Kenapa Enggan ??

3orang

Galing, Ikal, dan Curli, serombongan pemuda yang sedang asyik berdiskusi lantas memasuki wilayah obrolan kelas tinggi, berdiskusi dengan bahasa ilmiah, dengan gaya masing-masing, dan dengan tingkat pemahaman masing-masing.

"Semalem aku ikutan MABIT lho. Ustadz yang ngisinya baguuuss...banget. Trus, pas sholat, saking khusyuknya jadi banyak yang nangis. Pokoknya khusyu' abis", dengan menggebu Curli menceritakan pengalaman pertamanya ikut malam pembinaan iman dan taqwa, gitu kira-kira singkatan MABIT.

"Curli, itu sih perasaanmu aja. Masa iya, kamu tahu kalau mereka yang pada nangis itu bener-bener karena khusyu'? karena paham dengan makna ayat yang dibaca? Itu kan Cuma efek dari ceramah ustadznya, trus ditambah cara baca yang melankolis", Galing mengomentari cerita Curli.

"Hati-hati pren! Jangan terburu-buru menilai orang! Apalagi menilai amalan orang! Emangnya....kita udah bisa jadi orang yang bener-bener ikhlas? Atau hanya karena iri karena tidak bisa lantas memojokkan seseorang?", Galing menyimak komentar Ikal.

***

Beribadah, hanya diri sendiri dan Allah yang tahu apakah ikhlas atau karena riya, apalagi 'ujub? Ibadah sendiri secara umum dapat dipahami sebagai wujud penghambaan diri seorang makhluk kepada Sang Khaliq. Penghambaan itu lebih didasari pada perasaan syukur atas semua nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah padanya serta untuk memperoleh keridhaanNya dengan menjalankan titahNya sebagai Rabbul 'Alamin.

Namun demikian, ada pula yang menjalankan ibadah hanya sebatas usaha untuk menggugurkan kewajiban, tidak lebih dari itu. Misalnya, saat ini banyak umat islam yang tidak berjamaah ke masjid kecuali shalat jum'at. Bahkan ada pula yang tidak sholat kecuali pada hari raya. Islmanya hanya ada di kartu identitas.

Secara umum, ulama membagi ibadah menjadi dua yakitu ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah adalah sebentuk ibadah yang telah ditentukan syarat dan rukunnya. Pelaksanaannya diperintahkan dalam Al'Qur'an, dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam, atau yang dilaksanakan sahabat dan dishahihkan oleh nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam. Kesemuanya itu dibahas secara detail dalam hadits-hadits, misalnya sholat, puasa, zakat, dan haji. Untuk amalan ibadah tersebut, kaidah ushul fiqh menggariskan asal semua bentuk ibadah adalah dilarang kecuali yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Ibadah ghairu mahdhah adalah yang syarat dan rukunnya tidak ditentukan secara mutlak. Tidak mutlak karena pelaksanaannya tidak terikat waktu, rukun (cara pelaksanaan), maupun kuantitasnya. Ada banyak sekali contoh amalan ibadah ghairu mahdhah. Termasuk dalam ibadah ghairu mahdhah adalah belajar. Belajar dasar ilmu agama adalah fardhu 'ain karena "Thalabul 'ilmi faridhatun 'ala kuli muslim, menuntut ilmu adalah sesuatu yang fardhu bagi setiap muslim." [Hadits hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Al-Baihaqi). Namun dalam batasan tertentu tidak semua muslim diwajibkan mempelajarinya. Misal ilmu tentang retorika atau balaghah, sebab tidak semua orang diberi kepiawaian untuk berdiskusi, berdebat, adu argumentasi, atau yang sejenisnya. Tentang mempelajari spesialisasi ilmu ini termasuk fardhu kifayah karena terkait dengan tingkat kemampuan pribadi individu.

Shadaqah, termasuk yang ghairu mahdhah karena besarannya tidak ditentukan, berbeda dengan zakat yang sudah jelas ketentuannya. Shadaqah menjadi bukti syukur seorang mukmin. Besar dan ikhlasnya yang disadaqahkan merupakan manifestasi tingkat ketaqwaannya.

