“Kesandung Gunung” di bulan Ramadhan

icon-ramadhan-mubarak

Seorang Ustadz yang sholih telah mengajarkan suatu hikmah bahwa seorang yang sedang berjalan jarang bahkan tidak mungkin akan tersandung gunung, namun orang itu biasanya lebih sering tersandung kerikil yang kecil-kecil yang sering berserakan di jalan.

Bahkan dengan contoh yang sangat jeli disampaikan bahwa sebuah kendaraan yang bagus dan mahal pun menjadi tidak bermanfaat ketika ban karetnya menyandung duri baja yang sangat kecil, sehingga mengakibatkan ban menjadi kempis, sehingga mobil yang sangat mengkilap dan mewahpun menjadi tidak bisa digunakan, alias manfaatnya yang sangat besar menjadi hilang akibat sesuatu sebab yang sangat kecil dan dianggap remeh temeh.

Ibadah puasa yang begitu indah dan menawan telah meluluskan banyak sekali lulusan-lulusan yang berkwalitas tinggi sebagaimana firman Allah yang artinya :

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS. 2:183)

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). ……………….(QS. 2:185)

………………..Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. 2:185)

Ibadah puasa adalah ibadah yang telah Allah wajibkan untuk orang-orang terdahulu hingga kita hari ini, untuk menuju taqwa, Pengendalian aqal, pikiran dan hati serta perasaan merupakan sesuatu yang bulat dan utuh untuk berdisiplin dididik dengan firman-firman Allah dengan penuh rasa syukur kepadaNya. Hati yang suci dan bersih yang akan dapat menyelam memahami kehendak Allah dan rahmat Allah yang begitu besar kepada manusia

Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. (QS. 56:75)
Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui, (QS. 56:76)
sesungguhnya Al-Qurn ini adalah bacaan yang sangat mulia, (QS. 56:77)
pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), (QS. 56:78)
tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (QS. 56:79)
Diturunkan dari Tuhan Semesta Alam. (QS. 56:80)

Katinggian Al-Qur'an tidak pernah akan terpahami oleh manusia kecuali dengan mensucikan diri. Allah Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi, manusia tidak akan mengagungkan dan memuliakan Allah serta takut kepada Allah keculai bila telah memiliki ilmu, iman dan hati yang bersih

………………...Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. 35:28)

Ulama yang sebenarnya adalah sebagaimana yang Allah sampaikan, yaitu manusia yang berilmu, beriman dan berhati bersih, sehingga dapat tunduk patuh kepada Allah, sebab menyadari akan keMaha Tinggian dan ke Maha Bijaksanaan Allah pada segala ciptaanNya

Kesandung gunung dibulan Romadhon bisa saja terjadi pada umat Islam dihari ini, disebabkan banyaknya sumber-sumber kemaksiyatan yang tersebar luas dalam kehidupan jaman modern.

Umat Islam yang ingin mencapai kemulian yang tinggi dan selamat disisi Allah harus meninggalkan segala sesuatu yang membelenggu hatinya menuju kepada amal-amal yang menjadikan dirinya dekat dan dicintai Allah. Banyak karya-karya manusia dijaman ini yang sangat banyak yang harus ditinggalkan dan kemudian manusia bertekun kepada menghayati firman Allah.

Berapa juta lagu, film, cerita fiksi, gambar, animasi, karya imaginasi, yang telah dibuat manusia, dan mewarnai aqal pikiran dan perasaan kita. Bila waktu kita di dunia hanya menekuni itu semua, maka habislah waktu kita, dan tidak sempat untuk menekuni lezatnya firman-firman Allah. Padahal kehidupan dunia terbatas waktunya.

Maka Rasulullah SAW telah berwasiyat kepada kita agar kita dapat terjauh darinya sebagaimana nasehat beliau yang artinya

Barangsiapa tidak dapat meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta (waktu berpuasa) maka Allah tidak membutuhkan lapar dan hausnya. (HR. Bukhari)

Mungkin hasil yang diraih seorang shaum (yang berpuasa) hanya lapar dan haus, dan mungkin hasil yang dicapai seorang yang shalat malam (Qiyamul lail) hanyalah berjaga. (HR. Ahmad dan Al Hakim)

Semoga jiwa kita tersucikan dan meninggi, sehingga kecintaan kita pun akan tertuju pada segala sesuatu yang berkwalitas tinggi, sesuatu yang amat tinggi yang datangnya dari Allah Tuhan semesta Alam yang Maha Mulia dan Maha Tinggi.


6 komentar pada ““Kesandung Gunung” di bulan Ramadhan

  1. Allah pasti akan menguji hamba-hambanya yang beriman,dimana nantinya akan diketahui apakah imannya itu benar( shodiq ) atau bohong( khadzib ).Mudah2an dalam ramadhan ini kita dapat melewati ujian2 dan terbebas dari segala kemaksiatan…..sehingga tujuan puasa kita benar2 dapat diraih.

  2. di bulan romadhon ini sebaiknya kita melaksanakannya dengan penuh keikhlasan dan niat yang tulus sehingga apapun hambatan penghalangnya atau sandungan kerikili kerikil itu bisa kita hilangkan dari diri kita

  3. Biasanya yang ynadung itu memang kerikil. Seperti kata Hillary pendaki yg mencapai puncak Everest. Yg pl dia takuti bukan jurang, binatang buas, tebing yg curam tetapi sebutir pasir.

  4. aslm,”puasa merupakan ajang pembuktian diri kepada ALLAh ,seberapa tulus niat kita ,sbraba besar kita mampu mengendalikan dri kita,so mri kita luruskan niat kita untuk mencapai diri mjdi orang yang benar2x Taqwa”.Amin

  5. apapun aral yg menyandung kita di kawasan ramadhan ini,dgn tekad n semangat kesucian hati n kebersihan jiwa..untuk selalu lebih baik dan terus melesat dlm kebaikan,Allah akan menolong dg kuasaNYA..sehingga kebahagian saja yg selalu terasa walau dlm dalam dekapan ujian.

Beri Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.