Majalah RESPON 245/XXIV September-Oktober 2010

Mendengar istilah boarding school, tentu bukanlah istilah yang asing di zaman sekarang. Di Indonesia, munculnya sekolah-sekolah berasrama (boarding school) sejak pertengahan tahun 1990. Hal ini dilatarbelakangi oleh kondisi pendidikan Indonesia yang selama ini berlangsung, dipandang belum memenuhi harapan yang ideal.

Boarding School yang pola pendidikannya lebih komprehensif-holistik lebih memungkinkan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang ideal guna melahirkan generasi harapan bangsa dengan akhlak mulia. Meski demikian, sistem ini bukan barang baru, karena sudah lama dipraktikkan di pesantren.

Salah satu sekolah di Solo yang menerapkan sistem boarding school adalah SMP Islam International (SMPII) Al-Abidin Surakarta. Sistem asrama yang diterapkan di sekolah tersebut adalah sistem layanan pendidikan dan bimbingan yang diupayakan oleh Yayasan Islam Al Abidin Surakarta untuk mewadahi putra putri dari para orang tua yang menginginkan penanaman lebih pada nilai-nilai keislaman dan pembangunan karakter serta mental.

Menurut Kepala SMPII Al-Abidin Surakarta, Mr Arif, lembaga yang dipimpinnya juga menerapkan pembelajaran yang menyenangkan baik kegiatan di dalam kelas maupun di luar kelas. Apalagi aplikasi pembelajarannya sering ditempuh dengan pendekatan praktis melalui out bound yang bersentuhan langsung dengan alam.

Sementara SMA MTA Islamic Boarding School (IBS) Surakarta justru sangat menekankan pada pentingnya pembentukan akhlakul karimah. Sesuai dengan slogan SMA MTA IBS sendiri, yakni berakhlak, berilmu dan berprestasi, dalam pergaulan putra dengan putri ada batasan yang harus sesuai dengan tuntunan Islam, tidak bebas seperti sekolah pada umumnya. Tidak heran, jika di sekolah ini untuk kelas putra dengan putri dipisahkan. Hal tersebut, menurut Kepala Sekolah SMA MTA IBS, Drs.Diastono sebagai salah satu upaya agar tidak terjadi pergaulan yang bertentangan dengan Islam.

Yah, kehadiran boarding school adalah suatu keniscayaan pada zaman kini. Keberadaannya adalah suatu konsekuensi logis dari perubahan lingkungan sosial dan keadaan ekonomi serta cara pandang religiusitas masyarakat. Seperti kita lihat bersama, lingkungan sosial kita, kini telah banyak berubah terutama di kota-kota besar.

Sistem boarding yang didesain selama 24 jam penuh sesuai dengan nilai-nilai Islam ini diharapkan dapat membentuk para siswanya menjadi pribadi yang mandiri dan berakhlak mulia. Inilah mengapa para orang tua lebih menginginkan menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah berasrama.

Namun demikian, meskipun orang tua menyerahkan tanggung jawab pendidikan anaknya kepada sekolah dan asrama secara penuh, orang tua tetap tak lepas tanggung jawab untuk senantiasa memantau perkembangan anaknya. Seperti halnya yang diungkap oleh Kepala Asrama SMA MTA IBS, Nur Cholis Majid, S.Fil.I, kepedulian orang tua terhadap pendidikan anaknya dinilai masih kurang. Ia mencontohkan saat para santri ataupun santriwati liburan pulang ke rumah, ketika balik ke asrama lagi justru mereka biasanya semakin susah diatur, terutama ketika bangun pagi.

“Ini artinya ketika di rumah para orang tua memang tidak terlalu mempedulikan si anak seperti ketika di asrama. Padahal saat siswa-siswi liburan di rumah, dalam surat edaran biasanya kami sertakan juga himbauan bagi para orang tua untuk tetap mengontrol si anak,” ungkapnya.

Oleh karena itu, ia berharap meskipun memasukkan anaknya ke asrama, namun orang tua tetap memberikan perhatiannya terutama dalam hal pembentukan akhlakul karimah putra-putrinya.

*Artikel ini merupakan rangkuman dari 3 artikel dalam rubrik laporan utama Majalah RESPON 245/XXIV September-Oktober 2010. Pastikan Anda mendapatkannya di stand Brosur Pengajian Ahad Pagi atau hubungi saudara Gie 085228715459. Terima kasih :)


Satu komentar pada “Majalah RESPON 245/XXIV September-Oktober 2010

Beri Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.