Akhlaqul Karimah juga merupakan salah satu poin dalam ibadah ghairu mahdhah. Senyum yang tersungging saat bertemu saudara muslim saja berpahala. Senyum kalian bagi saudaranya adalah sedekah, beramar ma'ruf dan nahi mungkar yang kalian lakukan untuk saudaranya adalah sedekah, dan kalian menunjukkan jalan bagi seseorang yang tersesat adalah sedekah. (Hadis Riwayat At Tirmizi dan Abu Dzar).

Pun ketika bermuamalah dengan Ihsan, tidak menyakiti orang lain (lahir maupun batin), tidak mengurangi takaran, tidak menipu harga adalah beberapa contoh perilaku surgawi yang tergantung orangnya apakah ingin mendapat pahala dari sikap-sikap itu. Amalan-amalan ini lebih terkait dengan hati. Seorang yang masih mengukur dengan parameter duniawi tentu akan sulit bermuamalah secara islami.

Masih tentang menuntu ilmu. Allah dan Rasulullah SAW mendudukkan para penuntut ilmu pada maqom tersendiri, eksklusif. Man kharaja fii thalabil 'ilmi fahuwa fii sabiilillahi hatta yarji'a,
Barang siapa keluar untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali. (Hasan, HR. Tirmidzi, 2647, Ibnu Majah, 227). Dan dalam Al Quran, "Allah akan mengangkat kedudukan orang-orang yang beriman dan diberikan ilmu di antara kalian beberapa derajat. Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan." (QS. Al Mujadilah [58]: 11). Sungguh, orang yang belajar dan mau belajar adalah orang yang dirahmati oleh Allah. Masih banyak lagi ayat Al Quran maupun hadits yang menyinggung keutamaan mencari ilmu, belajar.

***

Pembicaraan Galing, Ikal, dan Curli pun tidak luput dari soal menuntut ilmu.

Dengan gayanya yang sok, Galing mengomentari Curli,"Udahlah Curli, belajar tu gak usah banyak-banyak! Ntar kayak keledai yang menggendong banyak kitab tapi dia sendiri gak ngerti. Ini ayat di Al- Quran lho!"

"Benarkah?" Curli menyahut Galing yang kokolot begog kata orang sunda.

"Gini....yang bener itu belajar trus diamalkan semaksimalnya. Gitu....! Jangan seprti pohon yang tak berbuah karena ilmu tak diamalkan!" Dengan mantab Galing memojokkan Curli.

Kondisi memanas karena Galing yang sok tahu selalu memojokkan Curli yang sedang semangat-semangatnya mendalami agama Islam. Melihat kondisi ini Ikal menangkap ada yang tidak beres. Dia pun angkat suara,"Galing, kalau mau ngajarin orang itu harus proporsional. Gak hanya pake sudut pandangmu aja. Ga mungkin samalah kaca matamu dengan kaca mata Curli".

"Tapi Ikal....?", pembicaraan Galing dipotong karena tersirat aura tidak terima disalahkan.

"Sebentar Galing, aku belum selesai ngomong", Ikal melanjutkan,"Kamu gak salah. Kamu juga inget toh? Iman seorang mulim itu adakalanya naik, pun juga turun. Kalo kondisinya kayak gini, dan kamu berpegang teguh dengan prinsip kamu yang penting ilmu yang sudah ada ini diamalkan, tanpa ada keinginan untuk menambah ilmu agar amalan juga bertambah, jangan-jangan kamu termasuk orang yang sudah puas lantas, merasa cukup, lantas tidak mau beramal yang lain", Ikal mencoba sebijaksana mungkin menyampaikan.

***

Galing dan Curli tidak salah. Galing berusaha mengamalkan apa yang sudah dipelajarinya. Jika dia menambah ilmu yang baru, ada kekhawatiran tidak mengamalkannya. Sementara Curli, dia berpikir semakin banyak ilmu maka semakin banyak peluang untuk menambah amalan. Sedangkan Ikal, mencoba menjembatani dua pendapat yang tampaknya saling menyerang.

Siapakah diri kita? Curli, Galing, ataukah Ikal? Menjadi seperti apakah kita bergantung pada diri kita dan mau kemana kita melangkah. Sebuah hadits memberi klu,

الَ رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَﻗ
اأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَإِنَّ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الْ

(صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah saw :
"Sungguh sebaik baik ucapan adalah Kitabullah, dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad saw, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang baru" (Shahih Bukhari)

Perkara baru yang buruk yang dibahas di atas adalah dalam masalah ibadah, biasa disebut bid'ah. Sebaik-baik petunjuk yang dicontohkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentu dalam semua sendi kehidupan. Tidak terlepas dalam ghirah untuk menuntut ilmu.

