Kepemimpinan akan BAIK jika pembantunya BAIK

[caption id="attachment_2953" align="alignleft" width="210" caption="Al Ustdz Drs. Ahmad Sukina"]Ust. Ahmad Sukina[/caption]

Suara Merdeka (26/11/2010). Beberapa menggu terakhir ini kita menyaksikan sandiwara mafia pajak yang melibatkan Gayus Tabunan. Satgas Anti Mafia Hukum yang dibentuk oleh Presiden SBY menjadi mandul karena tidak memiliki kewenangan melakukan penindakan.

Sedang lembaga yang berwenang dalam penegakkan hukum ternyata tidak berdaya menghadapi tipu muslihat Gayus dan komplotannya. Sangat tidak masuk akal kalau seorang narapidana yang baru beberapa bulan dijebloskan ke dalam rumah tahanan (rutan) bisa keluar masuk rutan sampai 68 kali.

Bahkan rutannyapun berada di kompleks Markas Komando Brimob pasukan elit kepolisian yang terkesan angker. Institusi kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman yang sedang menangani kasus Gayus menjadi tidak berdaya karena ulahnya. Meskipun 9 orang telah ditetapkan sebagai tersangka karena keluar masukya Gayus dari rutan, tetapi banyak pihak menilai langkah itu bukan merupakan solusi yang terbaik.

Aktor intelektualnya belum terendus, masih bebas melakukan tipu muslihat dimana-mana. Seandainya pembantu Presiden dalam bidang penegakkan hukum itu baik dalam arti tahan dari godaan suap dan korupsi, maka sandiwara itu tidak perlu terjadi. Yang menjadikan publik lebih heran lagi adalah dari mana Gayus mendapatkan uang ratusan juta rupiah untuk menyuap agar bisa keluar dari rutan. Sudah lebih dari seratus milyar kekayaan PNS Ditjen Pajak Golongan IIIB itu yang disita oleh negara. Dari mana lagi dia mendapatkan uang untuk menyuap?

Sungguh benarlah kalau Rasulllah saw pernah memberitakan bahwa kalau Allah menghendaki kepemimpinan seorang pemimpin itu baik maka dia akan diberi pembantu yang baik. Begitu pula sebaliknya kalau Allah menghendaki kepemimpinan seorang pemimpin itu buruk, maka dia akan diberi pembantu yang buruk. Artinya agar dikehendaki Allah kepemimpinannya menjadi baik, maka seorang pemimpin harus selektif memilih para pembantunya.

Di tangan para pembantunya inilah kebijakan yang digariskan dan program kerja yang direncanakan oleh seorang  pemimpin dilaksanakan. Peran mereka sangat besar terhadap keberhasilan dan kegagalan di lapangan. Maka kapasitas intelektual dan integritas moral para pembantu menjadi pertimbangan yang sangat penting bagi seorang pemimpin untuk memilih para pembantunya.

Seharusnya di kalangan umat Islam terlahir pemimpin-pemimpin yang baik karena adanya prinsip kabiirul-qaum khadiimuhum (pembesar suatu kaum adalah pelayan mereka). Seorang dipilih menjadi pemimpin untuk melayani masyarakat, bukan untuk mendapatkan fasilitas. Begitu pula para pembantu yang meminpin bidangnya masing-masing hendaknya memiliki sikap yang sama: Senang karena bisa melayani, bukan bangga karena dilayani.

Apalagi Rasulullah saw telah mengingatkan bahwa kita semua adalah pemimpin dan semua pemimpin akan dimintai pertanggung-jawabannya atas apa yang dia pimpin. Pertanggung-jawaban seorang pemimpin tidak hanya di depan rakyat yang bisa ditipu, tidak hanya di depan anggota DPR yang bisa disuap, tetapi tembus sampai akherat di hadapan Allah yang tidak bisa ditipu dan disuap, yang memiliki siksa yang kekal bagi pemimpin dan para pembantunya yang tidak memagang amanah.

Sayang sekali saat ini pemimpin seperti itu susah dicari di kalangan umat Islam, karena pada umumnya kualitas moral dan kapasitas intelektual umat Islam masih rendah. Maka diperlukan kerja lebih keras dalam dakwah untuk membangun umat agar berakhlak karimah. Di tengah umat yang berahlak karimah itulah diharapkan terlahir para pemmpin yang berakhlak karimah pula, insya Allah.

Al Ustadz Drs. Ahmad Sukina

Ketua Umum Majlis Tafsir Al Qur'an (MTA)


5 komentar pada “Kepemimpinan akan BAIK jika pembantunya BAIK

  1. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid.
    Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya.
    Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan….Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran

  2. Kalau dia seorang pemimpin yang baik, kenapa memilih pembantu yang baik saja tidak mampu! Kadang-kadang kita gelap mata alias ewuh-perkewuh untuk mengritik seseorang yang menjanjikan, mendukung dan memberikan bantuan kepada kita, meski orang tersebut sebenarnya pantas dan harus dikritik (diingatkan)

  3. Asalamualaikum…mudah mudahan para pemimpin yg suka kurupsi segera bertaubat karena tingkah lakunya tidak lepas dari pengawasan Allah s.a.w..ya Allah ingatkanlah para pemimpin pemimpin yg korop untuk segera bertaubat amiin..wasalam.

  4. Asww. Sungguh ironis orang-orang elit yang dijadikan figur pimpinan sebagian besar berasal dari umat muslim yang semestinya ahlaqul karimah, tentunya lebih tahu mana yang hak dan mana yang bathil. Tetapi kenyataan yang ada, kepemimpinannya tidak amanah, prilakunya tidak manusiawi dan kemakmuran yang katanya untuk wong cilik …. jauh panggang dari api. Korupsi menjadi-jadi, kemiskinan tak usah ditanya lagi. Rakyat miskin demi memperoleh sekerat daging kurban dan sesuap nasi mereka rela terinjak-injak, terkapar dan bahkan meregang nyawa,sungguh sangat menyedihkan.Ya Allah semoga kemiskinan yang menghimpit Bangsa dan Negara ini dapat segera teratasi. Amin.

Beri Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.