Jangan Terlalu Cepat Untuk Segera Terjun Bebas Dari Puncak Ketinggian TAQWA

" height="125" />Segala puji hanya bagi Allah, Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, Sahabat dan seluruh pengikutnya yang selalu mengikuti jalan petunjuk-Nya. Amien

Pernahkan anda melihat seseorang bermain layang gantung (Gatole) atau juga orang-orang yang bermain sky es. Dengan susah payah mereka membawa segala peralatan untuk mendaki ke tempat-tempat yang tinggi, namun setelah mereka mencapai tempat yang tinggi segera kemudian bersukaria mereka terjun melayang layang di udara untuk menuju lembah-lembah dibawahnya.

Demikian pula mereka para pemain sky, dengan susah payah mereka mendaki pegunungan es, dan setelah mencapai ketinggian, kemudian mereka meluncur menuju ke lembah-lembah dibawahnya, meluncur dengan keriangan yang luar biasa. Walaupun untuk dua olah raga ini di zaman ini sudah dilengkapi dengan kereta-kereta gantung, sehingga mereka sudah tidak lagi susah-susah mendaki, cukup mereka naik melewati kereta gantung menuju tempat peluncuran tertinggi dan kemudian mereka meluncur ke lembah-lembah yang lebih rendah dengan penuh keriangan dan kesenangan.

Segala puji bagi Allah, Puasa Romadhon adalah salah satu sarana meningkatkan ketaqwaan, menuju jalan naik, menuju kedekatan kepada Allah Tuhan Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia. Sebagaimana firmannya yang artinya

.

Seorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi, (QS. 70:1)

Untuk orang-orang kafir, yang tidak seorangpun dapat menolaknya, (QS. 70:2)

(Yang datang) dari Allah, Yang mempunyai tempat-tempat naik. (QS. 70:3)

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun. (QS. 70:4)

.

Zaman modern, zaman penuh dengan godaan dan ujian iman. Zaman yang begitu licin, segala ibadah yang dikehendaki oleh Allah untuk meningkatkan ketaqwaan manusia, namun banyak yang gagal mencapai peningkatan, atau ada juga yang meningkat namun peningkatannya hanya sedikit. Karena derasnya godaan dan fitnah-fitnah dunia di zaman ini.

Bila dilihat dengan besarnya curahan nikmat yang Allah berikan kepada manusia, sesungguhnya Allah telah terus menerus mencurahkan Rahmatnya kepada manusia, agar manusia lebih mencintai jalan-jalan keimanan dan ketaqwaan dibanding jalan-jalan syaitan. Bagaimana Ibadah puasa, larangan untuk makan, minum dan bersetubuh di siang hari, meninggalkan segala kekotoran indra dan kekotoran hati, untuk dibawa meningkat menuju kepada kebersihan dan kemuliaan hati dan kemudian tenteram didalam jalan utama, yaitu untuk selalu terang dalam melihat tanda-tanda keagungan Allah dan untuk selalu bertasbih mengagungkan-Nya.

Bila seseorang telah berhasil mendapat peningkatan keimanan dan ketaqwaan maka akan terasakan lezatnya menjadi manusia yang dapat melihat tanda-tanda keagungan Allah, dan hati mulai memiliki kemampuan untuk berpendirian. Pendirian untuk cinta menjalankan segala perintah Allah dan cinta untuk meninggalkan larangan Allah. Begitu kuatnya bukti-bukti iman di hati walaupun Allah tidak akan dapat dilihat dengan mata kepala.

Banyak manusia yang menyangsikan keberadaan Allah dan menyangsikan bimbingan Allah yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Nabi Ibrahim dan Nabi Musa pun memohon kepada Allah untuk mendapatkan bukti-bukti yang dapat di indera, sebagaimana firman-Nya yang artinya

.

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata:"Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang mati," Allah berfirman:"Apakah kamu belum percaya" Ibrahim menjawab:"Saya telah percaya, akan tetapi agar bertambah tetap hati saya". Allah berfirman:"(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu jinakkanlah burung-burung itu kepadamu, kemudian letakkanlah tiap-tiap seekor daripadanya atas tiap-tiap bukit. Sesudah itu panggillah dia, niscaya dia akan datang kepada kamu dengan segera". Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 2:260)

.

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung kepadanya), berkatalah Musa:"Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman:"Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata:"Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang pertama-tama beriman". (QS. 7:143)

.

Tidak ada yang dapat menolak keraguan dan meneguhkan keimanan manusia dalam zaman modern sekarang ini kecuali dengan tetap berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, dengan mempelajarinya, menghayatinya, mengamalkannya dan terus menerus tekun di dalam pengamalan itu. Tekun menjalankan perintah Allah dan Tekun meninggalkan larangan Allah.

Pelestarian suasana bulan Romadhon yang penuh dengan teguhnya pendirian untuk mewujudkan keimanan dan ketaqwaan perlu terus dipupuk di luar bulan Romadhon dengan puasa-puasa sunnah yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW, antara lian seperti puasa 6 hari di bulan syawal, puasa senin kamis, puasa 3 hari di tengah-tengah bulan qomariah, puasa Daud, atau sehari puasa dua hari berbuka, puasa tanggal 9 dan 10 Muharam, puasa hari Arafah. Yang bila diamalkan dengan niat yang benar maka akan dapat menjaga keteguhan ketaqwaan yang telah digapai di bulan Romadhon.

Dengan melazimi amal-amal sunnah, Agama sebagai jalan terang kehidupan akan semakin kokoh merasuk kedalam hati dan semakin terasa sebagai sesuatu kebutuhan yang terus menerus agar tetap terus menerus merasakan nikmatnya curahan Rahmat Allah di sepanjang kehidupan.

Generasi muda perlu semakin waspada, jangan sampai tanggal satu syawal 1433 H sebagai puncak pencapaian pendakian menuju tingginya keimanan dan ketaqwaan, dan kemudian sekaligus kemudian menjadi tempat awal meluncur, meluncur menurun menuju lembah-lembah kerendahan dengan tanpa rem dan kendali.

Bulan Romadhon 1433 yang akan segera berlalu , sebelum berakhir, marilah kita berazam agar nikmatnya curahan Rahmat Allah yang immaterial, yang kita rasakan dengan sesungguhnya bertiup ke dalam batin-batin kita dengan penuh ketenangan, ketenteraman, kesejukan, kebahagiaan, kenikmatan, dapat kita pertahankan di bulan-bulan di luar bulan Romadhon

Dan tidak ada kekuatan untuk memegang azam kita itu, kecuali dengan mengikuti jalan-jalan yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW. Dan jalan itu tiada lain adalah menelusuri kembali kebiasaan hidup Rasulullah Muhammad SAW selama 23 th, 2 bulan, 22 hari yang padat dengan bimbingan Malaikat Jibril untuk selalu mengkaji Al-Qur’an dan mengamalkannya sekaligus mendakwahkan kepada seluruh umat manusia.

Jalan demikianlah yang akan dapat melestarikan dan menyuburkan iman yang telah kita gapai di bulan Romadhon Tahun ini. Mari kita bersegera berbondong-bondong menuju majlis-majlis pengajian Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dilakukan dengan rutin, disiplin dan tertib, mari berbondong-bondong segera mengaji ke Majlis Tafsir Al-Qur’an . Wallahu a’lam