Belajar, diulang, lantas diamalkan bagus dan cukup untuk diri sendiri. Namun jika kita melangkah lebih jauh dan membuka mata lebih luas, diperlukan ilmu lagi agar apa yang kita sampaikan itu bermanfaat untuk kesalehan umat. Bayangkan! Berbekal ilmu seadanya Ikal bertemu dengan orang kritis. Ujung-ujungnya Ikal akan menjawab pokoke atau begitu pelajaran dari guruku. Padahal di sekitar kita banyak terdapat orang kritis yang ingin mendalami ilmu agama. Bukan untuk menjadi seperti Bani Israil yang menanyakan detail sapi untuk di kurbankan tetapi untuk benar-benar menghayati apa makna di setiap amalan. Jangan sampai hanya amalan lahir tanpa disertai kedalaman jiwa. Dalam kasus ini, diperlukan ilmu komunikasi agar penjelasan kita efektif dan tidak salah arah.

Belum lagi kalau kita ketemu orang kafir yang ingin belajar Islam atau ingin menyudutkan Islam. Dengan ilmu seadanya sudah barang tentu justru si kafir itu akan memojokkan kita,"orang Islam aja gitu, gimana mau dakwah?".  Belum lagi kalau entah kapan ketemu dengan misionaris, kebodohan kita tidak bisa menjelaskan Islam secara sistematis dan ilmiah akan menjatuhkan kehormatan orang Islam, bukan Islam sebagai ajaran agama. "Makanya, jangan salahkan kami kalau banyak saudara kalian yang tertipu mengikuti ajaran Kristen. Kalian aja gak bisa mengajak orang lain beramal?", begitu kira-kira komentar sang misionaris.

Betapapun kondisinya, mari kita senantiasa meluangkan waktu untuk menambah ilmu. Bukan untuk sok-sokan, bukan untuk wah-wahan. Tapi semata-mata untuk kelancaran dakwah Islam di penjuru bumi ini. Ingat! Kebenaran tidak cukup disampaikan tapi juga harus dengan metode yang benar.

Lantas, masihkah kita enggan menambah ilmu untuk bekal dakwah?

Wallahu a'lam bishshawab.

abbaz.sukarno

MTA Tangerang


4 komentar pada “Kenapa Enggan ??

  1. Ketahuilah, smoga Alloh merahmati kamu, bahwasanya diwajibkan atas kita semua untuk mempelajari 4 Perkara :
    1. berilmu
    2. beramal dengan ilmu tersebut
    3. berdakwah kepadanya
    4. bersabar diatas rintangannya
    Dalil QS. Al ASHR
    semua telah disusun berurrutan, berilmu, beramal, berdakwah, dan bersabar, dan tidak boleh diacak. Tidak boleh kita beramal tanpa tahu ilmunya terlebih dahulu, apalagi langsung berdakwah. Jadi, berilmu yang benar, diamalkan, baru di dakwahkan, dan bersabar jika mereka merintangi dakwah kita
    Barakallhufihum

  2. Sungguh besar manfaat dari belajar itu. inilah pikiran yang kritis yang perlu dikembangkan. karena tidak semua orang berpikir sedalam itu tentang belajar. kebenyakan deri mereka belajar itu untuk diri sendiri, soal oralng lain urusannya belakangan. tapi tulisan mas Abbas ini dapat menggugah banyak orang untuk selalu berusaha untuk belajar.
    ayo belajar….!!!

  3. insya allah bila kita selalu masuk islam secara maksimal kita akan dapat merasakan nikmat dan indahnya iman…disamping BUAH IBADAH itu sendiri mewarnai keseharian kita.salam kenal kang abbaz

  4. Terima kasih Mas Karno atas ajakan dan himbauannya untuk kita selalu belajar dan belajar tentang ilmu agama untuk bekal kita ke akhirat nantinya dan belajar ilmu umum untuk kita menghadapi kehidupan di dunia yang fana ini.

Beri Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.