KETELADANAN Nabi Ibrahim AS

Alhamdulillah kini kita sudah berada di penghujung tahun 1438 H, dan segera menyongsong tahun baru 1439. Adalah sebuah tradisi bagi ummat islam di dunia yang dijunjung tinggi adalah melepas tahun lama dengan Ibadah ritual berdimensi sosial dan kultural yang tinggi dan mengawalinya juga dengan Ibadah puasa sunnah Muharrom. Pada bulan itu terjadi begitu banyak peristiwa penting dalam sejarah islam yang perlu dilestarikan.

Setiap kali datangnya bulan hajji ummat islam diingatkan lagi tentang sejarah Nabi Ibrahim AS, sosok pemimpin ummat manusia yang sangat penomenal, kharismatik dan memilki integritas tinggi dalam menegakkan keadilan dan kebenaran.

Monoloyalitas tinggi terhadap perjuangan menghantarkannya behak mendapatkan titel Khalilullah (Kekasih Allah). Kini 2/3 penduduk dunia adalah pengikut ajaran beliau dengan nama Abrahamic faith, Millah Ibrahim. Ummat islam sebagi pengikut terbesar ajaran beliau tetap mengamalkan, memperjuangkan dan melestarikan tradisi beliau sebagai bagian yang integral dari ajaran islam.

Begitu banyak pelajaran penting dari perjuangan beliau yang harus ditumbuh-kembangkan oleh ummat manusia. Beliau adalah terkenal sebagai pemimpin yang gigih, tegas, siap menanggung resiko perjuangan dan konsisten dalam mempertahankan aqidah. 69 kali nama beliau diabadikan dalam Al-Qur'an adalah bukti bahwa perjalanan hidupnya sarat dengan nilai, pelajaran dan pegangan hidup bagi ummat manusia sepanjang zaman.

Kegigihan dalam mempertahankan aqidah monoteime memaksa para petinggi wihara untuk melemparkan beliau ke bara api sebagai bentuk siksaan. Itulah sekelumit resiko yang harus diterima oleh setiap pejuang kebenaran. Ia bukan hanya tipe pemimpin yang berorientasi amar ma'ruf saja, tetapi juga tegar dalam mengamalkan nahi munkar yang tentu penuh resiko tinggi terhadap jiwa raganya.

Allah berfirman :
Sesungguhnya bagi kamu ada suri teladan yang baik pada nabi Ibrahim dan orang orang yang menyertainya.. [QS. Al-Mumtahanah : 4]

Ini dapat dipahami bahwa ummat islam seharusnya menjadikan Ibrahim dan para nabi dari keturunannya sebagai pemimpin dan figur sentral dalam memimpin ummat. Kunci keberhasilan dan kesuksesan dalam memimpin melekat pada keperibadian mereka.

Baik pemimpin dari sekala yang kecil, moderat dan besar membutuhkan jiwa dan talenta kepemimpinan yang berdimensi vertikal dan horizontal. Keteladanan menjadi key faktor bagi seorang leader dan manager.

Ia telah memberikan contoh nyata bagi ummat manusia agar konsisten mengikuti jejaknya jika ingin mewarisi kepemimpinan ideal Kepemimpinan yang berdimensi vertikal dengan sandaran yang kokoh kepada Allah dan orientasi pengabdian horizontal dengan pelayanan maksimal kepada manusia.

Sebagai founding father of messangers, beliau telah begitu berjasa meletakkan fondasi leadership dan managment yang kokoh agar manusia tetap mengutamakan hukum Allah dan tidak mudah terpengaruh dengan teori atau pemikiran manusia.

Para nabi dan rasul seharusnya menjadi idola dan panutan dalam segala hal. Prophetik leader dijamin mampu menciptakan kedamaian, keberkahan, kesejahteraan, keadilan dan kemajuan bagi ummat manusia. Sebaliknya kepemimpinan dengan orientasi kekuasaan hanya akan mendatangkan permusuhan, pertengkaran, kerakusan, kesengsaraan, kediktatoran dan kebangkrutan moral.

Para ulama menilai bahwa kunci keberhasilan Nabi Ibrahim dalam memimpin ummat manusia antara lain

1. Memiliki perencanaan yang matang

Planning adalah pra syarat bagi kesuksekan setiap pekerjaan, karena ia meliputi niat (tujuan/goal), sasaran yang akan diraih, tahapan dan tantangan yang dihadapi. Allah berfirman :

Wahai orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan hendaknya membuat perencanaan tentang apa yang hendak kamu lakukan hari esok, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat mengetahui apa yang kamu lakukan.

