itu berarti, kita dianjurkan untuk mengorbankan atau memberikan milik kita yang terbaik atau yang paling kita cintai untuk diberikan kepada masyarakat sekitar yang paling membutuhkannya.

Ismail—menurut pandangan ulama tausauf anak—adalah simbolisasi “harta tersayang” Ibrahim. Al-Qur’an menjelaskan salah satu harta paling berharga dalam kehidupan manusia adalah anak. Dan, Allah SWT menyuruh Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih putra kinasihnya, Ismail. Itulah ujian terberat bagi Nabi Ibrahim AS dan istrinya Siti Hajar AS.

Dan Ibrahim berhasil menjalani ujian itu. Sekali lagi, ujian penyembelian Ismail merupakan bentuk ekstrimitas perintah Allah kepada manusia agar mau berkurban untuk kemaslahatan umat. Kenapa kepedulian sosial merupakan ibadah yang tingkat kewajibannya sangat ekstrim? Karena kepedulian sosial merupakan spiritkehidupan bermasyarakat untuk menciptakan sebuah negeri yang bersatu, adil, makmur, dan penuh dengan maghfirah.

Allahu Akbar 3 x wa lillahil hamd,
Jemaah ‘Idul Adha Yang Berbahagia!

Bersamaan dengan tiga jutaan jemaah haji di Tanah Suci dan masyarakat Muslim sedunia, mulai hari nahar ini hingga hari tasyriq, dengan mengumandangkan takbir, tahmid dan taqdis, marilah kita melaksanakan ibadah qurban bersama-sama, dengan ikhlas dan semangat taqarrub dan takwa serta istiqamah kepada Allah ’Azza wa Jalla, dengan memohon ampunan dan maghfirah-Nya, dunia dan akhirat, bagi pemimpin-pemimpin kita, orang tua kita, anak cucu kita dan semua orang yang berjuang untuk kebaikan agama, bangsa dan negara.

Akhirnya, sebagai penutup dari khutbah ini, marilah kita berdoa bersama- sama:

Allahumma Ya  Allah,  Tuhan  kami! Ampunilah  kami,  orang  tua  kami, pemimpin-pemimpin kami yang berjuang demi menegakkan keadilan dan kesejahteraan bangsa kami, para ulama dan zuama yang selalu berdakwah demi kebahagian umatnya dunia dan akhirat.

Allahumma Ya Allah Tuhan kami! Lindungilah kami dari segala yang menyombongkan, dari segala yang melemahkan, dari segala yang menakutkan, dari segala fitnah yang meresahkan, dari segala hal yang menyedihkan, serta dari segala yang menimbulkan dosa dan amarah-Mu.

Allahumma Ya Allah, Tuhan kami! Jauhkanlah kami dari mara bahaya, baik yang besar maupun yang kecil, jauhkanlah kami dari sifat rakus yang    tak terkendali, sifat marah yang merusak persatuan, sifat buruk sangka yang memisahkan umat, sifat dengki dan iri hati yang menghanguskan kebaikan, sifat menuruti nafsu rendah yang membabi buta.

Allahumma Ya Allah, Tuhan kami! Lindungilah kami dari perangai dan niat jahat dengan penetrasi ideologi dan budaya yang bertentangan dengan agama dan ideologi kami serta narkoba dan miras serta pergaulan bebas yang merusak kesehatan dan moralitas serta mentalitas anak dan remaja bangsa kami,

Allahumma, Ya, Allah, Tuhan kami! Selamatkan bangsa dan negara kami dari keterpurukan, ancaman pelemahan ekonomi dan krisis sosial, satukanlah sikap dan tindakan para pemimpin kami, hindarkan mereka dari segala bentuk pertikaian dan sengketa. Ya Allah ya Tuhan kami! Tinggikan semangat Islam dan kaum muslimin serta bangkitkan kejayaan umat Islam untuk mengatasi problem bangsa Indonesia.

Allahumma Ya, Allah, Tuhan kami! Bagi saudara-saudara kami yang menunaikan ibadah haji di tanah suci, berilah kemampuan dan kekuatan kepada mereka untuk meningkatkan ketakwaannya kepada-Mu, terimalah ibadah haji mereka dan anugerahkanlah kepada mereka haji mabrur, haji yang mampu meningkat kualitas amal sosialnya di masyarakat, ketika mereka kembali ke kampungnya.

KHUTBAH IDUL ADHA 1440 H
Oleh: Dr. H. Amidhan
(Anggota Wantim MUI -2015-2020, Anggota Lemkaji  MPR RI -2014-2019, Anggota Komnas HAM-2002-2007, Dirjen Islam Haji-1991-1996. Ketua MUI -1995-2015)

Download : Materi Khutbah 1440H

Lapangan Manahan Surakarta, 11 Agustus 2019