Perencanaan yang baik secara umum akan mendatangkan hasil yang memuaskan. Nabi Ibrahim telah punya peta da'wah sejak beliau masih berada di Mesopotamia/Iraq, saat ini.

Terlahir di keluarga seniman pembuat patung, ia terus berupaya meyakinkan orang tuanya dan masyarakat agar merubah pola pikir dan bertanya kepada diri masing masing tentang manfaat patung bagi kehidupan mereka. Sikap beliau menghancurkan semua patung dengan menyisakan yang paling besar adalah sebuah perencanaan yang hebat.

Seandainya patung-patung bisa mendatangkan manfaat, tanyakanlah kepada patung yang paling besar tentang siapa pelaku utama yang menghancurkan semua patung.

Rencana strategis mutlaq dibutuhkan oleh ummat islam indonesia sebagai wujud dari pengamalan syukur ni'mat. Dengan demikian sumber daya alam yang melimpah ruah bisa diekplorasi demi kesejahteraan masyarakat.

Bahkan Allah melipat-gandakan ni'mat-NYA bagi mereka yang pandai mengelola kekayaan alam untuk kebaikan manusia.

Sebaliknya, kegagalan dalam mengelola sumber daya alam (SDA) akan menciptakan instabilitas, keterpurukan dan konflik horizontal yang berkepanjangan. Inilah yang disebut kufur ni'mat Allah.

Ni'mat yang seharusnya menjadi modal pemersatu ummat bisa berubah mejadi pemecah belah ummat.

Allah Swt berfirman :

Tuhan kamu telah berjanji akan menambah keni'matan kepada kamu jika bisa mensyukurinya dan jika kamu menginkarinya maka sesungguhnya siksa-Ku sangat amat pedih..

Imam 'Ali bin Abi Thalib berkata :
Kebenaran yang dilakukan tanpa aturan akan dapat dikalahkan oleh kebathilan yang dilakukan secara terencana dan teratur.

Jika kita ingin meraih keberhasilan seperti beliau, maka tak ada pilihan lain kecuali harus mengikutinya. Ummat islam indonesia yang mayoritas harus berperan maksimal dan memegang kendali negri ini demi keberkahan ummat dan keberhasilan transisi demokrasi di negri ini.

Demokrasi akan menjadi hampa dan kontra produktif jika tak dibarengi dengan peningkatan mutu pendidikan dan perbaikan ekonomi masyarakat.

Posisi ummat islam yang mayoritas di negri ini bisa mengalami pergeseran di masa mendatang jika kita terlena dengan buaian indah dan enggan untuk melakukan perubahan mindset secara drastis. Statistik nasional satu dekade terakhir menyebutkan bahwa ummat islam Indonesia mengalami penurunan.

Sementara penganut agama lain terus berkembang dengan pesat. Tak ada jaminan bahwa ummat islam akan tetap pada posisi mayoritas di negri ini.

Pujian dan sanjungan kepada Indonesia sebagai ummat islam terbesar di dunia harus diimbangi dengan peningkatan kwalitas agar peran ummat islam dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Begitu juga pujian sebagai negara demokrasi ketiga terbesar dunia seyogyanya disikapi dengan penuh kedewasaan. Demokrasi tak punya arti jika rakyat masih tetap hidup sengsara, tertekan dan tetap dibawah kendali kekuatan asing.

Ummat islam indonesia dituntut untuk meningkatkan kwalitas mereka, sehingga bisa memberikan manfa'at sebanyak mungkin bagi bangsa dan negara. Peningkatan daya tahan adalah sebuah keniscayaan, khususnya dalam menyongsong era pasar bebas ASEAN, dimana arus masuk dan keluarnya produk dari kawasan Asean tak bisa dibatasi lagi.

Keunggulan komparatif harus menjadi basis dan modal utama untuk menghindarkan diri dari keterpurukan. Gempuran budaya dan produk dari kawasan tak bisa dihindari lagi. Kita harus betul-betul menjadi petarung handal dengan memperkuat daya tahan.

2. Mono loyalitas kepada hukum Allah dengan penuh keadilan

Konsistensi Nabi Ibrahim dalam menegakkan hukum Allah adalah bukti konkrit dari keimanan yang solid dalam dirinya. Ujian dan cobaan yang dihadapinya semakin memantapkan sikap beliau agar terus mengemban amanah dengan sempurna.

Tetapi bukan berarti ia bersikap kaku dan menafikan kompromi dalam melakukan hubungan horizontal. Faktanya ia adalah sosok pemimpin yang santun, penyabar dan humanis. Ini dapat dilihat dari kiprah hidup kesehariannya dan kiat mengatasi masalah sosial. Allah berfirman :

Sesungguhnya Ibrahim penyantun,lembut hati dan suka kembali kepada Allah

Monoloyalitas terhadap hukum Allah adalah harga mati. Beberapa peristiwa penting cukup menjadi buktinya, antara lain beliau meninggalkan istrinya Siti Hajar sendirian setelah melahirkan Ismail di sebuah lembah tandus dan kering, Bakkah atau Makkah dan lebih memilih perintah Allah untuk melanjutkan safari da'wahnya ke Palestina.

Tanpa ada keraguan sedikitpun, ia tinggalkan istri yang masih harus berjuang menyusui bayi mungil. Ia bertawakkal sepenuhnya kepada Allah untuk menjaga dua hamba-NYA itu. Ini bukan berarti ia tak berprikemanusiaan dan super tega.

Ternyata dibalik itu ada hikmah besar yang diskenariokan Allah untuk ummat manusia dan keturunannya. Siti Hajar dengan kesendiriannya tetap tabah menjaga bayi Ismail dan berusaha sebaik mungkin agar ia tetap sehat dengan memberikan gizi terbaik.

Allah telah menyediakan sumber mata air dan makanan yang cukup guna membesarkan bayi itu, air zam zam keluar dari bebatuan di bukit Shafa Marwa. Kini air itu menjadi salah satu keajaiban dunia. Makkah yang dulu adalah tanah tandus, dengan adanya Baitullah berubah punya centra ibadah ritual dan pemersatu ummat islam dunia. Puluhan juta ummat islam berziarah ke sana dan menyaksikan langsung bukti kebesaran Allah.

Ujian berikut tentang monoloyalitas Ibrahim adalah perintah untuk menyembelih putra semata wayangnya Ismail. Setelah ditinggalkan belasan tahun untuk tugas da'wah di Palestina dan penantian kelahirannya selama 96 tahun dari Siti Hajar, ia kembali harus menunjukkan ketha'atan absolut kepada Allah tanpa reserve. Di balik perintah itu ternyata ada tujuan amat mulia yang harus dimengerti oleh ummat islam sebagai keturunan shalih dan shalihah.

Cinta hakiki membutuhkan pengorbanan ,pembuktian dan loyalitas. Ibrahim sekali lagi berhasil melewati ujian dari Allah. Kini perintah itu adalah menjadi salah satu rukun islam.

Jutaan kaum muslim terus berdatangan mengunjungi Batullahil Haram. Seandainya tak ada qouta atau batasan yang ditetapkan oleh OKI dan pemerintah Saudi, jumlah jama'ah hajji dari manca negara akan membanjiri tanah haram dimana pemerintah Saudi tak akan mampu mengakomodasinya.

Allah berfirman :
Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa perintah lalu ia melaksanakannya dengan sempurna. Dan Allah berfirman, "Sesungguhnya aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh ummat manusia". Ibrahim bertanya, "Dan juga bagi anak cucuku ?". Allah berfirman, "Benar, tetapi janjiku tak berlaku bagi orang orang dhalim".

Sebagai keturunan Ibrahim, ummat islam adalah pewaris kepemimpinan bagi ummat manusia. Hal itu hanya bisa menjadi kenyataan jika kita adalah orang-orang yang adil, adil kepada diri sendiri, adil kepada hukum Allah dan adil kepada sesama manusia.
Allah berfirman :

Berbuat adillah,sesunguhnya itu lebih dekat kepada ketqwaan. [QS. Al-Maaidah : 8]

Memang tak mudah menegakkan keadilan, karena itu bagian daripada ujian terhadap diri kita dan orang orang terdekat. Berlaku adil memang mudah diwacanakan, tetapi sulit diterapkan pada kehidupan nyata. Barangsiapa yang bisa berlaku adil, maka ia sebenarnya telah mencapai maqam terpuji disisi Allah.

Semakin banyak cobaan dan ujian yang berhasil kita lalui, semakin dekat jarak antara kita dengan Allah. Status itu akan mempermudah seseorang untuk meraih kemantapan sikap dan istiqamah dalam hidup. Ujian Allah kepada Ibrahim sarat akan makna dan nilai tinggi bagi keturunannya.

Kedhaliman adalah musuh keadilan dan pemicu utama kekacauan dan kehancuran. Rasulullah bersabda :

Jauhilah kezaliman,sesungguhnya kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.Jauhilah kekikiran,sesungguhnya ia telah membinasakan ummat sebelum kamu.Mereka saling membunuh dan menghalalkan apa yang diharamkan [HR. Muslim].

Begitu banyak pemimpin yang terpaksa diturunkan, dipenjarakan dan dibinasakan karena sikap dan perilaku mereka yang dhalim. Sebaliknya pemimpin yg adil yang berdimensi vertikal menjadi dambaan semua rakyat, dan keharuman namanya diabadikan sepanjang masa.

Michael hart penulis buku terkenal tentang kepemimpinan yang berhasil membangun peradaban dunia menempatkan Nabi Muhammad SAW diurutan nomor wahid sebagai pemimpin yang paling berhasil. Bahkan dalam sebuah hadits Nabi bersabda :

Ada tiga kelompok manusia yang do'anya tak akan ditolak yaitu pemimpin yang adil ,orang berpuasa sampai berbuka dan do'a orang teraniaya.

Pemimpin yang bijak adalah yang selalu menjaga hubungan vertikal dan horizontal secara seimbang dan berkesinambungan. Ia lebih mengutamakan untuk menyampaikan keluhan dan permintaan kepada Allah.

Semakin besar jumlah rakyat yang dipimpinnya semakin banyak pula permasalahan yang dihadapi. Menyampaikan keluhan ke rakyat adalah bukti minimnya kedewasaan seorang pemimpin. Tugas dan tanggung jawab pemimpin memang berat dan beresiko.

Rakyat akan selalu memantau perilaku para pemimpinnya. Kontrol sosial ini sangat penting untuk menjaga kinerja seorang pemimpin.

Bukan pencitraan dan popularitas yang dikedepankan oleh pemimpin, tetapi pengabdian, kerja keras, pembuktian nyata, keikhlasan, kesederhanaan dan keberpihakan kepada masyarakat selalu menjadi dambaan ummat sepanjang masa.

Munculnya kelompok radikal adalah akibat dari kedhaliman dan ketidakadilan yang dilakukan secara masif oleh penguasa dan pemangku jabatan dengan bantuan kekuatan asing.

Islamic state in Iraq and Syam (ISIS) adalah phenomena sosial yang harus mendapatkan jawaban yang tepat. Kenyataan di lapangan menunjukan bahwa kelompok super radikal ini muncul sejak sepuluh tahun lalu sebagai respon dari sikap penguasa yang dhalim dan diskriminatif.

Mereka dari kelompok sunni di marginalkan oleh penguasa sejak penyerangan Amerika ke Irak. Hak dan aspirasi mereka tak didengar, bahkan dibungkam oleh kekuatan militer. Seandainya pemerintah yang didominasi oleh kelompok Syiah saat itu dapat mengakomodir aspirasi mereka, ISIS tak akan tumbuh pesat dan radikal.

Kini masyarakat international bersatu untuk menghancurkan ISIS dengan dalih memerangi terorisme dan radikalisme. Sudah bisa dipastikan yang menjadi korban terbanyak dari peperangan ini adalah warga sipil yang tak berdosa. Merekalah yang terusir, terbunuh dan tertindas dalam konflik ini.

3. Intensif berdo'a dengan penuh penghambaan

Ibrahim AS adalah Nabiyullah yang terkenal kegemarannya berdo'a dalam melaksanakan tugas. Do'a adalah ruh setiap pekerjaan dan ibadah ritual, orang yang malas berdo'a termasuk golongan orang yang kikir dan sombong.

Rasulullah SAW bersabda :
Do'a itu adalah otak setiap pekerjaan.

Sementara itu Allah SWT berjanji akan memenuhi setiap do'a hamba-NYA yang minta berdo'a dengan penuh harapan, optimisme, ketulusan dan penghambaan. Berdo'a adalah sebuah kebutuhan dasar manusia, karena ia adalah makhluq yang lemah dan sarat akan godaan.

Tetapi kebanyakan manusia berdo'a hanya pada saat ia dalam keadaan tersudut dan kondisi krisis, sakit dan menghadapi banyak permasalahan dan problematika hidup.

Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, katakanlah bahwa Aku dekat, Aku akan memenuhi do'a setiap orang yang berdo'a. Maka mereka hendaknya memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku semoga mereka mendapat petunjuk.

Do'a adalah otaknya setiap ibadah.Allah akan mendengar dan mengabulkan setiap do'a hamba yang disampaikan. Tetapi Allah punya kriteria tersendiri untuk memenuhi permintaan manusia. Ibrahim sepanjang tugas da'wahnya dari satu tempat/negara ke negara lain selalu memanjatkan do'a.

Bagi ummat islam do'a adalah sebuah kebutuhan primer bukan sekunder dalam kehidupan. Buah dari do'a-do'a Nabi Ibrahim kini bisa dirasakan dan dini'mati oleh keturunannya dan ummat manusia.

Dalam misi da'wahnya, Nabi Ibrahim melalui beberapa wilayah dan negara. Terlahir di Iraq. Beliaupun berdo'a kepada Allah agar ayahnya sebagai seniman pembuat patung diberikan hidayah.

Para ahli arkeologi dan geologi mencatat bahwa wilayah yang dilalui beliau ternyata amat kaya akan sumber daya alam dari minyak, gas alam, emas, perak, nikel, phospat, uranium dan pertanian.

Beliau berdo'a agar wilayah dan negerinya makmur, sejahtera dan aman.

Ya Allah jadikanlah negeri ini negri yang aman dan berikanlah kepada penduduknya yang beriman kepada Allah dan hari akhir rizqi dari berbagai macam buah buahan.

Allah Swt berfirman, Barangsiapa yang menginkarinya maka Aku akan berikan sedikit keni'matan kemudian Ku-paksa Ku-kembalikan ke siksaan neraka dan itu adalah tempat peristirahatan yang terburuk

Dua negara yang menjadi wilayah da'wah Ibrahim adalah Iraq dan Saudi Arabia. Kedua negara ini memiliki deposit minyak mentah sangat besar.

Saudi dengan 268,6 miliard barrel, sementara Iraq dengan 176,8 miliard barrel. Kekayaan itu jika di ekplorasi dengan baik tak akan habis selama 75 tahun. Ini adalah hasil dan buah do'a-do'a Ibrahim.

Sumber daya alam itulah yang seharusnya memberikan keberkahan dan kesejahteraan bagi penduduknya. Para pemimpin yang adil dengan mudah merubah wajah ummat yang terbelakng dan kumuh menjadi ummat pengendali dunia.

Tetapi dalam waktu yang bersamaan, kekayaan itu bisa berubah menjadi nestapa dan kekacauan. Hal ini akibat dari kedhaliman, kepongahan dan kebodohan para penguasa yang berkolaborasi dan berkonspirasi dengan kekuatan jahat untuk kepentingan kelompok dan golongan.

Mereka berfoya-foya dan hidup penuh dengan kemaksiatan. Kekayaan itu telah membuat mereka terlena dan cenderung bersikap hedonis, materialis dan konsumtif.

Sementara itu, tak sedikit dari rakyatnya masih hidup dibawah garis kemiskinan dan sengsara. Ironisnya negara-negar 'Arab yang kaya minyak itu enggan untuk berinvestasi di negara 'Arab atau muslim. Sebagian besar devisa dari penjualan minyak itu justru di investasikan di negara-negara yang anti islam.

Para fund manager yang mengelola dana tersebut adalah musuh kaum muslim. Bahkan mereka melakukan ekpansi perusahaan multi nasionalnya ke manca negara dengan dana para konglomerat muslim.

Perbedaan status sosial sesama bangsa 'Arab dan ummat islam semakin nyata dan memperihatikan. Situasi inilah yang dimanfa'atkan oleh kelompok tertentu untuk menciptakan keonaran dan kekacauan.

Ketimpangan sosial ekonomi sesama ummat islam dari etnis yang sama menimbulkan kecemburuan, hilangnya kepercayaan dan rasa kepedulian sosial.

Islamic brotherhood (ukhuwah islamiyah), hanya sebatas slogan dan pemanis saja. Kondisi seperti inilah yang dimanfaatkan oleh musuh ummat islam yang senantiasa berusaha menciptakan permusuhan dan perpecahan.

Akhirnya, mari kita berdo'a memohon kepada Allah SWT agar senantiasa berada dalam lindungan dan hidayah-NYA.

 

Disampaikan oleh :

KH DR Muhyiddin Junaidi, MA
Ketua MUI Pusat untuk kerja sama dan hubungan Luar Negeri
DALAM RANGKA KHUTBAH 'IEDUL ADLHA 1438 H
Lapangan Parkir Stadion Manahan, Surakarta
Jum'at, 10 Dzulhijjah 1438 H/1 September 2017 M